Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
07 January 2026 18:25
Jakarta, CNBC Indonesia - Venezuela masih menghadapi tantangan kenaikan harga bahan pokok yang cukup tinggi pada 2025. Kondisi ini terjadi di tengah tekanan politik dan ekonomi domestik yang semakin kompleks, setelah Amerika Serikat (AS) melancarkan serangan militer pada Sabtu (3/1/2025) yang berujung pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro.
Peristiwa tersebut menambah ketidakpastian politik sekaligus memperburuk tekanan terhadap perekonomian dalam negeri Venezuela, yang selama beberapa tahun terakhir telah mengalami gejolak ekonomi berkepanjangan, depresiasi mata uang, serta penurunan daya beli masyarakat.
Venezuela sendiri selama beberapa dekade terakhir telah bergulat dengan laju inflasi yang sangat tinggi hingga masuk dalam kategori hiperinflasi.
IMF memperkirakan inflasi tahunan Venezuela berada di kisaran 270% pada 2025 dan berpotensi meningkat hingga lebih dari 600% pada 2026, mencerminkan bahwa tekanan harga masih menjadi risiko utama bagi stabilitas ekonomi negara tersebut.
Meski demikian, tingkat inflasi saat ini sejatinya sudah menunjukkan perbaikan dibandingkan periode puncak hiperinflasi sebelumnya.
Tekanan kenaikan harga mulai menguat sejak 2015 ketika inflasi menembus tiga digit atau sebesar 121,7% yoy, kemudian berakselerasi tajam pada tahun-tahun berikutnya. Inflasi tahunan 2016 tercatat mencapai 254,9% yoy, meningkat lagi menjadi 438,1% yoy pada 2017 dan mencapai puncak pada 2018 saat inflasi melesat hingga 65.374%.
Depresiasi bolivar, meningkatnya permintaan mata uang asing sebagai lindung nilai, serta terbatasnya publikasi data resmi inflasi membuat tekanan harga kembali terasa nyata di tingkat konsumsi rumah tangga.
Dengan demikian, meskipun inflasi agregat sempat melandai, tekanan harga pada barang kebutuhan dasar masih memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan masyarakat.
Gula, Kopi, & Daging Sapi Naik 360%
Berdasarkan laporan pemantauan harga yang diterbitkan oleh CEDICE Observatorio de Gasto Publico, yang melakukan survei berkala terhadap pergerakan harga kebutuhan pokok di Venezuela pada periode Mei 2024 hingga Mei 2025, tercatat bahwa kenaikan harga tahunan terbesar pada 2025 terjadi pada kelompok pangan dasar, terutama gula, kopi, dan daging sapi.
Kenaikan pada gula ini menggambarkan tekanan kuat pada salah satu komoditas yang sangat dekat dengan konsumsi rumah tangga sehari-hari.
Di urutan kedua, kopi juga mengalami lonjakan harga yang sangat signifikan. Pada Mei 2024, harga kopi berada di kisaran 397 Bs atau sekitar Rp21.359, kemudian melonjak drastis menjadi 1.850 Bs pada Mei 2025 atau setara kurang lebih Rp99.530, sehingga mencatat kenaikan sekitar 366% yoy.
Mengingat kopi merupakan bagian dari kultur konsumsi masyarakat di Venezuela, kenaikan harga pada komoditas ini semakin memperbesar beban pengeluaran rumah tangga.
Produk ketiga dengan kenaikan tertinggi adalah daging sapi, yang menjadi salah satu sumber protein utama.
Harga daging sapi naik dari 333 Bs pada Mei 2024 atau sekitar Rp17.915 menjadi 1.536 Bs pada Mei 2025 atau setara kurang lebih Rp82.637, sehingga meningkat sekitar 361% yoy.
Selain pangan, tekanan inflasi pada 2025 juga menjalar ke kebutuhan rumah tangga sehari-hari, mulai dari pasta gigi, tisu toilet, hingga sampo.
Pasta gigi menjadi salah satu komoditas yang mencatat kenaikan cukup mencolok. Harganya naik dari 113 Bs pada Mei 2024 atau sekitar Rp6.079 menjadi 386 Bs pada Mei 2025 atau sekitar Rp20.785, setara kenaikan sekitar 241% yoy.
Tekanan harga serupa juga terjadi pada tisu toilet yang mengalami kenaikan sekitar 241% yoy. Produk ini selama ini termasuk kebutuhan sanitasi dasar rumah tangga, sehingga kenaikan harganya terasa langsung pada pengeluaran bulanan.
Sementara itu, sampo turut mengalami kenaikan harga yang signifikan. Pada Mei 2024, harga sampo masih sekitar Rp13.837, kemudian meningkat menjadi Rp44.789, atau naik sekitar 223% yoy.
Lonjakan harga tersebut menunjukkan bahwa tekanan inflasi di Venezuela tidak hanya terjadi pada bahan pangan, tetapi juga merambat ke produk kebutuhan dasar yang penggunaannya rutin dan relatif sulit dikurangi oleh rumah tangga.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)








:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)







