Jakarta, CNBC Indonesia — Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melaporkan kinerja perbankan nasional tetap solid di tengah ketidakpastian global dan era suku bunga tinggi atau higher for longer.
Di tengah kondisi tersebut, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga.
Pertumbuhan kredit tercatat sebesar 9,37% secara tahunan (yoy) menjadi Rp8.559 triliun. Kredit investasi menjadi penopang utama dengan pertumbuhan 20,72%, sementara kredit kepada debitur korporasi tumbuh 14,74% yoy.
"Kinerja intermediasi perbankan masih tumbuh positif dengan profil risk terjaga," kata Dian dalam Konferensi Pers Asesmen Sektor Jasa Keuangan dan Kebijakan OJK Hasil RDKB Maret 2026, Senin (6/4/2026).
Dari sisi pendanaan, dana pihak ketiga (DPK) tumbuh 13,18% menjadi Rp10.102 triliun. Likuiditas industri perbankan juga tetap memadai, tercermin dari rasio AL/NCD sebesar 121,29% dan AL/DPK sebesar 27,4%.
Ketahanan likuiditas turut didukung oleh Liquidity Coverage Ratio (LCR) yang berada di level 195,64%.
Sementara itu, kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio kredit bermasalah (NPL) gross sebesar 2,17% dan NPL net 0,83%. Rasio loan at risk (LAR) tercatat 9,24%.
Dari sisi profitabilitas, return on assets (ROA) tercatat sebesar 2,73%, meningkat dibandingkan bulan sebelumnya. Permodalan perbankan juga tetap kuat dengan rasio kecukupan modal (CAR) sebesar 25,83%.
OJK juga mencatat berdasarkan Survei Perbankan OJK (SBPO) triwulan I-2026, kinerja perbankan tetap solid dengan risiko yang terjaga. Indeks keyakinan perbankan juga masih berada di zona optimistis.
Selain itu, OJK terus mendorong penguatan sektor melalui sejumlah inisiatif, termasuk pengembangan keuangan berkelanjutan serta pengajuan 12 izin penggabungan BPR dan BPRS.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan kebijakan moneter global masih ketat seiring sinyal dari Federal Reserve yang hanya membuka ruang satu kali pemangkasan suku bunga. Bahkan, ekspektasi pasar mengarah pada tidak adanya pemangkasan di 2026.
"Kinerja perekonomian global ke depan dihadapkan ketidakpastian seiring geopolitik di kawasan teluk," ujarnya.
(mkh/mkh)
[Gambas:Video CNBC]
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)







:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)


