Ini 5 Erupsi Gunung Api yang Bikin Dunia Penerbangan Rugi Besar

7 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

08 September 2026 14:40

Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi Gunung Anak Krakatau mengganggu aktivitas penerbangan di sejumlah wilayah Indonesia. Bencana ini juga mendatangkan banyak kerugian, terutama di sektor penerbangan.

Abu vulkanik yang menyebar ke jalur penerbangan dan kawasan bandara membuat delapan bandara sempat menghentikan operasionalnya.

Bandara yang terdampak mencakup Soekarno-Hatta, Halim Perdanakusuma, Radin Inten II, Husein Sastranegara, Budiarto, Pondok Cabe, Taufik Kiemas, dan Atung Bungsu.

Gangguan tersebut berdampak terhadap 2.961 penerbangan yang mengalami penundaan, pengalihan, atau pembatalan. Sekitar 341.000 penumpang ikut terdampak.

Sejumlah bandara, termasuk Soekarno-Hatta, kemudian kembali beroperasi pada Selasa (8/9/2026). Namun, maskapai masih membutuhkan waktu untuk memeriksa pesawat yang sempat tidak beroperasi selama penutupan.

Penumpang yang terdampar mengantri di area layanan pelanggan Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah bandara ditutup operasinya akibat letusan Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Indonesia, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar UlfianaPenumpang yang terdampar mengantri di area layanan pelanggan Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah bandara ditutup operasinya akibat letusan Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Indonesia, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana Foto: Penumpang yang terdampar mengantri di area layanan pelanggan Bandara Internasional Soekarno-Hatta setelah bandara ditutup operasinya akibat letusan Gunung Anak Krakatau, di Tangerang, Banten, Indonesia, 7/9/2026. REUTERS/Ajeng Dinar Ulfiana

Sebanyak 178 pesawat di Soekarno-Hatta harus menjalani pemeriksaan untuk memastikan pesawat tetap layak terbang setelah kemungkinan terpapar abu vulkanik.

Maskapai Berpotensi Rugi Miliaran per Hari

Indonesia National Air Carriers Association (INACA) memperkirakan maskapai berpotensi mengalami kerugian hingga Rp19 miliar per hari akibat gangguan abu vulkanik Anak Krakatau.

Sekretaris Jenderal INACA Bayu Sutanto mengatakan maskapai dapat kehilangan hingga Rp19 miliar per hari selama gangguan tersebut, seperti dikutip Reuters, Selasa (8/9/2026).

Kerugian tersebut berasal dari pendapatan yang hilang akibat pembatalan penerbangan dan kenaikan biaya operasional. Maskapai harus menanggung tambahan bahan bakar untuk pengalihan rute, biaya parkir pesawat, kru, serta layanan bagi penumpang terdampak.

Gangguan juga dapat merambat ke jadwal berikutnya. Menurut Bayu, keterlambatan satu pesawat di Soekarno-Hatta dapat memengaruhi tiga hingga empat penerbangan selanjutnya.

Gangguan penerbangan akibat erupsi gunung api juga pernah terjadi di berbagai negara.

Nilai kerugiannya tidak selalu dihitung dengan metode yang sama. Sebagian berupa pendapatan yang hilang, sedangkan lainnya mencakup biaya operasional dan kerusakan pesawat.

Berikut lima peristiwa erupsi gunung api yang tercatat menimbulkan kerugian besar bagi dunia penerbangan.

1. Eyjafjallajökull, Islandia

Erupsi Gunung Eyjafjallajökull di Islandia pada April 2010 menjadi salah satu gangguan terbesar yang pernah dialami industri penerbangan global akibat abu vulkanik.

Abu dari erupsi tersebut terbawa angin menuju wilayah utara dan tengah Eropa. Pemerintah di sejumlah negara kemudian menutup ruang udara karena khawatir abu merusak mesin pesawat.

Lebih dari 300 bandara di 23 negara terdampak. Sekitar 100.000 penerbangan dibatalkan dan perjalanan sekitar 10 juta penumpang terganggu.

Pada puncak gangguan, sekitar 19.000 penerbangan dibatalkan setiap hari. Kapasitas penerbangan yang dihentikan saat itu setara hampir 30% dari kapasitas penerbangan penumpang terjadwal dunia.

International Air Transport Association (IATA) memperkirakan maskapai kehilangan pendapatan US$1,7 miliar selama enam hari. Dengan asumsi kurs Rp17.630/US$, nilainya setara sekitar Rp29,97 triliun.

Pada periode terburuk, pendapatan maskapai yang hilang mencapai US$400 juta atau sekitar Rp7,05 triliun per hari.

