Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
14 April 2026 12:35
Jakarta, CNBC Indonesia - Porsi kepemilikan investor asing di Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia terus menurun.
Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan per 10 April 2026, porsi kepemilikan asing di pasar SBN tercatat tinggal 12,58%. Posisi ini menjadi yang terendah sejak November 2006 atau 19 tahun lebih, ketika porsinya masih berada di 12,34%.
Data tersebut menunjukkan investor asing masih terus mengurangi eksposurnya di pasar obligasi pemerintah Indonesia. Di tengah tingginya ketidakpastian global, kuatnya dolar Amerika Serikat (AS), serta masih sensitifnya pasar keuangan terhadap sentimen eksternal, minat asing terhadap SBN domestik terlihat belum pulih sepenuhnya.
Merujuk data DJPPR, kepemilikan asing di SBN pada awal 2026 masih berada di level 13,17% pada Januari. Setelah itu, porsinya turun menjadi 12,97% pada Februari, kembali turun ke 12,61% pada Maret, dan menyusut lagi ke 12,58% per 10 April 2026.
Artinya, sejak awal tahun hingga 10 April 2026, porsi kepemilikan asing di SBN telah turun 0,59 poin persentase. Jika dibandingkan dengan posisi April 2025 yang sebesar 14,36%, maka penurunannya mencapai 1,78 poin persentase.
Penurunan ini membuat porsi kepemilikan asing di SBN kini berada di titik terendah dalam hampir 20 tahun.
Tidak hanya dari sisi persentase, data DJPPR juga memperlihatkan bahwa secara nominal kepemilikan investor asing di SBN masih lebih rendah dibandingkan posisi awal tahun.
Per 10 April 2026, nilai kepemilikan asing tercatat sebesar Rp858,03 triliun. Memang angka ini sedikit naik dibandingkan posisi Maret 2026 yang sebesar Rp853,56 triliun. Namun jika dibandingkan dengan Januari 2026 yang mencapai Rp878,75 triliun, maka masih terjadi penurunan sebesar Rp20,72 triliun.
Pasar SBN Makin Ditopang Investor Domestik
Turunnya kepemilikan asing ini sekaligus menunjukkan bahwa pasar SBN Indonesia kini semakin banyak ditopang oleh investor domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, porsi asing memang terus menyusut dari level yang sebelumnya sempat sangat besar, bahkan pernah menyentuh kisaran 40% pada periode 2014-2017.
Di satu sisi, kondisi ini bisa menjadi bantalan bagi pasar keuangan domestik karena ketergantungan terhadap aliran modal asing menjadi lebih kecil. Artinya, ketika investor global keluar dari pasar negara berkembang, tekanan ke pasar SBN Indonesia tidak sebesar saat asing masih sangat dominan.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102047/original/017122200_1737427568-safee-sali_30ea701.jpg)

