Perak Bangkit di Akhir Pekan, Pasar Menanti Arah Suku Bunga The Fed

3 hours ago 3

Emanuella Bungasmara Ega Tirta,  CNBC Indonesia

26 July 2026 16:45

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga perak menutup perdagangan pekan ini dengan kenaikan setelah sempat mengalami tekanan tajam sehari sebelumnya.

Menurut Refinitiv harga spot perak (XAG=) berada di US$58,165 per troy ounce pada Jumat (24/7/2026), naik 0,85% dibandingkan penutupan Kamis (23/7/2026) di level US$57,675 per troy ounce.

Dalam sepekan, pergerakan perak masih berada di zona positif. Dibandingkan penutupan Jumat pekan lalu di US$55,90 per troy ounce, harga telah naik sekitar 4%. Kenaikan tersebut sempat membawa perak menembus US$60 per troy ounce pada pertengahan pekan sebelum kembali terkoreksi.

Pergerakan harga sepanjang pekan berlangsung sangat fluktuatif. Pada Senin (20/7), harga naik ke US$56,415 per troy ounce dari US$55,90 pada akhir pekan sebelumnya. Reli berlanjut hingga Selasa (21/7) di US$58,785, lalu menyentuh US$59,705 pada Rabu (22/7). Tekanan jual muncul pada Kamis sehingga harga anjlok ke US$57,675 sebelum kembali pulih pada perdagangan Jumat.

Arah pasar selama sepekan dipengaruhi dua sentimen utama, yakni perkembangan konflik di Timur Tengah dan ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat.

Ketegangan di kawasan Teluk sempat mendorong harga minyak mentah melonjak. Risiko gangguan pasokan energi meningkatkan kekhawatiran inflasi global bertahan lebih lama. Kondisi tersebut ikut mengerek imbal hasil obligasi pemerintah AS karena pelaku pasar memperkirakan bank sentral akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Kenaikan imbal hasil menjadi tekanan bagi aset yang tidak memberikan bunga seperti emas dan perak. Hubungan ini terlihat jelas pada perdagangan Kamis ketika perak kehilangan lebih dari 3% dalam sehari setelah pasar kembali memperhitungkan peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

Namun tekanan itu mereda pada Jumat. Harga minyak Brent turun lebih dari 4% setelah sehari sebelumnya sempat ditutup di atas US$100 per barel. Penurunan harga energi membuat kekhawatiran inflasi sedikit berkurang sehingga perak berhasil menghapus sebagian pelemahan sebelumnya. Reuters juga mencatat aksi beli pada level harga yang lebih rendah ikut menopang pasar logam mulia menjelang keputusan bank sentral Amerika Serikat.

Fokus investor kini mengarah pada rapat Federal Reserve pekan depan. Konsensus pasar memperkirakan suku bunga akan dipertahankan, meski pelaku pasar masih memberikan peluang sekitar 80% untuk kenaikan suku bunga pada September. Di Eropa, Bank Sentral Eropa (ECB) telah menahan suku bunga sesuai ekspektasi, namun tetap membuka peluang pengetatan lanjutan pada pertemuan berikutnya.

Dari sisi teknikal, level US$60 per troy ounce kembali menjadi area penting. Sepanjang tahun ini harga beberapa kali gagal bertahan di atas level tersebut. Selama perak masih bergerak di bawah US$60, pasar masih akan sangat sensitif terhadap perubahan ekspektasi suku bunga dan pergerakan imbal hasil obligasi AS. Sebaliknya, apabila mampu menembus dan bertahan di atas level tersebut, ruang penguatan berpotensi kembali terbuka.

CNBC Indonesia Research

(emb/emb)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |