Misi "Mustahil" Buka Hormuz di Tengah Perang: Mahal, Hasil Tak Jelas

11 hours ago 2

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

25 March 2026 12:35

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) disebut sedang menyiapkan opsi militer jika upaya diplomasi dengan Iran gagal mengakhiri konflik.

Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya sedang berbicara dengan para pemimpin Iran untuk mengakhiri kampanye pengeboman yang dilakukan AS. Meskipun Iran membantah hal tersebut. Namun, yang pasti, Washington juga tampak sedang menyiapkan opsi lain apabila upaya negosiasi tidak membuahkan hasil.

Melansir dari The Economist, dua unit amfibi Marinir AS kini sedang menuju kawasan Teluk, masing-masing dari Jepang dan California.

Selain itu, satu divisi infanteri elite yang memiliki spesialisasi serangan lintas udara dilaporkan akan segera menyusul. Pengerahan ini menunjukkan bahwa Trump kemungkinan sedang mempertimbangkan operasi militer untuk membuka kembali Selat Hormuz dengan paksa. Namun, langkah itu bukan tugas yang mudah.

Operasinya Bertahap, tetapi Sangat Berbahaya

Sejak dimulainya Operasi Epic Fury, Iran terus mengancam jalur Selat Hormuz, yang selama ini menjadi lintasan sekitar 20% ekspor minyak dan gas dunia, serta berbagai muatan penting lainnya.

Sebanyak 19 kapal sipil dilaporkan telah terkena serangan, baik di dalam Teluk, di area selat, maupun di sekitarnya. Akibatnya, lalu lintas kapal di kawasan itu melambat tajam dan kini sebagian besar hanya diisi kapal-kapal yang terkait dengan Iran. Kondisi ini memicu gejolak besar di pasar komoditas dan pasar keuangan global.

Pentagon disebut memiliki rencana dalam tiga tahap untuk membuka kembali selat tersebut.

Tahap pertama adalah memburu aset militer Iran yang mengancam pelayaran, seperti kapal cepat, rudal, drone, dan ranjau. Kapal perang dan kapal selam Iran tampaknya sudah lebih dulu dihancurkan. Operasi ini sejauh ini banyak dilakukan lewat serangan udara, meski ke depan kemungkinan juga melibatkan pasukan darat.

Tahap kedua adalah membersihkan Selat Hormuz dari ranjau. Setelah ancaman Iran terhadap kapal-kapal dinilai cukup berkurang, tahap ketiga adalah Angkatan Laut AS mulai mengawal kapal tanker yang melintas di selat tersebut. Setiap tahap diperkirakan bisa memakan waktu beberapa pekan dan membawa risiko besar bagi pasukan AS.

Iran memiliki banyak cara untuk menyerang kapal. Serangan bisa datang dari atas melalui rudal dan drone.

Dari permukaan laut, kapal cepat yang membawa rudal atau bahan peledak bisa menyerbu atau menabrak kapal. Dari bawah laut, ancaman datang dari berbagai jenis ranjau. Masalahnya, personel dan perlengkapan yang digunakan Iran tersebar dan tersembunyi di teluk kecil, gua, hingga terowongan bawah tanah di sepanjang ratusan kilometer garis pantai. Karena itu, ancaman ini sulit dilumpuhkan hanya lewat serangan udara.

Dalam beberapa hari terakhir, pesawat tempur AS terus menggempur pesisir Iran. Pada 19 Maret lalu, Jenderal Dan Caine, pejabat militer tertinggi AS, mengatakan jet tempur AS menjatuhkan bom seberat 5.000 pon untuk menembus lapisan batu dan beton demi menghancurkan bunker bawah tanah yang digunakan menyimpan rudal anti-kapal.

Selain itu, AS juga mengerahkan helikopter dan pesawat serang terbang rendah seperti A-10 Warthog untuk menyerang kapal-kapal cepat Iran.

Militer AS mengklaim telah merusak atau menenggelamkan lebih dari 120 kapal angkatan laut Iran dan 44 kapal penebar ranjau.

Bryan Clark dari Hudson Institute seperti dilansir dari The Economist mengatakan bahwa yang dilakukan AS saat ini adalah menggempur setiap gua, bangunan, dan tempat penyimpanan yang diduga menyimpan sistem senjata tersebut. Meski begitu, ia menilai sangat sulit benar-benar menghilangkan seluruh ancaman yang ada.

Salah satu gagasan yang kini menguat adalah mengerahkan pasukan khusus atau Marinir ke pulau-pulau terdekat untuk mendeteksi dan menghancurkan target-target yang bersembunyi di medan yang berat.

Pejabat militer AS dilaporkan sedang mempertimbangkan kemungkinan merebut Pulau Kharg, terminal utama ekspor minyak Iran, atau tiga pulau yang dikuasai Iran tetapi diklaim oleh Uni Emirat Arab di dekat area selat.

Selain mencari ancaman, pasukan ini juga dapat memasang pertahanan udara jarak pendek untuk membantu melindungi kapal yang melintas. Hal tersebut disampaikan Mark Cancian dari Center for Strategic and International Studies.

Namun, pengerahan pasukan darat juga sangat berisiko. Mereka akan berada dalam jangkauan artileri dan drone Iran.

Selain itu, pasukan tersebut juga harus terus dipasok logistik, yang berarti lebih banyak pesawat dan kapal akan masuk ke zona bahaya. Keberadaan mereka pun belum tentu memberi keuntungan besar, karena drone Shahed-136 milik Iran memiliki jangkauan lebih dari 1.500 km, sehingga bisa menyerang hampir seluruh area selat dan Teluk dari hampir seluruh wilayah Iran.

Tahap pembersihan ranjau juga tidak kalah berbahaya. Ada laporan yang saling bertentangan mengenai apakah Iran sudah menebar ranjau atau belum, tetapi perusahaan pelayaran tentu enggan mengambil risiko.

Sebelum perang dimulai, Iran diperkirakan memiliki sekitar 6.000 ranjau dari berbagai jenis. Ada ranjau yang mengapung di bawah permukaan laut dan meledak ketika terkena kapal, serta ranjau yang lebih canggih yang berada di dasar laut dan aktif berdasarkan jejak magnetik atau suara kapal.

Meski AS telah menenggelamkan banyak kapal penebar ranjau milik Iran, kapal dagang atau kapal nelayan tetap bisa digunakan untuk menebar ranjau. Laksamana purnawirawan James Foggo mengatakan, kapal apa pun pada dasarnya bisa dijadikan penebar ranjau.

Masalah lain, Angkatan Laut AS sudah lama kurang memberi perhatian pada perang ranjau. Pada Januari lalu, dengan waktu yang dinilai sangat tidak tepat, AS justru memensiunkan kapal penyapu ranjau kelas Avenger terakhir yang berbasis di kawasan tersebut. Dua dari tiga kapal penggantinya, yakni littoral combat ships yang dilengkapi peralatan pembersih ranjau, saat ini belum berada di Teluk dan masih harus bergerak dari Asia.

Setibanya disana, kapal-kapal ini nantinya bisa mengerahkan helikopter dengan sistem deteksi udara serta drone bawah laut untuk mencari dan menjinakkan ranjau.

Namun, sistem ini belum pernah digunakan dalam pertempuran dan sebelumnya sempat mengalami berbagai gangguan teknis saat pengujian. Bryan Clark memperkirakan pembersihan selat bisa memakan waktu antara satu hingga tiga pekan.

Pada titik tertentu, menurut dia, para pejabat AS kemungkinan harus mulai mengawal kapal meskipun belum ada kepastian bahwa semua ancaman benar-benar sudah hilang.

Tahap pengawalan kapal tanker di selat yang sempit justru diperkirakan menjadi fase paling rumit, paling berbahaya, dan berpotensi berlangsung tanpa batas waktu yang jelas. Konvoi kapal akan membutuhkan puluhan drone, helikopter serang, dan jet tempur yang berputar di udara sebagai perlindungan.

Selain itu, pesawat peringatan dini dan kendali udara juga dibutuhkan untuk mendeteksi rudal serta drone yang datang.

Kapal perang nantinya akan menggunakan senjata jarak dekat atau sistem peperangan elektronik untuk melumpuhkan drone, serta rudal pencegat yang lebih mahal dan jumlahnya lebih terbatas untuk menghadapi rudal.

Para pakar maritim menilai angkatan laut membutuhkan satu kapal perusak untuk mengawal setiap dua kapal tanker, mengingat jarak antar kapal akan sangat rapat saat melintas di selat.

Saat ini, angkatan laut AS memiliki 14 kapal perusak di kawasan, tetapi enam di antaranya sedang sibuk melindungi kapal induk. Untuk mendatangkan kapal perusak tambahan ke Teluk bisa memakan waktu beberapa pekan, dan itu berarti AS harus kembali mengalihkan kekuatan militernya dari kawasan lain, termasuk Asia. Sekutu AS mungkin saja bersedia membantu, tetapi sebagian besar masih enggan mengirim kapal selama perang masih berlangsung.

Siapa pun yang menjalankan misi tersebut, biayanya akan sangat besar dan akan semakin menguras stok amunisi pencegat rudal milik AS dan sekutunya yang juga sudah mulai menipis.

Secara geografis, Selat Hormuz juga sangat menyulitkan. Pada titik tersempitnya, lebar selat hanya sekitar 50 km dan diapit pegunungan.

Kondisi ini membuat kapal perang AS hanya punya waktu yang sangat terbatas untuk mendeteksi dan menangkis serangan rudal atau drone yang datang.

Mereka juga harus melakukan manuver sulit di tengah arus yang kuat agar tetap berada dekat dengan kapal-kapal yang dikawal. Semua itu pun masih bergantung pada satu hal penting: apakah masih ada kapal komersial yang mau mengambil risiko melintasi jalur berbahaya tersebut.

James Foggo mengatakan bahwa Angkatan Laut AS memang telah mendapatkan pengalaman berharga dalam beberapa tahun terakhir saat menghadapi kelompok Houthi di Yaman, yang merupakan sekutu Iran. Namun, persenjataan Iran dinilai lebih canggih dan tekadnya kemungkinan jauh lebih kuat karena rezim di negara itu sedang berjuang untuk bertahan hidup.

Bryan Clark menilai Iran telah menyiapkan sumber dayanya untuk skenario seperti ini selama puluhan tahun. Karena itu, Iran dinilai bisa terus melanjutkan perlawanan selama AS juga masih mau menjalankan operasi tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |