Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala BKN sekaligus Wakil Ketua BPASN, Zudan Arif Fakhrulloh, memutuskan pemberhentian 13 ASN dalam sidang banding administratif, Kamis (27/11/2025). Mereka terseret berbagai pelanggaran. Mulai dari tidak masuk kerja, pemalsuan dokumen, jadi istri kedua, hidup bersama, perceraian tanpa izin, pelanggaran integritas, hingga penyalahgunaan wewenang dan pungutan liar.
Aksi tegas ini dinilai positif dan berbanding terbalik dengan salah satu perilaku serupa pada era kolonial, yakni perselingkuhan. Perlu diketahui, sejarah mencatat para ambtenaar (PNS era kolonial Hindia Belanda) yang sudah menjadi pejabat tinggi banyak melakukan skandal asmara tersebut, tetapi tak dipecat.
Kejadian ini menjadi kelaziman sejak 1816. Menurut sejarawan Peter Carey dalam Ras, Kuasa, dan Kekerasan Kolonial di Hindia Belanda (2023), terjadi kemerosotan moral akibat gaya hidup orang Eropa yang melakukan mabuk-mabukan, pesta tanpa batas, dan hubungan perempuan lokal. Tentu, perilaku ini dianggap asing dan tidak sesuai dengan nilai setempat. Atas dasar ini, orang-orang Jawa menyebutnya sebagai zaman baroe datang.
Salah satu penyebab umum perselingkuhan, kata Carey, ialah kondisi para pejabat yang sulit membawa istri sah dari Belanda karena biaya perjalanan dan penempatan yang mahal. Keberadaan mereka yang jauh dari keluarga membuka ruang bagi godaan untuk menjalin hubungan gelap.
Yogyakarta menjadi salah satu panggung utama skandal para ambtenaar. Salah satunya terjadi pada Residen Nahuys van Burgst (1816-1822) yang mencuri perhatian karena keberaniannya berhubungan secara terang-terangan dengan perempuan lain. Parahnya, perempuan lain itu bernama Anna Luisa, yang juga pasangan dari teman dan rekan kerjanya sendiri, yakni Asisten-Residen R.C.N. d'Abo.
Carey menyebut Pangeran Diponegoro sampai dibuat bingung oleh hubungan segitiga yang melibatkan dua pejabat kolonial dan seorang perempuan yang sama.
"Sang Pangeran merasa bingung mengenai hubungan segitiga di mana sang residen dan wakilnya, Asisten-Residen R.C.N d'Abo, tampaknya memiliki hubungan dengan seorang perempuan yang sama," ungkap Peter Carey.
Lebih jauh lagi, dari hubungan terlarang itu, seorang anak dilahirkan. Mau tidak mau, pada 12 September 1824, Nahuys akhirnya menikahi Anna di Yogyakarta. Namun, bagaimana akhir dari dinamika rumit antara Nahuys dan bawahannya itu tidak pernah tercatat jelas dalam arsip.
Skandal tersebut belum seberapa dibanding kasus yang melibatkan Pierre Frederic Henri Chevallier (1795-1825) dan Johannes Godlieb Dietree (1782-1826). Carey menggambarkan keduanya sebagai pejabat kolonial dengan reputasi buruk. Bahkan dijuluki predator seksual. Mereka disebut kerap meniduri banyak perempuan Jawa, termasuk beberapa selir milik Pangeran Diponegoro.
Dalam salah satu peristiwa, Diponegoro mendapati ada selirnya yang menjalin hubungan dengan Chevallier. Sang Pangeran langsung menolak perempuan tersebut masuk kembali ke kediamannya karena merasa dia telah "disentuh" Reaksi itu memicu kemarahan Chevallier yang kemudian dengan arogan menyatakan bahwa dia bebas melakukan apa pun terhadap "perempuan pribumi," bahkan sampai memukul kepala Diponegoro.
"Dia berkata 'Akan melakukan apapun yang dia inginkan terhadap para perempuan pribumi' dan memukul kepala sang Pangeran," tulis Carey.
Insiden yang menghina martabat bangsawan Jawa ini diyakini menjadi salah satu pemantik yang memperlebar jurang konflik hingga akhirnya meledak menjadi Perang Diponegoro yang berlangsung lima tahun.
Seiring waktu, fenomena serupa semakin marak. Banyak pejabat kolonial terlibat dalam perebutan perempuan pribumi, terkadang dengan bantuan tokoh dalam istana. Mayor Tumenggung Wironegoro, komandan kesayangan Sultan, bahkan disebut-sebut sebagai penyedia perempuan keraton bagi pejabat Eropa yang sedang "memburu" hubungan terlarang.
Situasi ini dimungkinkan karena Yogyakarta kala itu cukup terisolasi. Jarak dengan Belanda yang sangat jauh membuat kabar perselingkuhan sulit mencapai telinga istri sah para pejabat di Eropa. Dengan kata lain, bagi banyak pejabat kolonial, skandal asmara di Yogyakarta berlangsung dalam ruang yang "aman" dan jauh dari pengawasan keluarga.
(mfa/wur)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5319082/original/060228700_1755504247-pspr.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339916/original/010495200_1757135510-20250904AA_Timnas_Indonessia_Vs_China_Taipei-108.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4939096/original/049996300_1725747991-000_36FT7CN.jpg)



