Kaget Lihat Pabrik EV China, Bos Honda: "Kami Tak Punya Peluang"

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - CEO Honda Toshihiro Mibe mengunjungi sebuah pabrik kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di China pada Februari lalu. Setelah kunjungan ini, bos perusahaan otomotif Jepang tersebut merasa pesimis dan khawatir terkait persaingan industri otomotif global, khususnya EV.

Laporan SlashGear menyebutkan, fasilitas tersebut menunjukkan tingkat otomatisasi dan efisiensi yang jauh melampaui ekspektasi, hingga membuat Mibe pesimistis terhadap kemampuan Honda mengejar ketertinggalan.

Seperti produsen mobil besar lainnya, Honda terpaksa melakukan perubahan strategi secara cepat pada pertengahan 2025, menyusul perubahan kebijakan mendadak di Amerika Serikat yang menghapus insentif pajak kendaraan listrik yang telah lama berlaku.

Dampaknya tidak kecil. Produsen otomotif asal AS seperti Ford dan General Motors dilaporkan mengalami kerugian hingga miliaran dolar AS, sementara Honda mencatat kerugian lebih dari US$15,7 miliar.

Dalam pernyataannya pada akhir tahun lalu, Mibe mengakui bahwa perubahan kebijakan di Amerika Serikat kemungkinan telah memperlambat transisi dari kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik. Meski demikian, ia menegaskan bahwa Honda tetap memiliki tanggung jawab moral untuk menekan kenaikan suhu global dengan mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Honda kemudian mengumumkan kerugian tahunan pertamanya pada awal Maret, tidak lama setelah kunjungan Mibe ke pabrik EV di China tersebut. Menurut laporan Nikkei Asia pada 31 Maret, kecepatan dan efisiensi operasional di fasilitas itu menjadi sumber kekhawatiran utama. "Kami tidak punya peluang melawan ini," ujar Mibe.

Ia menambahkan: "mulai dari pengadaan suku cadang hingga manajemen logistik, semuanya di fasilitas itu sudah otomatis, dan tidak ada manusia di lantai produksi."

Reaksi publik juga mencuat di forum daring seperti Reddit, khususnya di kanal Technology. Sejumlah pengguna mengungkapkan frustrasi terhadap dinamika pasar di Amerika Serikat yang dinilai menghambat adopsi kendaraan listrik.

"Ini benar-benar menjengkelkan, bukan? Kita ingin mobil listrik, dan kalau produksinya bagus, permintaan pasti meningkat. Saya siap membeli mobil listrik. Saya siap mengurangi ketergantungan pada minyak," tulis salah satu pengguna.

Pengguna lain menyatakan telah beralih dari Honda ke kendaraan listrik buatan Toyota. "Saya baru saja menukar Honda saya dengan mobil listrik Toyota yang baru. Saya sangat puas," tulisnya.

Sementara itu, komentar lain menyoroti persoalan suplai. "Orang Amerika tidak membeli mobil listrik jika tidak ada pasokan. Kepemimpinan Barat terlalu fokus pada kepentingan jangka pendek dan menghindari masa depan yang tak terelakkan," tulis pengguna lainnya.

Secara umum, diskusi tersebut mengerucut pada satu kesimpulan: kegagalan Amerika Serikat menjaga konsistensi dalam transisi energi berpotensi menjadi beban ekonomi jangka panjang.

"Amerika semakin tertinggal dan jawabannya hanya melarang berbagai hal agar kelompok kaya bisa bertahan lebih lama," tulis seorang pengguna.

Di tengah tekanan global menuju elektrifikasi, dinamika kebijakan dan kesiapan industri kini menjadi faktor penentu apakah produsen otomotif Barat mampu bersaing dengan laju cepat yang ditunjukkan oleh China.

(fys/haa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |