Mitos vs Fakta Megathrust, Pakar Beri Jurus Selamat dari Gempa-Tsunami

8 hours ago 4

Jakarta, CNBC Indonesia - Ancaman gempa megathrust kembali menjadi perhatian publik. Di tengah meningkatnya kekhawatiran masyarakat, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan masih banyak pemahaman yang keliru mengenai megathrust, mulai dari anggapan bahwa gempa besar akan segera terjadi hingga keyakinan bahwa setiap gempa megathrust pasti memicu tsunami dahsyat.

Padahal, megathrust bukanlah nama sebuah gempa bumi. Daryono menjelaskan, megathrust merupakan istilah untuk zona subduksi atau bidang pertemuan dua lempeng tektonik di kedalaman dangkal. Pada wilayah inilah lempeng samudra menunjam ke bawah lempeng benua sehingga terbentuk akumulasi tekanan yang sewaktu-waktu dapat dilepaskan menjadi gempa bumi.

Karena itu, keberadaan zona megathrust bukan berarti gempa besar akan terjadi dalam waktu dekat. Hingga kini, para ilmuwan belum memiliki teknologi yang mampu memprediksi secara tepat kapan gempa akan terjadi. Yang dapat dilakukan adalah mengidentifikasi wilayah yang memiliki potensi gempa dan menghitung tingkat risikonya.

Kesalahpahaman lain yang juga kerap muncul adalah anggapan bahwa setiap gempa megathrust pasti akan memicu tsunami besar. Faktanya, potensi tsunami bergantung pada berbagai faktor, seperti mekanisme patahan, lokasi pusat gempa, kedalaman sumber gempa, hingga besarnya deformasi dasar laut. Dengan demikian, tidak semua gempa megathrust otomatis menghasilkan tsunami.

Jawa Waspada

Dalam kesempatan terpisah, Daryono mengungkapkan, seluruh pantai selatan Pulau Jawa memang berada di zona subduksi megathrust yang berpotensi memicu gempa besar. Namun, menurutnya, ancaman tersebut harus dihadapi dengan pengetahuan dan kesiapsiagaan, bukan kepanikan.

"Megathrust bukan sekadar potensi, tetapi ancaman nyata yang harus dihadapi dengan ilmu pengetahuan, kesiapsiagaan, dan budaya mitigasi," kata Daryono.

Ia mengingatkan masyarakat agar belajar dari peristiwa Tsunami Pangandaran pada 17 Juli 2006.

Saat itu, gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang terjadi di zona subduksi selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat memicu tsunami yang menewaskan lebih dari 668 orang serta menyebabkan ribuan lainnya terluka dan kehilangan tempat tinggal.

Menurut Daryono, gempa tersebut merupakan tsunami earthquake, yakni jenis gempa yang menghasilkan tsunami besar meski guncangannya relatif lemah di daratan. Akibatnya, banyak warga dan wisatawan tetap berada di pantai karena menganggap gempa tersebut tidak berbahaya.

"Jangan menunggu gempa terasa kuat. Jika berada di pantai dan terjadi gempa, segera evakuasi meninggalkan pantai," ujarnya.

Cuma Punya Waktu 15-20 Menit

Ia menjelaskan, gelombang tsunami saat itu tiba di pantai hanya sekitar 15 hingga 20 menit setelah gempa terjadi. Waktu yang sangat singkat tersebut membuat masyarakat tidak bisa hanya mengandalkan informasi resmi atau sirene peringatan dini.

Karena itu, Daryono menekankan pentingnya mengenali natural warning atau tanda-tanda alam, seperti gempa yang berlangsung cukup lama, air laut surut secara tiba-tiba, maupun suara gemuruh dari arah laut. Menurutnya, mengenali tanda-tanda tersebut dapat menjadi penyelamat pertama ketika tsunami mengancam.

Daryono juga mengingatkan bahwa ancaman megathrust bukan hanya dirasakan masyarakat di pesisir. Gempa kuat dapat berdampak hingga wilayah daratan yang cukup jauh dari pantai, sedangkan tsunami memang lebih berisiko bagi kawasan pesisir.

Ia menilai anggapan masyarakat tidak dapat berbuat apa pun dalam menghadapi ancaman megathrust juga tidak tepat. Risiko bencana dapat ditekan melalui pembangunan bangunan tahan gempa, penyediaan jalur evakuasi, penataan ruang berbasis risiko, edukasi kebencanaan, simulasi evakuasi, hingga kesiapan masyarakat untuk menyelamatkan diri secara mandiri.

Selain itu, masyarakat diingatkan agar tidak menganggap ancaman telah berakhir setelah gempa utama terjadi. Gempa susulan masih mungkin terjadi dan pada kondisi tertentu potensi tsunami juga tetap harus diwaspadai sehingga kewaspadaan perlu dipertahankan.

Menurut Daryono, dua dekade setelah Tsunami Pangandaran, Indonesia memang telah memiliki sistem peringatan dini tsunami, peta bahaya, jalur evakuasi, hingga program edukasi kebencanaan yang jauh lebih baik. Namun, pekerjaan tersebut belum selesai.

"Keberhasilan penanggulangan tsunami bukan diukur dari banyaknya korban yang berhasil diselamatkan setelah bencana, tetapi dari sedikitnya korban yang harus diselamatkan karena masyarakat sudah siap sebelum tsunami datang," tegasnya.

Pesan tersebut sejalan dengan imbauan bahwa megathrust bukan fenomena yang perlu ditakuti secara berlebihan, melainkan dipahami dan diantisipasi.

Gempa bumi memang tidak dapat dicegah, tetapi dampaknya dapat dikurangi melalui mitigasi, kesiapsiagaan, dan respons cepat ketika tanda-tanda bahaya muncul.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Dok Pribadi)Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono (Dok Pribadi) Foto: Dok Ist

(dce) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |