Jakarta, CNBC Indonesia - Kapal tanker minyak Iran Humanity mematikan sistem identifikasi otomatis (AIS) saat melintas di kawasan Outer Port Limits (EOPL) Malaysia di Laut China Selatan pada Sabtu pekan lalu. Langkah ini diduga kuat dilakukan untuk mempersiapkan pengalihan kargo minyak mentah melalui transfer antar-kapal (ship-to-ship transfer) ke pihak perantara sebelum dikirim ke China.
Mengutip laporan Al Jazeera, Kamis (30/7/2026), aktivitas perdagangan minyak Iran di kawasan perairan EOPL Malaysia seluas 1.200 kilometer persegi tersebut tetap berlangsung padat. Penjualan ini terus berjalan meskipun perang antara Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran telah berlangsung selama lima bulan dan blokade angkatan laut AS terhadap pelabuhan Iran kembali dilanjutkan sejak 14 Juli lalu.
"Data satelit mencatat sejak awal tahun ini terdapat 62 kapal yang memancarkan identitas palsu atau tidak aktif saat bergerak di antara Teluk, EOPL, Hong Kong, hingga ke China utara. Kapal-kapal ini menjadi bagian dari jaringan perantara yang memfasilitasi penjualan minyak Iran ke kilang independen di China," terang Direktur Proyek Pemantauan Keamanan Maritim SeaLight Stanford University, Ray Powell.
Kilang-kilang minyak independen skala kecil di China-yang dikenal sebagai kilang teapot-menjadi pembeli utama minyak Iran berdiskon tersebut. Berbeda dengan BUMN energi raksasa China seperti CNPC, Sinopec, dan CNOOC, kilang teapot relatif tidak terpapar oleh sistem keuangan AS sehingga lebih berani mengambil risiko sanksi.
Dinamika Perairan EOPL Malaysia dan Pengetatan Hukum
Kawasan EOPL Malaysia menawarkan keuntungan berupa perairan yang tenang dan berjarak sekitar 70 km dari pantai, sehingga secara historis menjadi area abu-abu hukum. Meskipun berada di luar laut teritorial Malaysia, kawasan ini masuk dalam Zona Ekonomi Eksklusif (ZEE) yang sulit dipatroli akibat keterbatasan akses dan celah yurisdiksi.
Pakar keamanan maritim dari YCAPS, Charlie Brown, menyebutkan bahwa pada hari biasa bisa terdapat hingga 200 kapal yang berlabuh di area EOPL. Sekitar separuh dari total kapal yang lego jangkar di kawasan tersebut diperkirakan memiliki keterkaitan langsung dengan jaringan perdagangan minyak Iran.
"Sebelum perang hingga di seluruh fase konflik saat ini, kapal-kapal di luar sana tetap berlabuh dan melangsungkan berbagai operasi transfer antar-kapal. Sanksi tidak pernah menghentikan perdagangan ini, satu-satunya hal yang secara fisik menghentikan aliran minyak adalah blokade militer," jelas Pakar Keamanan Maritim YCAPS, Charlie Brown.
Menanggapi maraknya aktivitas ilegal tersebut, Pemerintah Malaysia pada Juni lalu telah mengamandemen Undang-Undang ZEE untuk menindak tegas lego jangkar ilegal, pengisian bahan bakar (bunkering), dan transfer kargo tanpa izin. Kendati demikian, data satelit pada Kamis memperlihatkan sedikitnya 18 kapal tanker berbendera Iran dan 50 kapal yang dijatuhi sanksi AS/Uni Eropa masih beroperasi di EOPL.
Mekanisme Pembayaran Renminbi dan Sanksi AS
Penjualan minyak Iran ke kilang China difasilitasi oleh Sistem Pembayaran Antarbank Lintas Batas (CIPS) milik China yang memungkinkan transaksi menggunakan mata uang yuan di luar jaringan SWIFT yang dipantau AS. Data bea cukai memperlihatkan Iran mengekspor sekitar 1,4 juta barel per hari ke China tahun lalu, meskipun laporan resmi bea cukai China menyamarkannya sebagai impor dari Malaysia.
Kementerian Luar Negeri China secara konsisten menegaskan penolakannya terhadap sanksi sepihak AS dan penggunaan yurisdiksi ekstrateritorial yang dinilai menyalahi hukum internasional. Pemerintah China bahkan memblokir sanksi Departemen Keuangan AS terhadap lima kilang teapot pada akhir April lalu guna melindungi pelaku usaha domestiknya.
"Tahun lalu Iran mengekspor sekitar 1,4 juta barel per hari ke China, namun bea cukai China tidak melaporkan impor minyak dari Iran. Pada saat yang sama, data melaporkan impor China dari Malaysia melonjak jauh melebihi kapasitas produksi minyak Malaysia sendiri," ungkap Peneliti Senior Center on Global Energy Policy Columbia University, Erica Downs.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent menyatakan bahwa pembelian minyak mentah Iran oleh kilang-kilang China sebenarnya telah turun sekitar 40% sejak perang meletus. Meski demikian, keberadaan jaringan pasar gelap di EOPL Malaysia terbukti berhasil menjaga sisa aliran ekspor minyak Iran tetap berjalan ke pasar internasional.
(tps/sef)
[Gambas:Video CNBC]




































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5484120/original/030378900_1769413889-20260126AA_Konferensi_Pers_AFC_Futsal-06.JPG)











:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497017/original/075690000_1770613061-jay.jpg)