Kinerja Saham Termahal RI Sejak Awal 2026, Ada yang Anjlok Parah

3 hours ago 2

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

10 May 2026 15:15

Jakarta, CNBC Indonesia - Di Bursa Efek Indonesia (BEI), deretan saham dengan harga nominal tinggi sering kali menjadi perhatian pelaku pasar karena dianggap memiliki prestise atau fundamental yang mapan.

Namun, harga nominal yang tinggi tidak selalu berkorelasi positif dengan performa harga saham secara kumulatif dalam jangka pendek. Sejak penutupan perdagangan awal tahun pada 2 Januari 2026 hingga saat ini, kinerja sepuluh emiten dengan harga per lembar tertinggi menunjukkan tren yang sangat bervariasi.

Beberapa emiten mencatatkan pertumbuhan signifikan yang melampaui indeks acuan, sementara yang lain justru mengalami koreksi yang cukup dalam di tengah fluktuasi pasar modal domestik.

Lonjakan Signifikan Emiten Konsumer dan Komoditas

Saham Akasha Wira International Tbk (ADES) menjadi sorotan utama dalam daftar ini dengan kenaikan mencapai 52.54%. Perusahaan yang bergerak di sektor air minum dalam kemasan dan kosmetik ini berhasil meningkatkan harga sahamnya dari level Rp15.275 menjadi Rp23.300.

Peningkatan ini mencerminkan optimisme investor terhadap kinerja fundamental perusahaan serta efisiensi operasional yang terjaga. Selain ADES, sektor konsumer lainnya seperti Gudang Garam Tbk (GGRM) juga mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 22.53%.

Meskipun industri hasil tembakau menghadapi tantangan kenaikan cukai yang berkelanjutan beberapa tahun terakhir namun tahun 2026 menjadi pembeda, tercatat bahwa cukai tidak dinaikkan sehingga pergerakan harga GGRM menunjukkan adanya akumulasi pasar yang cukup kuat sejak awal tahun.

Sektor energi yang diwakili oleh Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) turut memberikan imbal hasil positif sebesar 10.33%. Kinerja ini didukung oleh naiknya harga komoditas global dan kebijakan dividen perusahaan yang cukup menarik bagi para pemegang saham.

Emiten di sektor properti dan investasi seperti Roda Vivatex Tbk (RDTX) dan Sinar Mas Multiartha (SMMA) juga tidak ketinggalan dengan mencatatkan pertumbuhan masing-masing sebesar 28.15% dan 17.97%.

Pergerakan ini mengindikasikan bahwa saham-saham dengan harga nominal tinggi di sektor non-siklikal masih menjadi pilihan untuk diversifikasi aset.

Tekanan pada Sektor Teknologi dan Alat Berat

Di sisi lain, tidak semua saham berharga mahal mampu mempertahankan momentum penguatannya. Multipolar Technology Tbk (MLPT) mencatatkan koreksi paling tajam dalam daftar ini dengan penurunan sebesar 66.06%.

Harga saham MLPT yang sempat berada di level Rp62.250 pada awal Januari merosot hingga ke level Rp21.125 saat ini. Penurunan drastis ini mengindikasikan adanya aksi ambil untung yang masif setelah reli panjang atau perubahan persepsi pasar terhadap valuasi perusahaan teknologi tersebut.

Emiten besar seperti DCI Indonesia Tbk (DCII) dan United Tractors Tbk (UNTR) juga masih terjebak dalam zona merah. DCII, yang menyandang status sebagai saham termahal di bursa secara nominal, terkoreksi 5% secara Year to Date (YTD).

Sementara itu, UNTR mengalami pelemahan sebesar 8.97% seiring dengan dinamika harga emas yang menurun serta kasus pencabutan yang sempat ramai dibicarakan sehingga menurunkan volume pekerjaan kontraktor yang menurunkan potensi keuntungan emiten pada laporan kuartalan.

Kondisi serupa dialami oleh Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) dan Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) yang masing-masing terkoreksi 7.12% dan 13.33%.

Karakteristik Investasi Saham Nominal Tinggi

Pergerakan harga saham-saham "mahal" ini memberikan gambaran bahwa likuiditas dan kapitalisasi pasar tetap menjadi faktor penentu utama. Saham dengan harga nominal tinggi sering kali memiliki jumlah saham beredar yang lebih terbatas, sehingga pergerakan harganya bisa menjadi sangat volatil meski volume transaksinya tidak terlalu besar.

Bagi investor, memantau kinerja YTD dari deretan emiten ini sangat penting untuk melihat sejauh mana kekuatan fundamental perusahaan mampu menahan sentimen makroekonomi yang dinamis.

Kesenjangan performa antara ADES yang tumbuh di atas 50% dengan MLPT yang jatuh lebih dari 60% menegaskan bahwa pemilihan sektor tetap menjadi kunci utama dalam strategi investasi di bursa saham tahun ini.

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |