Menyibak Nasib Kiper Lokal Hanya Jadi Penggembira di Timnas Indonesia: Selalu Kalah Bersaing, Bagaimana Performanya?

5 hours ago 1

Bola.com, Jakarta - Sejak hadirnya beberapa penjaga gawang naturalisasi, kiper-kiper lokal hanya sebatas menjadi penggembira di Timnas Indonesia. Mereka kalah bersaing dan kini harus menjadi penghangat bangku cadangan.

Di era dua pelatih Timnas Indonesia sebelumnya, pos penjaga gawang memang mulai dipercayakan kepada Maarten Paes dan Emil Audero. Keduanya juga dianggap bisa menjawab tantangan karena mampu tampil sesuai harapan.

Kini, di era pelatih baru John Herdman, nasib para penjaga gawang lokal tampaknya juga tak jauh berbeda dari sebelumnya. Meski punya kiprah oke di level klub, mereka harus bisa merebut posisi dari dua kiper yang kini berkarier di Eropa.

Lantas, bagaimana catatan penampilan ketiga penjaga gawang lokal yang dipanggil oleh John Herdman bergabung ke Timnas Indonesia menjelang ajang FIFA Series 2026 ini? Berikut Bola.com menyajikan ulasannya.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

Nadeo Argawinata

Dari sekian nama kiper lokal Timnas Indonesia, Nadeo Argawinata tentu menjadi pemain yang paling senior dan berpengalaman. Sebab, ia memiliki caps terbanyak karena telah mengukir 24 penampilan di berbagai ajang.

Di level klub, performa Nadeo juga sangat mengesankan. Kapten Borneo FC ini menjadi kunci penting bagi tim berjuluk Pesut Etam itu bersaing di papan atas klasemen. Dari 24 penampilan, Nadeo sukses mengukir delapan cleansheet.

Sebetulnya, ini bukan jumlah nirbobol terbanyak di BRI Super League. Sebab, jika komparasinya adalah kiper lokal, Nadeo sebetulnya masih kalah oke dibandingkan Teja Paku Alam (15 cleansheet) dan Aqil Savik (9 cleansheet).

Namun, Nadeo punya catatan statistik yang jauh lebih mumpuni ketimbang keduanya. Sebab, dia saat ini berstatus sebagai kiper dengan saves terbanyak kedua di BRI Super League dengan 91 penyelamatan, hanya kalah dari kiper Bali United, Mike Hauptmeijer, yang mengukir 97 saves.

Ernando Ari

Selanjutnya, ada Ernando Ari yang sudah sangat lama tak mendapatkan kepercayaan untuk mengisi pos penjaga gawang Timnas Indonesia. Terakhir kali, Ernando bermain pada laga melawan Filipina di putaran kedua Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Asia.

Sejak saat itu, kiper Persebaya Surabaya ini sudah tergusur oleh kehadiran Maarten Paes yang telah jadi andalan STY pada duel kontra Arab Saudi di putaran ketiga. Di level domestik, performa kiper berusia 24 tahun ini juga tak begitu istimewa.

Dia memang menjadi kiper nomor satu Persebaya dengan catatan 23 penampilan dan mengukir tujuh cleansheet dan 27 kebobolan. Sekilas, tak ada yang spesial dari catatan ini karena Ernando masih kalah mentereng dengan kiper lokal lainnya.

Hanya saja, secara statistik, kiper kelahiran Semarang ini punya catatan penyelamatan yang oke. Dia mampu menghasilkan 82 kali saves, dan, jika komparasinya kiper lokal, hanya kalah dari Nadeo Argawinata.

Cahya Supriadi

Nah, kali ini nama yang dibahas ialah kiper andalan PSIM Yogyakarta, Cahya Supriadi. Dia menjadi salah satu kejutan dalam pemanggilan kali ini karena baru pertama kali dipanggil memperkuat Timnas Indonesia senior.

Sebetulnya, ini bukan yang pertama kali juga. Cahya sempat dibawa Shin Tae-yong untuk memperkuat Timnas Indonesia di Piala AFF 2024. Hanya saja, ketika itu skuad Garuda berangkat dengan amunisi pemain muda.

Performa Cahya memang cukup oke bersama Laskar Mataram. Dia mampu mencatatkan delapan nirbobol dari 23 penampilan. Dari semua laga itu, gawangnya tercatat sudah kemasukan 30 kali.

Selain itu, penjaga gawang berusia 23 tahun ini juga mengantongi catatan saves yang cukup tinggi di BRI Super League 2025/2026. Dia jadi kiper lokal dengan saves terbanyak ketiga dengan total 75 penyelamatan.

Read Entire Article
| | | |