Pokoknya Jangan Ikut Tersesat Klaim Herbal Bisa Obati TBC-Ini Faktanya

9 hours ago 4
Daftar Isi

Jakarta, CNBC Indonesia - Tuberkulosis (TBC) menjadi penyakit yang terbilang cukup tinggi kasusnya di Indonesia, di mana sudah bertahun-tahun Indonesia melawan penyakit ini.

Namun sayangnya, pengetahuan masyarakat akan TBC masih dinilai kurang, sehingga penanggulangan penyakit TBC masih cukup sulit. Apalagi baru-baru ini, masyarakat sempat dihebohkan oleh banyaknya influencer atau selebgram yang mengaku pengobatan herbal dapat mencegah dan mengobati TBC.

Sontak, konten ini memicu perdebatan panas. Tidak sedikit warganet yang penasaran, dari mana influencer tersebut mendapatkan informasi terkait herba dan TBC. Bahkan, sebagian juga menuding ini adalah informasi yang tidak benar.

Merespons konten viral tersebut, dokter spesialis paru, Prof Dr dr Erlina Burhan, MSc, SpP(K) menegaskan bahwa ini adalah informasi yang keliru. Bahkan, bisa berubah berbahaya jika ada pasien atau keluarga yang menelannya mentah-mentah.

"Sebagai dokter spesialis paru yang setiap hari menangani pasien TB, saya merasa perlu meluruskan. Klaim seperti ini tidak hanya keliru, tapi berbahaya. Saya sudah melihat sendiri bagaimana pasien datang dalam kondisi parah karena sebelumnya memilih 'alternatif' yang tidak tepat," tulis Prof Erlina di X, dikutip dari detikHealth, Sabtu (21/3/2026).

Menurut Prof Erlina, sampai saat ini satu-satunya cara yang terbukti secara ilmiah dan medis untuk menyembuhkan TBC adalah dengan Obat Anti Tuberkulosis atau OAT. Kombinasi obat ini terdiri dari Isoniazid, Rifampicin, Pyrazinamide, dan Etambutol.

"Obat ini harus diminum rutin selama minimal 6 bulan. Tidak boleh terputus, apalagi berhenti di tengah jalan. Dalam praktik saya, pasien yang sembuh adalah mereka yang disiplin minum obat sampai tuntas," katanya.

Kemenkes: Jangan Sampai Tersesat!

Sementara itu, Juru Bicara (Jubir) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Widyawati meminta masyarakat tidak 'tersesat' dalam mencari informasi terkait penyembuhan TBC.

"Penyakit TBC hanya dapat disembuhkan hanya dengan meminum obat antibiotik yang spesifik membunuh bakteri penyebab TBC yaitu obat anti-TBC atau OAT," kata Widyawati, dilansir dari detikHealth.

Menurut Kemenkes, jalur pengobatan ini dianggap paling aman dan terpercaya karena sudah melalu banyak pengujian secara ilmiah.

"Serta diberikan dengan standar pengobatan oleh tenaga kesehatan," tambah Widyawati.

Kemenkes menyadari masih banyaknya informasi salah yang beredar di masyarakat, sehingga ini perlu menjadi perhatian khusus agar tak keliru dalam penanganan TBC.

"Di masyarakat memang banyak beredar informasi saat ini bahwa TBC bisa sembuh hanya dengan mengonsumsi obat herbal. Perlu dipahami bahwa hingga saat ini belum ada bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa obat herbal dapat menyembuhkan TBC," ucap Widyawati.

Eks Direktur WHO Ingatkan Bahaya

Bahkan, mantan Direktur Penyakit Menular Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) Prof. Tjandra Yoga Aditama, angkat bicara dan mengingatkan bahaya informasi menyesatkan tersebut.

Tjandra menjelaskan, OAT yang digunakan di berbagai negara, termasuk Indonesia, telah melalui proses penelitian panjang dan ketat.

"Dimulai dari uji klinis double blind case control trial, kemudian dilanjutkan multi center study di berbagai negara, hingga dianalisis oleh para pakar internasional di WHO dan masing-masing negara," jelasnya.

Dengan proses tersebut, validitas ilmiah OAT dinilai sangat tinggi dan dapat dipertanggungjawabkan. Tak hanya dari sisi penelitian, OAT juga telah digunakan selama bertahun-tahun di berbagai negara dan terbukti mampu mencapai angka kesembuhan yang diharapkan.

Hal ini berbeda dengan klaim penggunaan herbal yang, hingga kini, belum memiliki bukti ilmiah kuat untuk mencegah maupun mengobati TBC.

"Kalau ada klaim obat bermanfaat, tentu harus mengikuti kaidah ilmu pengetahuan," tegasnya.

Tjandra menekankan, sampai saat ini belum ada penelitian yang membuktikan bahwa obat herbal tertentu efektif untuk mencegah atau menyembuhkan TBC.

Karena itu, masyarakat diminta tidak mudah percaya pada klaim yang belum teruji secara ilmiah. Informasi yang menyesatkan dapat berdampak serius jika pasien menghentikan pengobatan OAT.

Ada tiga risiko yang akan dihadapi dari pengobatan herbal tersebut, mulai dari penyakit yang tak kunjung sembuh, kondisi pernapasan makin berat hingga berisiko kematian, dan penularan ke orang sekitar makin tidak terhindari.

Selain itu, penghentian atau penggantian OAT dengan terapi yang tidak tepat juga bisa memicu resistensi obat, bahkan berkembang menjadi kasus kebal obat atau multi drug resistance (MDR).

Tjandra mengimbau masyarakat untuk selalu merujuk informasi kesehatan dari sumber resmi seperti WHO, Kementerian Kesehatan, maupun organisasi profesi seperti Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI).

"Kesehatan adalah aset yang sangat berharga, sehingga penanganannya harus dilakukan secara tepat dan berdasarkan bukti ilmiah, bukan sekadar informasi sesaat," ucapnya.

Pengobatan jangka panjang TBC

Erlina menjelaskan TBC merupakan penyakit yang membutuhkan waktu cukup lama untuk penyembuhan. Hal ini karena kuman bernama Mycobacterium tuberculosis tumbuh lambat dan dapat 'tidur' dalam tubuh.

"Pengobatan TBC tidak bisa disederhanakan dengan ramuan herbal. Apalagi jika pasien sampai berhenti minum obat dan beralih ke herbal. Dalam pengalaman saya, pasien yang melakukan ini sering datang kembali dengan kondisi lebih parah dan kuman yang sudah kebal obat," ungkap Erlina.

Saat resisten obat terjadi, maka kondisinya akan lebih sulit diobati. Dibutuhkan waktu 18-24 bulan dengan obat yang lebih banyak, efek samping lebih berat, serta biaya yang tak lagi murah.

"Lalu bagaimana dengan pencegahan penularan? Herbal juga tidak bisa diandalkan," katanya.

"Kuman TB menyebar lewat udara. Saat pasien batuk atau bersin, kuman bisa bertahan dan dihirup orang lain. Pencegahannya adalah etika batuk, pakai masker, jaga jarak, dan pola hidup sehat," sambungnya.

Sementara itu, menurut dr. Inggris, tanaman herbal atau resep-resep alami tertentu bisa dipakai untuk pengobatan pendukung. Tentu dengan memprioritaskan obat TBC utama yakni OAT yang harus diminum sesuai anjuran dokter.

"Misalnya supaya obat-obat medis konvensional ini bekerja lebih efektif. Terus juga herbal itu bisa membantu mencegah dan mengobati efek samping dari obat TBC," kata dr Inggris.

Adapun dr. Inggris menambahkan efek samping dari pengobatan TBC cukup bervariasi, mulai dari gangguan fungsi liver hingga gejala umum seperti mual, muntah, dan sakit kepala.

"Pada sebagian pasien kadang terjadi efek samping, misalnya gangguan fungsi liver, ada peningkatan enzim SGOT dan SGPT ketika dicek lab darah. Misal mengeluh mual, muntah, sakit kepala, intinya gangguan fungsi liver," tutupnya.

(dce)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |