Pabrik Mobil RI Hitung Dampak Lonjakan Harga Minyak Efek Perang Iran

2 hours ago 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri otomotif nasional mulai merasakan tekanan serius dari kenaikan bahan baku berbasis petrokimia yang bersumber dari minyak bumi yang secara global naik ke level di atas US$ 100 per barel. Kondisi ini berpotensi mendorong lonjakan biaya produksi di tengah permintaan yang belum pulih.

Pelaku industri saat ini masih menghitung dampak kenaikan biaya tersebut secara menyeluruh. Setiap pabrikan memiliki struktur biaya yang berbeda, sehingga dampaknya tidak bisa disamaratakan.

"Teman-teman juga lagi pada ngitung semuanya. Saya belum punya bayangan sama sekali. Karena masing-masing pasti akan beda satu sama lain," kata Sekretaris Jenderal Gaikindo, Kukuh Kumara kepada CNBC Indonesia, Senin (6/4/2026).

Di tengah situasi ini, pelaku industri mulai mencari alternatif sumber bahan baku untuk menjaga stabilitas produksi. Namun, langkah tersebut tidak serta-merta menjadi solusi jangka pendek yang efektif.

"Pasti ada beberapa sumber yang lain. Tapi secara umum pelaku industri otomotif pasti punya alternatif. Cuma seberapa efektif alternatif itu bisa memenuhi kebutuhan, karena nanti kalaupun ada alternatif dari tempat lain, semuanya juga akan ikut ke sana," katanya.

Kukuh menjelaskan bahwa material berbasis petrokimia memiliki peran yang sangat luas dalam industri otomotif. Penggunaannya tidak hanya terbatas pada komponen kecil, tetapi juga mencakup bagian utama kendaraan.

"Ya pastikan bahan plastiknya kan. Material dashboard, kursi, banyak sekali. Lampu, semuanya sudah plastik semua," jelasnya.

Kondisi ini membuat industri sangat sensitif terhadap perubahan harga bahan baku plastik. Selain itu, kenaikan harga energi juga ikut memperberat tekanan biaya produksi. Kombinasi faktor ini berpotensi mendorong kenaikan harga kendaraan di pasar.

Di sisi lain, kemampuan industri untuk mengalihkan sumber pasokan juga terbatas oleh dinamika global. Kukuh menilai, jika seluruh pelaku industri mencari alternatif ke wilayah yang sama, maka tekanan baru justru akan muncul di titik tersebut.

"Kalau semua pindah ke sumber alternatif yang sama, ya nanti akan terjadi penumpukan permintaan di sana," ujarnya.

Ia berharap kondisi ini tidak berlangsung lama agar industri bisa kembali stabil. "Ya mudah-mudahan ini cepat berlalu. Karena nggak gampang untuk memindahkan ke tempat lain kalaupun ada," sebutnya.

(hoi/hoi) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |