Pemerintah Sudah Setujui Hampir 400 Juta Ton Batu Bara untuk RKAB 2026

6 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengaku sudah menerbitkan izin produksi batu bara pada Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 sebanyak hampir 400 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Dirjen Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno memastikan bahwa pemerintah bekerja secara intensif untuk merampungkan seluruh permohonan RKAB yang diajukan oleh para pelaku usaha.

Pemerintah menargetkan produksi batu bara pada RKAB 2026 mencapai kurang lebih 600 juta ton.

"(Persetujuan RKAB batu bara) 390-an (juta ton) mau menuju 400 (juta ton)," ungkap Tri saat ditemui di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Tri mengungkapkan bahwa proses persetujuan RKAB juga terus berprogres untuk nikel. Ia mencatat hingga saat ini, pemerintah telah memberikan lampu hijau untuk lebih dari 100 juta ton permohonan RKAB produksi nikel tahun ini.

"Nikelnya mungkin seratusan (juta ton) something lah," tambahnya.

Terkait keluhan mengenai proses penerbitan RKAB yang dinilai memakan waktu, pihaknya mengatakan adanya tantangan dalam penggunaan sistem pengajuan yang baru. Transisi ke aplikasi digital baru ini menuntut waktu adaptasi agar data yang dimasukkan oleh pelaku usaha selaras dengan sistem verifikasi kementerian.

"Aplikasi baru kan kadang-kadang belum bisa menyamakan. Dua-duanya antara perusahaan sama pemerintah aktif semua loh ya. Kalau misalnya ini enggak aktif ya enggak bisa," tandasnya.

Pemerintah pangkas produksi

Pemerintah memutuskan untuk memangkas target produksi batu bara dan nikel pada tahun ini di dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) tahun 2026. Hal ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara pasokan dan permintaan komoditas tersebut di pasar global, sehingga pada akhirnya bisa mendongkrak harga komoditas tahun ini.

Batu bara

Untuk sektor batu bara, pemerintah berencana memangkas produksi pada 2026 menjadi kurang lebih sekitar 600 juta ton. Angka tersebut mengalami penurunan sekitar 190 juta ton dibandingkan realisasi produksi 2025 sebesar 790 juta ton.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan, pemangkasan target produksi ini ditujukan guna mendorong harga batu bara kembali naik dan menjaga cadangan batu bara ke depannya.

Menurut dia, Indonesia sendiri menyuplai sekitar 514 juta ton batu bara atau 43% dari total volume perdagangan dunia yang mencapai 1,3 miliar ton per tahun. Kondisi inilah yang menjadi biang kerok jatuhnya harga batu bara.

"Akibatnya apa supply and demand tidak terjaga, artinya harga batu bara turun. Lewat kesempatan berbahagia ini, Kementerian ESDM sudah rapatkan dengan Dirjen Minerba, kita akan lakukan revisi terhadap kuota RKAB. Jadi, produksi kita akan turunkan supaya harga bagus dan tambang kita untuk cucu kita," ujar Bahlil, dikutip Senin (19/1/2026).

Nikel

Selain batu bara, pemerintah juga akan menyesuaikan produksi nikel yang selaras dengan kebutuhan industri hilir di dalam negeri.

Setidaknya, Kementerian ESDM bakal memangkas target produksi nikel menjadi sekitar 250-260 juta ton. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan RKAB 2025 yakni sebesar 379 juta ton.

Direktur Jenderal Mineral dan Batu Bara (Minerba) Kementerian ESDM Tri Winarno mengatakan, penyesuaian dilakukan berdasarkan kebutuhan smelter dalam negeri.

"Nikel kita sesuaikan dengan kapasitas produksi dari smelter. Kemungkinan sekitar 250-260 juta ton," kata Tri Winarno ditemui di Kementerian ESDM, Rabu (14/1/2026).

Tri mengakui kebijakan pemangkasan produksi nikel merupakan salah satu strategi yang digunakan untuk mendorong kenaikan harga nikel. Terbukti setelah rencana akan diterapkan, harga nikel di pasar global sempat tembus US$ 18.000 per ton.

Ia mengungkapkan hingga saat ini, proses evaluasi RKAB masih berlangsung, seiring dengan penggunaan aplikasi baru. Namun secara umum, seluruh proses berjalan dengan baik, terlebih RKAB yang ada masih dapat digunakan hingga Maret.

"Tapi jangan dianggap ini membuat gangguan terhadap persen RKAB, itu nggak pas. Semua baik-baik saja. Kan sampai Maret juga kita bisa pakai," katanya.

(wia)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |