Jakarta, CNBC Indonesia - Pedagang daging sapi Jabodetabek memastikan tidak jadi melakukan aksi mogok jualan dari rencana sebelumnya. Para pedagang mengalami tekanan akibat kenaikan harga daging masih terus dirasakan hingga saat ini.
Kenaikan harga ini bahkan telah terjadi jauh-jauh hari sebelum Ramadan, sehingga membuat pedagang khawatir harga akan semakin sulit dikendalikan saat Idul Fitri mendatang.
Sekretaris Jenderal Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI) Yayan Suryana menegaskan, kabar pedagang ogah berjualan tidak sepenuhnya benar. Dia menuturkan, rencana aksi memang sempat muncul, namun urung dilakukan setelah pihaknya sempat audiensi dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH) Kementerian Pertanian (Kementan).
"Bukan ogah atau mogok jualan ya, tadinya kan kami mau mengadakan aksi (demonstrasi). Dikarenakan ada kebijakan dari pemerintah yang diwakili oleh Direktur PKH. Ya mudah-mudahan ada jalan yang terbaik lah buat para pedagang daging," kata Yayan kepada CNBC Indonesia, Kamis (8/1/2026).
Meski demikian, ia mengakui harga daging sapi di tingkat pedagang pasar terus mengalami kenaikan dalam beberapa bulan terakhir. Yayan menyebut, sekitar tiga bulan lalu harga daging sapi masih berada rata-rata di kisaran Rp110.000 hingga Rp120.000 per kilogram (kg). Namun kini harganya sudah melonjak.
"Kalau ngomongin harga, jujur, harga ini naik terus-terusan. Kami 3 bulan kemarin masih bisa di angka Rp110.000-Rp120.000 per kg. Kalau sekarang, dari sebelum Nataru pun di angka Rp130.000-Rp140.000 per kg sampai sekarang. Dikarenakan harga fakturnya (timbang hidup) yang tinggi," jelasnya.
Yayan menjelaskan, mahalnya harga faktur atau timbang hidup sapi menjadi salah satu pemicu utama lonjakan harga daging sapi di tingkat pedagang pasar. Faktor penyebabnya beragam, mulai dari harga pakan hingga kondisi global.
"Ya karena mungkin, karena dari pakannya, mungkin dari kurs dolarnya, kemungkinan juga dari cuaca di Australia-nya. Banyak hal mungkin ya," ucap dia.
Ia pun memastikan, harga daging sapi di tingkat pedagang pasar saat ini memang sudah berada di kisaran Rp130.000-Rp140.000 per kilogram. "Ya, betul," tegasnya.
Terkait rantai pasok daging sapi, Yayan menjelaskan pedagang daging tidak berada di rantai awal impor sapi bakalan. Pedagang membeli daging dari perusahaan penggemukan sapi (feedlot), yang mengimpor sapi bakalan dari Australia. "Kami ini belanjanya ke feedloter," ungkap Yayan.
Ia memaparkan, sapi bakalan dari Australia digemukkan oleh feedlot selama 3-4 bulan hingga bobot hidup mencapai 500-600 kilogram sebelum masuk ke rumah potong hewan (RPH). Saat ini, harga karkas daging sapi di RPH sudah berada di kisaran Rp105.000-Rp107.000 per kg.
Yayan membandingkan kondisi saat ini dengan menjelang Idul Fitri 2025. Kala itu, harga faktur atau timbang hidup sapi tercatat Rp53.000 per kg, dengan harga karkas Rp105.000-Rp106.000 per kg. Sementara saat ini, meski Lebaran 2026 masih dua bulan lagi, harga faktur dan karkas sudah mendekati, bahkan berpotensi melampaui harga Lebaran tahun lalu.
"Harga faktur dengan harga karkas sudah hampir dan mungkin melebihi dari harga Idul Fitri yang kemarin tahun 2025. Ini belum lebaran, apalagi berbicara kita lebaran idul fitri. Kami akan ngejual berapa ke konsumen, kan seperti itu," ujarnya.
Saat ini, lanjut dia, harga faktur atau timbang hidup sapi berada di kisaran Rp54.000-Rp55.000 per kg, lebih tinggi dibandingkan Idul Fitri 2025. "Berarti kan melebihi Idul Fitri tahun 2025," ujarnya.
Menurut Yayan, gejolak harga seperti ini bukan kali pertama terjadi. Kondisi serupa pernah dialami pada 2021-2022 lalu dengan pemicu yang hampir sama. "Hampir sama kronologinya seperti ini. Harga timbang hidup atau faktur mahal, karena kurs dolar lah, alasan cuaca lah, karena tahun kemarin karena covid, kan gitu," ungkap dia.
Ia pun menegaskan pedagang daging memikul beban moral di tengah kondisi ini karena kerap disalahkan konsumen atas kenaikan harga. "Disangkakan kami pedagang daging yang ada di pasar tradisional yang menaikkan harga, kan gitu," katanya.
Menjelang Lebaran, Yayan mengaku kekhawatiran pedagang masih tinggi karena harga belum menunjukkan tanda-tanda stabil. Ia berharap ada langkah konkret pemerintah agar situasi tidak kembali memicu gejolak di tingkat pedagang.
"Dalam jangka waktu dekat ini kami meminta jalan yang terbaik, jangan sampai pedagang daging ini bergejolak lagi di bawah. Karena ini kan harga belum stabil. Apa kemungkinan naik lagi apa tidak, kan gitu," ucap Yayan.
Karenanya, ia berharap pemerintah memberikan subsidi silang berupa masuknya daging kerbau beku dari India, untuk membantu menekan gejolak harga daging saat ini hingga menjelang Idul Fitri.
"Ya nggak ada jalan lain, upaya jangka pendeknya. Harus ada subsidi silang dari pemerintah, yaitu daging kerbau beku dari India. Itu dalam jangka waktu dekat. Karena kalau kita berbicara sapi hidup nggak mungkin (dalam jangka pendek). Karena semuanya juga harganya lagi seperti ini. Nggak ada lagi jalan. Kami sudah menghubungi Berdikari, PPI, semuanya juga belum ada jawaban sampai hari ini. Kami sudah bertemu dengan Dirut Berdikari, kami diminta kasih waktu. Stok dagingnya kosong, katanya berdikari nggak ada," katanya.
(hoi/hoi)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)







:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)








