Jakarta, CNBC Indonesia - Muncul partai baru di Jepang yang langsung mengguncang DPR negara setempat. Dinamai 'Team Mirai' partai tersebut didirikan engineer AI dan penulis science-fiction, Takahiro Anno (35 tahun) pada Mei 2025 silam.
Dalam pemilihan umum yang digelar pada bulan ini, Team Mirai berhasil mengamankan 11 dari 465 kursi di parlemen. Visinya jelas, yakni mempromosikan teknologi canggih dalam aktivitas pemerintahan.
Beberapa yang menjadi sorotan adalah misi menerapkan chatbot pemerintahan, mendorong bus otomatis tanpa sopir (self-driving bus), serta adopsi teknologi-teknologi canggih lainnya.
"AI serupa api. Semuanya akan berubah," kata Anno, anggota majelis tinggi Jepang, Dewan Penasihat, sejak tahun lalu, dalam sebuah wawancara pekan lalu di kantornya di Tokyo, dikutip dari New York Times, Senin (23/2/2026).
AI dengan cepat mengubah lanskap politik di seluruh dunia. Para pejabat mulai beralih ke chatbot untuk membantu merancang kebijakan. Di Inggris, Denmark, dan tempat lain, kandidat dan partai yang berfokus pada AI mulai muncul dalam surat suara.
Team Mirai yang berarti 'masa depan', membawa semangat penerapan teknologi untuk menggenjot produktivitas pemerintah. Para pemimpinnya ingin menggunakan teknologi agar kerja pemerintah lebih responsif dan efisien.
Berantas Pengangguran dan Korupsi
Selain itu, Team Mirai juga menekankan pentingnya penggunaan teknologi untuk mengatasi permasalahan pengangguran dan korupsi di Jepang. Mereka mengatakan penghematan yang dicapai melalui AI dapat digunakan untuk menurunkan iuran pensiun dan rencana perawatan kesehatan bagi keluarga kelas pekerja.
"Percepat politik yang lambat. Teknologi membuat hidup Anda lebih mudah," tertera dalam brosur kampanye Team Mirai.
Team Mirai yang baru berdiri kurang lebih 9 bulan, memang masih terhitung sebagai partai kecil. Anggota terdaftarnya baru 2.600 orang. Selain itu, 11 kursi dari total 465 kursi yang tersedia terhitung minoritas.
Kendati demikian, sebagai partai berumur jagung dengan sedikit anggota, pencapaian Team Mirai untuk duduk di kursi DPR bisa dibilang cukup mengesankan. Hal ini menunjukkan masyarakat Jepang mulai mendambakan perubahan dalam proses pemerintahan.
Team Mirai tadinya hanya menargetkan 5 kursi di DPR. Namun, hasilnya ternyata dua kali lipat dari target awal. Proposal yang dibawa Team Mirai memperoleh lebih dari 3 juta suara atau setara hampir 7% dari total suara yang diberikan.
Konspirasi Bawa-bawa China
Partai ini juga mengumpulkan banyak dukungan dari kalangan penduduk perkotaan berusia 40-an dan 50-an, menurut jajak pendapat setelah pemungutan suara. Kemenangan itu begitu mengejutkan sehingga teori konspirasi beredar di ranah online yang menyatakan bahwa para engineer tersebut adalah bagian dari operasi pengaruh China.
Menurut para analis, alasan utama di balik kesuksesan Team Mirai adalah sikapnya yang bertentangan dengan iklim politik mainstream di Jepang. Argumennya menekankan soal pajak konsumsi atas makanan yang harus dipertahankan, bukan ditangguhkan. Hal ini bertentangan dengan gagasan populis yang dianut partai-partai lain.
"Para pemilih mungkin tertarik pada pendekatan pemecahan masalah yang 'tidak condong ke kiri maupun ke kanan'," kata Tobias Harris, pendiri firma penasihat Japan Foresight.
Menaklukkan Partai Lama
Kini, para perwakilan terpilih baru dari Team Mirai, dengan usia rata-rata 40 tahun dan gelar dari universitas-universitas ternama, menghadapi tugas yang berat. Mereka harus bekerja sama dengan kelompok-kelompok yang sudah mapan seperti Partai Demokrat Liberal, yang dipimpin Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, untuk menjalankan kebijakan mereka.
Para engineer memiliki ambisi untuk membangun basis data mutakhir yang mengungkap donasi politik dan menjelaskan rancangan undang-undang yang rumit. Namun, mereka harus berurusan dengan birokrasi Jepang, yang terkenal karena kesetiaannya pada mesin faks, disket, dan kertas. Mereka sudah berhadapan dengan peraturan yang melarang laptop dan tablet di beberapa ruang parlemen.
"Ada begitu banyak dokumen," kata Aoi Furukawa, 34, seorang anggota parlemen yang baru terpilih, saat ia bekerja di kantor Anno baru-baru ini.
Papan tulis dipenuhi dengan kata-kata kunci seperti "internet of things" dan "pluralitas telah tiba" tersemat di ruangan tersebut.
Furukawa yang sebelumnya bekerja sebagai engineer di Silicon Valley, menilai ada kesamaan antara pemrograman dan penulisan undang-undang.
"Banyak orang percaya pada pandangan kami tentang masa depan," katanya.
Partai tersebut telah memanfaatkan sentimen di antara beberapa pemilih bahwa Jepang perlu bergerak lebih cepat untuk mengembangkan dan menerapkan AI. Meskipun robot telah lama menjadi bagian dari budaya Jepang, negara tersebut tertinggal dari negara-negara seperti AS dan China dalam mengadopsi AI.
Momen Kunci Team Mirai
Tim Mirai mendapatkan momentum pada Juli lalu, ketika Anno memenangkan kursi pertama partai tersebut di parlemen. Dalam pemilihan majelis rendah pada 8 Februari 2026, Team Mirai mengajukan 14 kandidat yang terdiri dari 11 pria dan 3 wanita.
Masing-masing meraih gelar dari institusi bergengsi seperti Universitas Tokyo, Universitas California Berkeley, dan London Business School. Beberapa juga memiliki pengalaman kerja di perusahaan seperti IBM dan Sony.
Para kandidat menyampaikan gagasan bahwa teknologi dapat membantu mengatasi masalah sehari-hari, seperti meningkatnya biaya hidup. Mereka berbicara tentang perlunya Jepang berinvestasi dalam penelitian ilmiah.
Partai tersebut menggunakan chatbot untuk menjelaskan dan mendapatkan masukan (feedback) tentang proposal mereka, termasuk pemotongan pajak untuk keluarga dengan anak-anak, serta penerapan bus tanpa sopir.
Para anggota legislatif baru dari Team Mirai mulai bertugas di parlemen pada pekan ini. Anno mengungkapkan harapannya bahwa mereka bisa memberikan dampak nyata yang bisa dirasakan masyarakat.
Anno, yang juga menerbitkan novel science-fiction berjudul 'Circuit Switcher', mengatakan beberapa orang di negara Barat mungkin melihat AI sebagai pembunuh pekerjaan manusia. Namun, ia mengatakan Jepang berbeda.
Di Jepang, menurutnya, orang lebih cenderung mengaitkan teknologi tersebut dengan Doraemon, kucing robot yang menggemaskan dari serial manga populer.
"Orang Jepang tidak takut pada AI," katanya. "Kami sudah terbiasa melakukan berbagai hal dengan AI," ujarnya.
(fab/fab)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5351436/original/075591100_1758049411-noqcog0f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5403623/original/076212200_1762332363-PSS.jpg)

