Kanthi Malikhah, CNBC Indonesia
10 March 2026 12:44
Jakarta, CNBC Indonesia- Ketegangan geopolitik yang melibatkan Iran meningkatkan risiko gangguan pada jalur pelayaran strategis Selat Hormuz, yang selama ini menjadi salah satu jalur distribusi minyak terpenting di dunia. Namun, China adalah pengecualian.
Lonjakan ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak dunia yang bahkan sempat menembus level psikologis US$100 per barel. Kondisi ini menjadi ancaman bagi perekonomian negara-negara pengimpor energi.
Namun tidak seperti kebanyakan negara lain, sejumlah analis menilai China disebut berpotensi relatif lebih tahan menghadapi lonjakan harga minyak dibandingkan negara lain di Asia.
Berikut sejumlah faktor yang dinilai membuat ekonomi China lebih siap menghadapi potensi guncangan harga minyak global.
1. Cadangan Minyak Strategis yang Besar
Salah satu faktor utama yang membuat China lebih tahan terhadap gejolak harga minyak adalah besarnya cadangan minyak strategis yang dimiliki negara tersebut.
Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah China secara agresif membangun Strategic Petroleum Reserve (SPR) sebagai langkah antisipasi terhadap gangguan pasokan energi global.
Cadangan ini berfungsi sebagai penyangga apabila terjadi lonjakan harga atau gangguan distribusi minyak dunia, sehingga China memiliki fleksibilitas untuk menahan tekanan pasokan dalam jangka pendek tanpa harus langsung meningkatkan impor di tengah harga yang tinggi.
China telah mengumpulkan salah satu cadangan minyak mentah strategis dan komersial terbesar di dunia dan diperkirakan memiliki sekitar 1,2 miliar barel cadangan minyak mentah di daratan hingga Januari 2025.
Jumlah tersebut setara dengan sekitar 3 hingga 4 bulan cadangan, yang dapat menunda dampak ekonomi jika terjadi gangguan pasokan.
"Selama 20 tahun terakhir, China telah berupaya mengurangi ketergantungannya terhadap jalur pengiriman minyak laut," kata Rush Doshi, direktur China Strategy Initiative di Council on Foreign Relations, dikutip dari CNBC International.
Ia menambahkan bahwa pembangunan pipa minyak darat baru serta diversifikasi menuju energi terbarukan membuat China kini hanya bergantung pada Selat Hormuz sekitar 40% hingga 50% dari impor minyak yang dikirim lewat laut.
Selat Hormuz sendiri menghubungkan Teluk Persia dengan Laut Arab serta jalur pelayaran global. Jalur ini merupakan selat sempit dengan Iran di bagian utara serta Oman dan Uni Emirat Arab di bagian selatan.
Sekitar 31% aliran minyak dunia yang dikirim lewat laut melewati Selat Hormuz tahun lalu, atau sekitar 13 juta barel per hari.
Foto: Infografis/Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?/Aristya Rahadian
Kenapa Selat Hormus Jadi Jalur paling vital Minyak dunia?
Namun demikian, pengiriman minyak melalui selat tersebut hanya menyumbang sekitar 6,6% dari total konsumsi energi China, menurut Ting Lu, kepala ekonom China di Nomura.
Sementara itu, impor gas alam melalui jalur tersebut hanya menyumbang sekitar 0,6% dari konsumsi energi China.
Perubahan ini mencerminkan dua dekade transformasi strategis dalam sistem energi China, yang membuat negara tersebut memiliki posisi unik dalam pasar energi global.
2. Transisi Energi Mengurangi Ketergantungan Minyak
Faktor lain yang memperkuat posisi China adalah percepatan transisi energi yang tengah berlangsung di negara tersebut.
Pada 2030, China menargetkan porsi energi non-fosil mencapai 25% dari total konsumsi energi, meningkat dari 21,7% pada 2025.
China saat ini menjadi salah satu negara dengan investasi terbesar di sektor energi terbarukan, mulai dari tenaga surya, angin, hingga nuklir. Selain itu, penetrasi kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di China juga berkembang sangat pesat.
Akibatnya, pertumbuhan konsumsi minyak di China tidak secepat sebelumnya. Kondisi ini membuat ekonomi China relatif lebih tahan terhadap guncangan harga minyak dunia karena China tidak terlalu bergantung pada bahan bakar fosil.
Sementara Amerika Serikat telah meningkatkan produksi minyak domestik selama satu dekade terakhir, China justru dengan cepat melakukan diversifikasi sumber energinya.
Energi terbarukan-tidak termasuk tenaga nuklir dan hidro-menyumbang sekitar 1,2% dari total konsumsi energi China pada 2023, naik dari hanya 0,2% dua dekade sebelumnya, menurut perhitungan CNBC berdasarkan data International Energy Agency (IEA).
Sebagai perbandingan, India dan Amerika Serikat mencatat porsi energi terbarukan yang jauh lebih rendah pada 2023, masing-masing sekitar 0,2%.
Angka tersebut memang masih kecil untuk saat ini. Namun meningkatnya porsi energi terbarukan dalam bauran energi China memiliki implikasi global.
Dorongan besar China terhadap kendaraan listrik (electric vehicles/EV), khususnya pada truk, telah menggantikan permintaan minyak sekitar lebih dari 1 juta barel per hari, menurut laporan Rhodium Group pada Juli 2025.
Perusahaan riset tersebut memperkirakan angka itu akan bertambah sekitar 600.000 barel per hari dalam 12 bulan berikutnya.
Saat ini, lebih dari separuh kendaraan penumpang baru yang terjual di China merupakan kendaraan energi baru (NEV), yang lebih mengandalkan baterai dibandingkan bensin.
"Dengan permintaan bahan bakar transportasi yang sudah mulai menunjukkan tanda-tanda mencapai puncaknya dan kapasitas energi terbarukan yang berkembang pesat, sensitivitas China terhadap fluktuasi harga minyak terus menurun dari tahun ke tahun." tulis analis OCBC.
Menguatnya elektrifikasi transportasi dan ekspansi pembangkit listrik berbasis energi terbarukan dalam jangka panjang akan semakin melindungi ekonomi dari guncangan terkait minyak.
Minyak dan gas alam saat ini hanya menyumbang sekitar 4% dari bauran pembangkit listrik China, jauh lebih rendah dibandingkan 40% hingga 50% yang umum terlihat di banyak negara Asia lainnya.
Energi terbarukan menyumbang sekitar 80% dari tambahan permintaan listrik baru di China pada tahun 2024.
Sebaliknya, listrik-yang sebagian besar dihasilkan dari batu bara dan semakin banyak dari energi terbarukan-kini menyumbang porsi yang terus meningkat dalam total konsumsi energi China, menurut lembaga riset energi Ember.
3. Diversifikasi Sumber Pasokan Energi
Selain memperbesar cadangan dan mempercepat transisi energi, China juga memperluas sumber pasokan energinya.
Dalam beberapa tahun terakhir, China meningkatkan impor energi dari berbagai wilayah seperti Rusia, Afrika, hingga Amerika Latin. Diversifikasi ini mengurangi ketergantungan terhadap satu kawasan pemasok tertentu.
Sanksi Amerika Serikat terhadap Iran juga membuat China menjadi salah satu dari sedikit pembeli minyak Iran.
Iran menyumbang sekitar 20% dari impor minyak China, meskipun sebagian besar volume tersebut sebenarnya dapat digantikan oleh peningkatan impor minyak dari Rusia, kata Ano Kuhanathan, Head of Corporate Research di Allianz Trade.
Risiko yang lebih besar justru berasal dari sekitar 5 juta barel per hari minyak yang diimpor China dari negara-negara Timur Tengah lainnya melalui Selat Hormuz, ujar Kuhanathan.
"Guncangan seperti (perang Iran) ini kemungkinan akan memperkuat arah kebijakan energi yang sudah ditempuh China, bukan mengubahnya," kata Muyi Yang, analis energi senior Asia di Ember.
"Situasi ini menyoroti risiko ketergantungan besar pada impor minyak dan gas. Karena itu, transisi energi bukan hanya soal membangun lebih banyak pembangkit angin dan surya, tetapi juga dekarbonisasi ekonomi secara menyeluruh," ujarnya.
Namun perubahan tidak terjadi dengan mudah. Industri bahan bakar fosil di China didominasi oleh perusahaan milik negara, yang cenderung bergerak lebih lambat dibandingkan perusahaan sektor swasta.
China juga kemungkinan akan terus meningkatkan cadangan minyak mentahnya.
U.S. Energy Information Administration (EIA) pada Februari menyatakan bahwa China diperkirakan akan menambah cadangan strategis sekitar 1 juta barel per hari pada 2026.
Impor minyak mentah China sempat turun hampir 2% pada 2024, menurut Wind Information. Namun ketika ketegangan di Timur Tengah mulai meningkat tahun lalu, impor minyak China justru naik 4,6% hingga mencapai rekor sekitar 580 juta metrik ton.
"China memang cukup terekspos terhadap risiko ini, tetapi juga memiliki fleksibilitas yang lebih besar," kata Go Katayama, principal insight analyst di Kpler.
Dengan kombinasi cadangan strategis yang besar, transisi energi yang cepat, serta sumber pasokan yang semakin beragam, China dinilai memiliki posisi yang relatif lebih kuat untuk menghadapi potensi guncangan minyak global akibat konflik di Timur Tengah.
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)




