Petinggi Intelijen AS Mundur, Tolak Perang Iran dan Kecam Israel

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Perang yang dimulai Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran sudah memasuki minggu ketiga. Salah satu pejabat keamanan senior di pemerintahan Presiden AS Donald Trump tiba-tiba mengundurkan diri dan mengungkap fakta mengejutkan.

Joe Kent, Kepala Pusat Kontraterorisme Nasional, merupakan pejabat senior pertama di pemerintahan Trump yang memutuskan mengundurkan diri gara-gara tak setuju dengan perang yang dilancarkan di Iran. Ia juga terang-terangan menyebut Israel sebagai biang kerok kekacauan di Timur Tengah saat ini.

"Dengan hati nurani yang bersih, saya tidak dapat mendukung perang yang sedang berlangsung di Iran. Iran tidak menimbulkan ancaman langsung bagi negara kita, dan jelas bahwa kita memulai perang ini karena tekanan dari Israel dan lobi kuatnya," tulis Kent dalam sebuah surat yang diunggah ke media sosial, dikutip dari Reuters, Rabu (18/3/2026).

Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan surat Kent kepada Trump berisi "klaim palsu".

"Seperti yang telah dinyatakan Presiden Trump dengan jelas dan eksplisit, ia memiliki bukti yang kuat dan meyakinkan bahwa Iran akan menyerang Amerika Serikat terlebih dahulu," kata Leavitt.

"Bukti ini dikumpulkan dari banyak sumber dan faktor," ujarnya.

Kent tidak menanggapi permintaan komentar dan Kantor Direktur Intelijen Nasional, yang mengawasi Pusat Kontraterorisme, juga tidak segera menanggapi.

Kent selama ini lantang menentang intervensi militer AS di luar negeri. Kendati demikian, pengumuman pengunduran diri Kent tetap dinilai mengejutkan, kata seorang pejabat AS. Kent dekat dengan Direktur Intelijen Nasional Tulsi Gabbard.

Gabbard belum mengeluarkan pernyataan publik apa pun sejak perang AS-Israel ke Iran. Ia hanya muncul di depan umum selama prosesi pemindahan jenazah tentara AS yang tewas selama konflik tersebut.

Dewan Intelijen Nasional, yang diawasi oleh kantor Gabbard, mengeluarkan beberapa penilaian, baik sebelum maupun setelah serangan AS dimulai yang menyoroti risiko intervensi AS.

Laporan-laporan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah Iran kemungkinan besar tidak akan runtuh dan Iran kemungkinan akan membalas dendam terhadap pos-pos terdepan AS di kawasan itu dan sekutu-sekutu di Timur Tengah, seperti yang dilaporkan Reuters sebelumnya.

(fab/fab)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |