Ramai Emiten di RI Masuk MSCI, Ternyata Ini Keuntungannya

2 hours ago 1

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

18 January 2026 12:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Kabar mengenai masuknya sebuah emiten ke dalam indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) selalu menjadi sorotan utama pelaku pasar modal, baik domestik maupun internasional.

Seringkali, harga saham emiten yang disebut-sebut masuk dalam radar MSCI langsung melonjak tajam atau rally bahkan sebelum pengumuman resmi dirilis.

Fenomena ini memicu pertanyaan mendasar yaitu: Pertama, mengapa masuk ke dalam indeks MSCI dianggap sebagai sebuah prestasi besar? Kedua, apakah ini sekadar gengsi agar terlihat mentereng di kancah global, atau ada keuntungan riil yang didapatkan perusahaan?

Ternyata, masuk ke dalam indeks MSCI ibarat mendapatkan tiket masuk ke dalam "klub VIP" pasar modal dunia. Keuntungan yang didapat tidak hanya dirasakan oleh investor ritel yang menikmati kenaikan harga sesaat, namun juga memberikan dampak fundamental jangka panjang bagi emiten itu sendiri.

Passive Inflow

Keuntungan paling nyata dan instan dari masuknya sebuah saham ke indeks MSCI adalah naiknya arus dana asing atau capital inflow. Perlu dipahami bahwa indeks MSCI adalah kiblat atau acuan utama bagi ribuan manajer investasi raksasa di seluruh dunia.

Banyak produk investasi seperti Reksa Dana Global dan Exchange Traded Fund (ETF) yang mandat investasinya hanya satu yaitu meniru komposisi indeks MSCI.

Artinya, ketika sebuah saham baru resmi masuk ke dalam daftar indeks, para pengelola dana triliunan dolar ini memiliki kewajiban untuk membeli saham tersebut secara otomatis. Mereka harus melakukan rebalancing portofolio agar isinya sesuai dengan indeks acuan.

Dalam skenario ini, para manajer investasi tidak lagi melihat apakah harga saham tersebut sedang murah atau mahal melainkan mereka wajib beli. Aksi beli masif inilah yang menciptakan permintaan besar dan mendorong harga saham terbang.

Selain itu, masuknya saham ke MSCI juga memicu minat dari investor aktif. Saham yang tadinya mungkin luput dari pantauan, kini masuk ke dalam radar analisa investor asing non-ETF. Hal ini memperluas basis investor perusahaan dari yang tadinya didominasi lokal menjadi berskala global.

Kenaikan Valuasi dan Likuiditas

Hukum ekonomi dasar berlaku di sini: ketika permintaan naik drastis sementara suplai saham tetap, maka harga akan terdongkrak. Namun, kenaikan ini seringkali diikuti oleh re-rating atau penilaian ulang terhadap valuasi perusahaan.

Pasar cenderung memberikan toleransi valuasi yang lebih premium (mahal) kepada emiten penghuni MSCI karena dianggap telah "naik kelas" dan memiliki stabilitas lebih baik dibandingkan saham second liner.

Di sisi lain, likuiditas saham di pasar sekunder akan meningkat tajam. Dengan banyaknya pemain besar atau Big Fund yang bertransaksi, volume perdagangan harian akan melonjak. Bagi investor institusi, likuiditas adalah raja.

Mereka membutuhkan pasar yang "dalam" agar bisa masuk dan keluar dengan dana besar tanpa menyebabkan guncangan harga yang ekstrem. Meningkatnya likuiditas juga biasanya membuat selisih harga jual dan beli (spread bid-offer) menjadi lebih tipis, sehingga transaksi menjadi jauh lebih efisien.

Kemudahan Funding

Sisi yang jarang dibahas namun sangat krusial bagi manajemen perusahaan adalah kemudahan dalam mencari fundraising. Status sebagai penghuni indeks MSCI secara tidak langsung menurunkan biaya modal atau Cost of Equity.

Ketika emiten membutuhkan dana segar untuk ekspansi dan memutuskan melakukan Rights Issue atau penerbitan saham baru, mereka berada di atas angin. Dengan valuasi saham yang sedang premium, perusahaan dapat menetapkan harga pelaksanaan rights issue yang lebih tinggi.

Hasilnya, perusahaan bisa meraup target dana yang besar dengan hanya menerbitkan jumlah lembar saham yang lebih sedikit. Strategi ini sangat menguntungkan karena dapat meminimalisir efek dilusi bagi pemegang saham lama.

Validasi Kualitas dan Tata Kelola

Terakhir, masuk MSCI adalah bentuk validasi global. MSCI memiliki kriteria seleksi yang sangat ketat, mencakup kapitalisasi pasar, porsi saham publik (free float), hingga likuiditas. Walaupun akhir-akhir ini beredar bahwa ketentuan free float di Indonesia sedang dikaji ulang karena keadaan pasar di Indonesia, namun MSCI tetap memberikan validasi bagi pasar global.

Lolos dari saringan ini memberikan sinyal kuat kepada dunia bahwa perusahaan tersebut memiliki tata kelola yang baik (Good Corporate Governance), skala bisnis yang masif, dan aman untuk dijadikan tempat investasi jangka panjang.

Secara keseluruhan, bagi sebuah emiten, masuk ke dalam indeks MSCI bukan hanya soal harga saham yang hijau. Ini adalah tentang membuka pintu akses ke modal global yang lebih murah, meningkatkan reputasi, dan memperkuat fondasi pemegang saham.

Meski demikian, investor tetap perlu waspada terhadap volatilitas jangka pendek, karena seringkali harga saham akan terkoreksi akibat aksi profit taking sesaat setelah tanggal efektif pemberlakuan indeks.

Sanggahan: Artikel ini adalah produk jurnalistik berupa pandangan CNBC Indonesia Research. Analisis ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli, menahan, atau menjual produk atau sektor investasi terkait. Keputusan sepenuhnya ada pada diri pembaca, sehingga kami tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan tersebut.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Read Entire Article
| | | |