Pencari Kerja Serbu Jakarta Demi Ubah Nasib, Apa Daya Gini Kondisinya

7 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Lonjakan pendatang baru ke Jakarta usai Lebaran kembali menjadi sorotan. Di tengah arus urbanisasi yang tak terbendung, pelaku industri justru menghadapi kenyataan pahit, di mana lapangan kerja formal kian terbatas, bahkan tergerus oleh gelombang efisiensi dan pemutusan hubungan kerja (PHK).

Wakil Ketua Dewan Pimpinan Provinsi (DPP) Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) DKI Jakarta, Nurjaman, mengatakan fenomena urbanisasi pasca-Idulfitri sejatinya bukan hal baru. Katanya, Jakarta masih menjadi magnet ekonomi yang kuat bagi para pencari kerja dari daerah.

"Hal ini disebabkan karena Jakarta masih menjadi magnet untuk ekonomi," kata Nurjaman kepada CNBC Indonesia, Kamis (26/3/2026).

Selain itu, Jakarta masih dipersepsikan sebagai kota dengan peluang kerja yang lebih mudah diakses.

"Bahwa mencari nafkah di Jakarta gampang, lapangan kerja di Jakarta gampang kan seperti itu," sambungnya.

Namun di balik daya tarik tersebut, kondisi riil di lapangan justru menunjukkan keterbatasan peluang kerja, khususnya di sektor formal. Dunia usaha saat ini tidak dalam kondisi ekspansif.

"Nah kami dari dunia usaha, sebenarnya kondisi-kondisi saat ini lapangan kerja yang formal itu sangat terbatas sekali. Sejujurnya terbatas bahkan terjadi kan gejolak PHK di mana-mana, artinya dari daerah mencari kerja ke Jakarta, tapi di internal perusahaan pun juga terjadi ada efisiensi," kata Nurjaman.

Kondisi ini menciptakan paradoks, yang mana jumlah pencari kerja meningkat, sementara ketersediaan pekerjaan formal justru menyusut. Alhasil, banyak pendatang berpotensi tidak terserap pasar kerja formal.

Nurjaman juga menegaskan, peluang kerja yang masih terbuka saat ini lebih banyak berada di sektor non-formal.

"Iya di sektor non formal, kalau di sektor formal yang ada di situ pengurangan tenaga kerja," sebut dia.

Di sisi lain, arus urbanisasi yang terus terjadi juga berpotensi menambah beban pengangguran di Jakarta. Menurut Nurjaman, setiap pendatang yang datang untuk mencari kerja pada dasarnya masuk dalam kategori penganggur baru.

"Karena orang dari daerah datang ke sini untuk mencari pekerjaan, kan mencari pekerjaan itu tandanya penganggur. Nah itu yang mesti disikapi oleh kita semuanya," tegasnya.

Meski demikian, ia mengakui urbanisasi tidak sepenuhnya berdampak negatif. Jika terserap dengan baik, tambahan angkatan kerja justru dapat mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Tapi ada untungnya, ada positifnya, begitu terserap angkatan kerja yang ada, maka pertumbuhan pun akan naik kan, karena ada pergerakan," ucap Nurjaman.

Untuk itu, ia menekankan perlunya peran aktif pemerintah, baik pusat maupun daerah, dalam menciptakan lapangan kerja baru, tidak hanya di Jakarta tetapi juga di daerah asal para pencari kerja.

"Nah semestinya pemerintah juga tanggap bahwa fenomena ini apakah harus terus-menerus begini? Sehingga yang mampu menciptakan magnet tersendiri itu daerah harus bagaimana menciptakan adanya lapangan kerja di daerah," katanya.

Senada dengan itu, Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, menyebut fenomena membludaknya pencari kerja usai Lebaran memang pola yang berulang setiap tahun.

"Pencari kerja (job seeker) memang marak setelah Lebaran, biasanya mengikuti seniornya yang telah lebih dulu di Jakarta. Biasanya dari mereka yang tidak terlalu tinggi pendidikannya dan bersedia bekerja apa saja termasuk sektor informal," kata Bob dihubungi terpisah.

Ia juga menyoroti minimnya ekspansi perusahaan di tengah tekanan global, termasuk krisis minyak akibat konflik geopolitik.

"Secara sektoral tidak terlalu banyak perusahaan yang punya rencana ekspansi, apalagi di tengah krisis minyak yang dipicu perang Iran. Kalau toh ada, itu sangat terbatas sekali menggantikan mereka yang resign atau mengundurkan diri," jelasnya.

Dengan kondisi tersebut, peluang kerja formal semakin sempit, sehingga mayoritas pencari kerja berpotensi terserap di sektor informal.

"Jadi kemungkinan besar mereka bekerja di sektor informal. Saat ini sektor informal cukup besar, di kita mungkin lebih dari 60%, dan pengangguran tinggi juga, terjadi terutama di kalangan anak muda 16-30 tahun," pungkas dia.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |