Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertanian (Kementan) membuka peluang usaha baru di sektor peternakan sapi perah melalui pembangunan Dapur Susu Indonesia (DASI) yang ditujukan untuk memasok kebutuhan susu Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dengan modal di bawah Rp5 miliar, satu unit dapur susu disebut sudah mampu menyuplai kebutuhan susu untuk 5-10 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
"ini yang kita ingin dorong, kami sudah buat prototipe-nya, dengan modal mungkin di bawah Rp5 miliar, itu sudah bisa membuat 1 unit dapur susu, yang kemudian bisa menyuplai sekitar 5-10 SPPG di sekitarnya," ungkap Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun dalam konferensi pers Hari Susu Nusantara di kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Selasa (2/6/2026).
Ia menyebut program MBG menjadi momentum penting untuk mendorong pemerataan pengembangan peternakan sapi perah di luar Pulau Jawa sekaligus menciptakan pasar yang lebih pasti bagi peternak.
Ia menuturkan, saat ini populasi sapi perah nasional tercatat sekitar 540.657 ekor dan lebih dari 90% masih dikelola oleh peternak rakyat.
"Kalau kita lihat populasi saat ini, itu tercatat sekitar 540.657 ekor, dengan lebih dari 90% ini adanya di peternakan rakyat. Kan kalau industri tidak banyak yang punya sapi perah," kata Makmun.
Selama ini, katanya, pengembangan sapi perah masih terkonsentrasi di Pulau Jawa. Kementan berharap ke depan sentra-sentra baru peternakan sapi perah dapat tumbuh di berbagai wilayah Indonesia.
"Kita berharap ke depannya, itu di setiap pulau-pulau besar itu juga ada peternakan sapi perahnya. Kalau sekarang kan fokusnya di Pulau Jawa, ada sedikit di Pulau Sumatra, tapi kan tidak banyak," ujarnya.
Makmun menjelaskan, salah satu hambatan utama yang selama ini dihadapi adalah belum kuatnya industri pengolahan susu di daerah. Kondisi tersebut membuat peternak ragu meningkatkan produksi karena belum memiliki kepastian pasar.
Menurut dia, hadirnya program MBG memberikan kepastian penyerapan produksi susu lantaran susu menjadi salah satu menu wajib dalam pedoman program tersebut.
"Apa jaminannya? jaminannya di-offtake oleh Badan Gizi Nasional (BGN), karena kan menjadi menu yang wajib ya, kalau kita lihat di pedoman itu minimum 2 kali dalam sepekan itu mengonsumsi atau meminum susu," ucap dia.
Adapun kebutuhan susu untuk MBG, lanjutnya, tidak hanya dapat dipenuhi melalui produk susu UHT, tetapi juga susu pasteurisasi maupun sterilisasi. Karena itu, koperasi maupun pelaku usaha lokal berpeluang membangun unit pengolahan susu skala kecil yang dekat dengan sentra peternakan.
"Kalau susu pasteurisasi dan sterilisasi saya kira dengan modalnya koperasi ini bisa dibuat, makanya tadi harus ada kalau kami istilahnya DASI, dapur susu Indonesia," ungkap Makmun.
Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: Petugas menyiapkan paket makanan bergizi gratis di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunung Sahari Selatan, Kemayoran, Jakarta Pusat, Selasa, (4/2/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
Kementan bahkan telah menyiapkan prototipe DASI yang dinilai ekonomis untuk direplikasi di berbagai daerah.
"Ini yang kita ingin dorong, kami sudah buat prototipe-nya, dengan modal mungkin di bawah Rp5 miliar, itu sudah bisa membuat 1 unit dapur susu, yang kemudian bisa menyuplai sekitar 5-10 SPPG di sekitarnya," katanya.
Ia menjelaskan, model pengolahan susu skala kecil tersebut akan memungkinkan peternakan sapi perah berkembang lebih merata. Dengan populasi sekitar 100-200 ekor sapi perah di suatu wilayah, peternak dapat membangun DASI dan langsung memasok kebutuhan susu ke SPPG terdekat.
"Dengan adanya offtaker, dengan bangunan model pengolahan yang kecil-kecil, maka kemudian sapi-sapi perahnya akan menyebar, misalnya basisnya 100-200 ekor di setiap wilayah, maka kemudian dia bangun pengolahannya DASI tadi, dapur susu Indonesia. Nah itu langsung disuplai ke SPPG, ini kan menjadi pasar yang baik," ucapnya.
Menurut Makmun, model tersebut sekaligus menjadi solusi atas tantangan distribusi susu segar dari daerah yang jauh ke pusat konsumsi. Selama ini industri pengolahan susu masih banyak terkonsentrasi di Pulau Jawa sehingga peternak di luar Jawa kesulitan mengakses pasar.
"Nah menggerakkan susu segar dari daerah yang jauh itu kan problem, makanya ada sapinya harus kita sediakan, supaya teman-teman yang ada ini membangun juga industri pengolahannya tadi, ya sekarang kita istilahkan UMKM dapur susunya. Dan ini diselingkan dengan dapur. Jadi biar sama-sama dapur namanya, dapur susu dan dapur MBG begitu," ujar dia.
Makmun menegaskan, kepastian pasar dari program pemerintah diharapkan menjadi pendorong tumbuhnya populasi sapi perah nasional. Selain pengembangan peternakan, pemerintah juga menyiapkan integrasi dari hulu hingga hilir agar peternak semakin yakin untuk berinvestasi.
"Sehingga itulah sebagai jaminan para peternak. Peternak ini kan semangat untuk beternak, tapi kalau nyerapnya kurang kan ya problem ya, jadi itu dengan adanya sekarang semua ada di dalam program pemerintah, pengembangannya, kemudian offtake-nya ada, dan kami tahun ini mencoba di Sulawesi Selatan mulai terintegrasi dari industri, dari peternakannya, sampai kemudian hilirnya," tuturnya.
Ia optimistis keberhasilan sejumlah proyek percontohan akan memicu pertumbuhan peternakan sapi perah secara alami di berbagai daerah.
"Kan kalau sudah ada trigger (pemicu) biasanya para peternak kita tuh akan tumbuh dengan sendirinya, itu udah biasa, kalau sudah lihat ada yang sukses, pasti para peternak tuh berlomba-lomba untuk sukses," pungkasnya.
(wur)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)
