Pengelola bandara juga diperkirakan kehilangan US$400 juta, sedangkan penyedia layanan navigasi penerbangan kehilangan sekitar US$200 juta. Secara keseluruhan, kerugian langsung sektor penerbangan mencapai sekitar US$2,3 miliar atau Rp40,55 triliun.

2. Pinatubo, Filipina

Gunung Pinatubo di Filipina meletus pada Juni 1991. Erupsi tersebut menyemburkan abu hingga ketinggian lebih dari 40 kilometer dan menjadi salah satu erupsi terbesar pada abad ke-20.

Abu Pinatubo menyebar ke berbagai jalur penerbangan internasional. Sedikitnya 16 pesawat yang sedang mengudara masuk ke kawasan yang terpapar abu dan mengalami kerusakan.

United States Geological Survey (USGS) memperkirakan kerusakan pesawat mencapai US$100 juta. Dengan kurs Rp17.630/US$, nilainya setara sekitar Rp1,76 triliun.

Kerugian tersebut terutama berasal dari kerusakan mesin dan komponen pesawat. Nilainya belum memasukkan biaya pengalihan maupun pembatalan penerbangan untuk menghindari sebaran abu.

3. Redoubt, Alaska

Erupsi Gunung Redoubt di Alaska pada Desember 1989 mengganggu penerbangan komersial dan militer di sekitar Anchorage.

Peristiwa paling serius dialami KLM Penerbangan 867 pada 15 Desember 1989. Boeing 747-400 tersebut masuk ke dalam awan abu ketika sedang menuju Bandara Anchorage.

Keempat mesin pesawat sempat mati. Pesawat kemudian kehilangan ketinggian dari sekitar 27.900 kaki menjadi 13.300 kaki dalam waktu lima menit.

Pilot berhasil menyalakan kembali mesin dan mendaratkan pesawat dengan selamat. Namun, mesin, sistem elektronik, dan badan pesawat mengalami kerusakan dengan biaya perbaikan diperkirakan mencapai US$80 juta atau sekitar Rp1,41 triliun.

Empat pesawat komersial lainnya juga mengalami kerusakan akibat abu Redoubt. Aktivitas maskapai di Anchorage sempat dihentikan selama beberapa hari meskipun bandaranya tetap dibuka.

Bandara Anchorage diperkirakan kehilangan pendapatan US$2,6 juta selama beberapa bulan setelah erupsi.

4. Puyehue-Cordón Caullé, Chile

Erupsi Puyehue-Cordón Caullé di Chile pada Juni 2011 menyebarkan abu hingga wilayah Australia dan Selandia Baru.

Jarak yang sangat jauh tidak menghentikan gangguan tersebut. Awan abu dilaporkan mengelilingi bumi sebanyak dua kali dan mengganggu sejumlah jalur penerbangan selama beberapa hari.

Berdasarkan laporan Australian Institute for Disaster Resilience, lebih dari 2.000 penerbangan Qantas Group dibatalkan dan ratusan ribu penumpang terdampak.

Qantas mencatat kerugian A$49 juta akibat gangguan abu vulkanik tersebut. Sementara itu, Virgin Australia memperkirakan dampaknya terhadap perusahaan mencapai A$7 juta.

Dengan demikian, kerugian yang tercatat dari kedua grup maskapai tersebut mencapai sedikitnya A$56 juta. Angka ini belum mencakup dampak terhadap maskapai lain dan pengelola bandara di Amerika Selatan, Australia, serta Selandia Baru.

5. Gunung Agung

Erupsi Gunung Agung pada November 2017 mengganggu penerbangan menuju Bali dan sejumlah wilayah di sekitarnya.

Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai sempat ditutup selama sekitar dua hari. Ratusan penerbangan dibatalkan dan puluhan ribu penumpang tertahan.

Melansir dari Reuters, terdapat 42 maskapai yang melayani penerbangan menuju Bali ketika gangguan terjadi.

Penampakan Erupsi Gunung Agung Bali. (Ist)Penampakan Erupsi Gunung Agung Bali. (Ist) Foto: Penampakan Erupsi Gunung Agung Bali. (Ist)

CEO perusahaan riset transportasi Crucial Perspective, Corrine Png, memperkirakan penutupan Bandara Ngurah Rai membuat maskapai kehilangan pendapatan gabungan sekitar US$5 juta per hari atau setara Rp88,15 miliar dengan asumsi kurs Rp17.630/US$.

Jika dihitung selama dua hari, pendapatan penerbangan yang hilang diperkirakan mencapai US$10 juta atau sekitar Rp176,3 miliar.

Angka tersebut belum memasukkan biaya perubahan jadwal, pengalihan penerbangan, layanan penumpang, dan penurunan pemesanan tiket menuju Bali setelah erupsi.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |