Lautan Jadi Medan Perang Harga Minyak, Saham Kapal RI Ikut Terguncang?

3 hours ago 3

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

27 July 2026 13:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan geopolitik kembali mengguncang jalur pelayaran dunia. Serangan terhadap kapal dagang di Selat Hormuz, ancaman kelompok Houthi di Laut Merah, serta memanasnya kawasan Laut Hitam membuat risiko pengiriman minyak dan gas meningkat.

Kondisi tersebut tercermin pada pergerakan saham emiten pelayaran di Bursa Efek Indonesia (BEI). Namun, penguatannya tidak terjadi secara merata. Investor terlihat lebih agresif memburu saham perusahaan yang mempunyai eksposur langsung terhadap kapal tanker minyak, gas, dan petrokimia.

PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) dan PT Soechi Lines Tbk (SOCI) menjadi dua saham paling menonjol. Sepanjang perdagangan 17-24 Juli 2026, keduanya melesat hampir 20%.

PT Humpuss Maritim Internasional Tbk (HUMI) turut mendapatkan sentimen positif. Sementara itu, kenaikan PT Samudera Indonesia Tbk (SMDR) lebih terbatas karena bisnisnya terdiversifikasi ke peti kemas, kapal curah, pelabuhan, dan logistik.

Hormuz Belum Aman, Kapal Tanker Masih Langka

Serangan kapal tanker  di Selat HormuzSerangan kapal tanker di Selat Hormuz Foto: CNBC

Selat Hormuz dilewati sekitar seperempat perdagangan minyak global melalui laut. Ketika keamanan jalur tersebut memburuk, dampaknya tidak hanya muncul pada harga minyak, tetapi juga pada freight rate, harga bahan bakar kapal atau bunker fuel, premi asuransi perang, serta ketersediaan armada.

International Maritime Organization (IMO) mencatat 61 insiden terkonfirmasi di Selat Hormuz dan kawasan Timur Tengah hingga 21 Juli 2026. Insiden tersebut menyebabkan sedikitnya 17 pelaut meninggal dunia. Ancaman terhadap kapal komersial juga kembali meningkat di Laut Hitam dan Laut Azov.

Di pasar komoditas, harga minyak kembali melemah pada perdagangan Senin (27/7/2026). Brent diperdagangkan di kisaran US$92,65 per barel, sedangkan West Texas Intermediate (WTI) berada di US$85,18 per barel. Keduanya turun sekitar 4%-5% dibandingkan level pada akhir pekan sebelumnya.

Penurunan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan militernya untuk menahan sementara serangan terhadap target Iran di sekitar pesisir selatan negara tersebut dan Selat Hormuz. Amerika Serikat dan Iran juga tidak saling melancarkan serangan selama dua hari berturut-turut ketika sejumlah mediator kembali mendorong perundingan.

Keputusan tersebut memunculkan harapan bahwa ketegangan dapat mereda dan pengiriman minyak melalui Hormuz berangsur pulih. Pasar pun mulai mengurangi premi risiko perang yang sebelumnya mendorong Brent mendekati US$100 per barel.

Namun, penghentian serangan belum menjadi kesepakatan damai permanen. Lalu lintas kapal di Hormuz masih terbatas, sedangkan ancaman Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah belum sepenuhnya mereda.

Bagi perusahaan pelayaran, kondisi tersebut menciptakan dua dampak. Berkurangnya kapal yang bersedia memasuki kawasan konflik dapat membuat kapasitas angkut semakin langka dan mendorong kenaikan tarif tanker.

Sebaliknya, pemilik kapal harus menanggung kenaikan biaya bahan bakar, premi asuransi, pengamanan awak, dan potensi perjalanan lebih panjang akibat perubahan rute. Penurunan minyak dapat meringankan biaya operasi, tetapi peluang kenaikan tarif tanker juga bisa berkurang apabila proses deeskalasi berlanjut.

Saham Tanker Tancap Gas

Serangan terhadap kapal tanker minyak semakin marak seiring memanasnya konflik di Timur Tengah dan Eropa. Iran meningkatkan serangan di sekitar Selat Hormuz untuk memperkuat kendali atas jalur ekspor minyak dunia, sementara kelompok Houthi mulai menyerang kapal tanker Arab Saudi di Laut Merah. Di sisi lain, Ukraina mengklaim telah menyerang lebih dari 150 kapal yang terkait dengan armada bayangan Rusia di Laut Hitam.


Lalu lintas kapal di Selat Hormuz kembali turun setelah kesepakatan AS-Iran gagal bertahan. Sejak 1 Maret, tercatat 61 kapal niaga diserang di Teluk Persia, Selat Hormuz, dan Teluk Oman, menewaskan sedikitnya 17 awak kapal. Khusus bulan ini, sedikitnya 12 kapal tanker menjadi sasaran serangan di sekitar Hormuz.

Jumlah kapal tanker lewati Selat HormuzJumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC


Serangan Houthi kini mengancam jalur ekspor minyak Arab Saudi melalui Laut Merah. Meski Saudi memiliki jalur pipa alternatif, pengiriman tetap harus melewati Selat Bab el-Mandeb yang juga rawan serangan. Akibatnya, biaya dan waktu pengiriman minyak meningkat tajam.


Di Laut Hitam, serangan Ukraina membuat ekspor minyak Kazakhstan melalui Caspian Pipeline Consortium (CPC) terganggu. Ukraina juga terus menyerang kilang minyak Rusia, menyebabkan lebih dari separuh kapasitas pengolahan minyak negara tersebut dilaporkan berhenti beroperasi dan memperketat pasokan produk minyak global.

Bagaimana Dampaknya ke Saham Kapal?

Saham BULL langsung naik 7,18%, SOCI menguat 3,93%, sedangkan HUMI bertambah 3,97% pada Senin, 21 Juli lalu atau berbarengan dengan berakhirnya Piala Dunia.

Namun, Piala Dunia bukan penyebab fundamental kenaikan tersebut, melainkan penanda waktu ketika perhatian pasar kembali beralih kepada konflik geopolitik dan gangguan pengiriman energi.

Ketakutan pasar meningkat setelah Trump kembali mengancam Iran. Pada 21 Juli, Trump menyatakan AS akan menyerang fasilitas bawah tanah Iran di Pickaxe Mountain. Dua hari kemudian, Trump mengatakan hampir mengambil keputusan mengenai serangan besar yang skalanya dapat melampaui operasi militer AS sebelumnya.

Trump juga mengancam akan meminta pertanggungjawaban Iran atas serangan Houthi terhadap kapal komersial. Pernyataan tersebut muncul setelah Houthi mengumumkan blokade laut terhadap Arab Saudi dan menyerang kapal tanker di kawasan Laut Merah.

Ancaman serangan yang lebih besar serta kemungkinan meluasnya konflik kembali menaikkan premi risiko pelayaran. Sepanjang 17-24 Juli 2026, BULL menjadi saham dengan kenaikan terbesar, yakni 20,99%. SOCI menyusul dengan penguatan 19,66%, HUMI naik 7,14%, sementara SMDR bertambah 2,07%.

BULL dan SOCI Paling Kuat Menangkap Sentimen

BULL menjadi saham yang paling kuat menangkap sentimen tanker. Harganya naik dari Rp362 menjadi Rp438 atau 20,99% dalam sepekan. Reli mencapai puncaknya pada Jumat, 24 Juli, ketika BULL melonjak 12,31% dengan volume perdagangan sekitar 1,06 miliar saham.

Perseroan mengoperasikan tanker minyak, gas, dan kimia melalui kombinasi kontrak time charter dan pasar spot. Eksposur terhadap pasar spot membuat BULL berpeluang lebih cepat menikmati kenaikan tarif saat ketersediaan tanker global menurun.

SOCI mempunyai korelasi hampir serupa. Saham perseroan naik dari Rp356 menjadi Rp426 atau 19,66%. SOCI mengoperasikan tanker untuk mengangkut minyak mentah, bahan bakar, gas, dan produk kimia.

Meski demikian, kenaikan tarif spot tidak otomatis langsung masuk sebagai pendapatan. Manfaatnya tetap bergantung pada lokasi kapal, struktur kontrak, utilisasi armada, dan jadwal pembaruan tarif.

Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam di Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, 11 Maret 2026. (REUTERS/Stringer)Kapal tanker berlayar di Teluk, dekat Selat Hormuz, seperti yang terlihat dari bagian utara Ras al-Khaimah, dekat perbatasan dengan pemerintahan Musandam di Oman, di tengah konflik AS-Israel dengan Iran, di Uni Emirat Arab, 11 Maret 2026. (REUTERS/Stringer)

HUMI dan SMDR Lebih Moderat

HUMI menguat 7,14% dari Rp126 menjadi Rp135. Perseroan menyediakan jasa pengangkutan LNG, minyak, dan petrokimia, tetapi sebagian bisnisnya berorientasi pada kontrak serta distribusi energi domestik.

Kontrak membuat pendapatan lebih stabil, tetapi HUMI tidak selalu langsung menikmati lonjakan tarif spot internasional. Hal ini menjelaskan mengapa respons sahamnya tidak seagresif BULL dan SOCI.

Sementara itu, SMDR hanya naik 2,07% dari Rp290 menjadi Rp296. Perseroan mempunyai kapal tanker dan gas, tetapi bisnisnya juga mencakup peti kemas, kapal curah, pelabuhan, dan logistik.

Kinerja SMDR memperlihatkan bahwa kenaikan minyak tidak selalu menjadi kabar baik bagi perusahaan pelayaran. Jika lonjakan biaya bahan bakar tidak dapat segera diteruskan kepada pelanggan, margin keuntungan justru dapat tertekan.

Tarif dan Utilisasi Jadi Pembuktian

Reli saham pelayaran sepekan terakhir terkonsentrasi pada perusahaan tanker. BULL dan SOCI mempunyai korelasi paling kuat, HUMI memperoleh dampak positif moderat, sedangkan SMDR menghadapi kombinasi antara peluang kenaikan tarif dan tekanan biaya.

Selama Selat Hormuz, Laut Merah, dan Laut Hitam belum kembali aman, saham tanker kemungkinan tetap sensitif terhadap perkembangan konflik. Namun, setelah kenaikan hampir 20%, kelanjutan reli harus dibuktikan melalui kenaikan tarif sewa, utilisasi kapal, arus kas, dan laba bersih.

Jumlah kapal tanker lewati Selat HormuzJumlah kapal tanker lewati Selat Hormuz Foto: CNBC

-

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |