Pekan Berat untuk RI, Badai Data dari China dan AS Siap Menghantam

3 days ago 3
  • Pasar keuangan RI ditutup kompak pada zona penguatan baik IHSG, Rupiah, maupun SBN
  • Wall Street juga kompak di zona penguatan
  • Perkembangan perang hingga beragam data ekonomi akan menjadi penggerak utama pasar pada hari ini

Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan dalam negeri ditutup kompak menguat pada perdagangan kemarin Jumat (10/7/2026). Bursa saham, rupiah, dan Surat Berharga Negara (SBN) ditutup menguat walaupun perang di Timur Tengah mulai menunjukkan keretakan.

Pasar keuangan Indonesia diperkirakan akan masih menghadapi tantangan pada hari ini dan satu pekan ke depan di tengah banyaknya pengumuman penting. Selengkapnya mengenai proyeksi pasar hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat pada perdagangan Jumat (10/7/2026), di tengah dominasi sentimen global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Merujuk data Bursa Efek Indonesia (BEI), pada akhir perdagangan sesi kedua IHSG naik 11,92 poin atau 0,20% ke level 5.924,36.

Sebanyak 364 saham menguat, 241 saham melemah, dan 185 saham bergerak stagnan, dengan nilai transaksi yang relatif sepi atau hanya mencapai Rp 8,86 triliun dan melibatkan 18,51 miliar saham dalam 1,91 juta kali transaksi.

Pasar juga ditutup tercatat masih mengalami net outflow pada sesi perdagangan tersebut sebesar Rp 421,70 miliar mengindikasikan year to date sebesar Rp 76,15 triliun.

Mengutip data Refinitiv, sektor barang baku, properti, energi dan finansial menguat sedangkan sektor infrastruktur dan teknologi tertekan paling dalam.

IHSG masih bergerak volatil pada perdagangan kemarin di tengah dominasi sentimen global. Memanasnya kembali konflik di Timur Tengah, peringatan Dana Moneter Internasional (IMF) terkait meningkatnya risiko ekonomi global, hingga prospek suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama masih menjadi perhatian pelaku pasar.

Di sisi lain, pelemahan indeks dolar Amerika Serikat (AS) ikut menjadi sentimen positif bagi nilai tukar rupiah. Dari dalam negeri, perhatian investor tertuju pada peluncuran mandatori biodiesel B50 oleh Presiden Prabowo Subianto, sementara Bank Indonesia (BI) melaporkan penjualan ritel masih mengalami kontraksi secara bulanan meski menunjukkan perbaikan dibandingkan bulan sebelumnya.

Pelaku pasar juga mencermati data ekonomi AS yang menunjukkan klaim pengangguran tetap rendah, serta langkah Federal Reserve membentuk sejumlah gugus tugas untuk mengevaluasi arah kebijakan moneter ke depan.

Lanjut ke mata uang Rupiah, Mata uang Garuda berhasil menutup perdagangan terakhir pekan lalu dengan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS).

Penguatan terjadi di tengah pelemahan indeks dolar AS.Melansir data Refinitiv, nilai tukar rupiah ditutup di posisi Rp18.045/US$ atau terapresiasi 0,14% pada perdagangan Jumat (10/7/2026). Penguatan ini sekaligus membalikkan posisi rupiah pada penutupan perdagangan sebelumnya, ketika mata uang Garuda ditutup di level terlemah dalam sebulan terakhir.

Sepanjang perdagangan Jumat kemarin, rupiah sejatinya sudah dibuka menguat pada pagi tadi. Penguatan tersebut berlanjut hingga penutupan perdagangan, dengan rupiah bergerak di rentang Rp18.045-Rp18.075/US$.

Sementara itu, indeks dolar AS (DXY), yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia, per Jumat pukul 15.00 WIB terpantau terkoreksi 0,11% ke level 100,788.

Pergerakan rupiah pada perdagangan kemarin mendapat angin segar dari pelemahan indeks dolar AS di pasar global.

Dolar AS melemah untuk sesi kedua beruntun setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali melancarkan serangan. Meski ketegangan Timur Tengah kembali meningkat, pelaku pasar juga mencermati perkembangan harga minyak dan prospek inflasi global.

Iran disebut melancarkan serangan ke infrastruktur militer AS di negara-negara Teluk setelah AS menyerang wilayah pesisir selatan dan provinsi timur Iran. Eskalasi ini kembali menekan kesepakatan gencatan senjata yang baru berjalan sekitar tiga pekan.

Namun, harga minyak justru turun dari posisi tertingginya. Minyak mentah AS melemah ke US$71,57 per barel, sementara Brent turun ke US$75,72 per barel.

Pelemahan ini terjadi karena pasar mulai mempertimbangkan risiko bahwa inflasi yang lebih tinggi dapat menekan pertumbuhan global, meski kekhawatiran pasokan energi masih ada.

Selain geopolitik, pasar juga mencermati arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed). Risalah rapat The Fed periode 16-17 Juni, yang menjadi rapat pertama di bawah Ketua The Fed Kevin Warsh, menunjukkan kekhawatiran terhadap inflasi masih meningkat di antara para pejabat bank sentral.

Sejumlah pejabat bahkan melihat adanya alasan untuk menaikkan suku bunga segera. Namun, ekspektasi pasar terhadap kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan 28-29 Juli justru sedikit mereda.

Berdasarkan CME FedWatch Tool, peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan Juli turun menjadi 26,2%, dari 31% pada sesi sebelumnya. Namun, angka tersebut masih lebih tinggi dibandingkan proyeksi sebesar 18,2% pada pekan lalu.

Sementara di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun turun ke 7,221% pada Jumat (10/7/2026), dari hari sebelumnya yang ditutup di 7,281%.

Turunnya nilai imbal hasil ini mengindikasikan bahwa investor mulai membeli obligasi tersebut sehingga harga naik.

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |