Jakarta, CNBC Indonesia - Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya atau OPEC+ sepakat menaikkan kuota produksi minyak sebesar 206.000 barel per hari untuk Mei 2026. Namun, kenaikan ini dinilai lebih bersifat simbolis di tengah terbatasnya kemampuan sejumlah anggota utama meningkatkan produksi akibat konflik di Iran.
Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan virtual yang diikuti delapan anggota OPEC+, yakni Arab Saudi, Rusia, Irak, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Kazakhstan, Aljazair, dan Oman.
Dalam pernyataan resmi, OPEC+ menyatakan akan terus mencermati kondisi pasar global. "Negara-negara tersebut akan terus memantau dan menilai kondisi pasar secara cermat, sebagai bagian dari upaya berkelanjutan untuk mendukung stabilitas pasar," tulis pernyataan tersebut, dikutip Al Jazeera, Senin (6/4/2026).
OPEC+ juga menyoroti dampak serangan terhadap infrastruktur energi. "Memulihkan aset energi yang rusak ke kapasitas penuh membutuhkan biaya dan waktu yang lama, sehingga memengaruhi ketersediaan pasokan secara keseluruhan," lanjut pernyataan itu.
Kenaikan produksi ini terjadi di tengah terganggunya distribusi minyak global akibat konflik yang melibatkan Amerika Serikat (AS) dan Israel dengan Iran. Ketegangan tersebut telah memblokir Selat Hormuz sejak akhir Februari, jalur vital bagi distribusi minyak dunia, dan menekan ekspor dari negara-negara produsen utama seperti Arab Saudi, UEA, Kuwait, dan Irak.
Meski demikian, tambahan produksi tersebut hanya mencakup kurang dari 2% dari total pasokan yang terganggu akibat penutupan selat. Sumber OPEC+ kepada Reuters menyebut langkah ini mencerminkan kesiapan kelompok untuk meningkatkan produksi jika jalur tersebut kembali dibuka.
Harga minyak mentah dunia telah melonjak ke level tertinggi dalam empat tahun terakhir, mendekati US$120 per barel. Kenaikan ini berdampak langsung pada lonjakan harga bahan bakar transportasi global.
Bahkan, lembaga keuangan JPMorgan memperingatkan harga minyak berpotensi melampaui US$150 per barel jika gangguan pasokan berlanjut hingga pertengahan Mei.
Adapun gangguan pasokan saat ini diperkirakan mencapai 12 hingga 15 juta barel per hari, atau sekitar 15% dari total pasokan global.
(luc/luc)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)








:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)

