Jakarta, CNBC Indonesia - Manusia kini hidup lebih lama dari generasi sebelumnya, namun tambahan usia tersebut kerap diiringi dengan menurunnya kualitas kesehatan. Sebuah penelitian terbaru mengungkap alasan berumur panjang datang dengan "harga mahal" dan mengapa penyakit di usia tua seolah menjadi risiko yang sulit dihindari.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Reviews Genetics menguji konsep yang disebut "bayangan seleksi" (selection shadow). Teori yang dikemukakan sejak pertengahan abad ke-20 yang kinibisa dibuktikan berkat data genetik modern dalam skala besar.
Secara sederhana, teori ini menjelaskan bahwa kekuatan seleksi alam menurun seiring bertambahnya usia. Evolusi paling efektif untuk menjaga fungsi tubuh selama masa subur dan reproduksi. Setelah seseorang melewati masa memiliki keturunan, tekanan evolusi menjadi sangat lemah-seolah tertutup "bayangan", sehingga mutasi berbahaya atau gen yang merugikan di usia tua tidak lagi disingkirkan secara alami.
Ada dua mekanisme utama yang menjelaskan risiko ini. Pertama, adalah penumpukan mutasi berbahaya yaitu perubahan genetik yang baru muncul gejalanya di usia lanjut tidak terdeteksi oleh seleksi alam, sehingga terus diwariskan dan menumpuk sepanjang generasi.
Kedua, adalah pertukaran genetik yaitu beberapa gen yang sangat menguntungkan saat muda, misalnya mendukung kesuburan dan pertumbuhan, justru meningkatkan risiko penyakit seperti kanker atau peradangan kronis, saat tua. Evolusi tetap mempertahankan gen karena manfaat di usia muda jauh lebih besar dibanding kerugian yang yang baru terasa di usia lanjut.
Peneliti Handan Melike Dönertaş dan Linda Partridge menganalisis data genetik dari ratusan ribu orang dan menemukan bukti kuat bahwa konsep ini benar-benar terjadi pada manusia.
"Kemajuan genomik memungkinkan kami membuktikan bahwa gen yang berperan dalam peradangan kronis, kelelahan sel induk, dan penurunan fungsi organ memang tidak terseleksi dengan baik setelah usia reproduktif," jelas Dönertaş dari Institut Fritz Lipmann, Jerman.
Contoh nyatanya adalah varian gen yang membantu kesuburan pada usia 20-30 tahun terbukti meningkatkan risiko penyakit jantung atau kanker di usia 60 tahun ke atas. Dalam kerangka evolusi, gen penyebab kanker tersebut layak dipertahankan karena berfungsi memastikan "keberlanjutan" spesies.
Temuan ini mengubah cara pandang para peneliti. Tujuan riset seharusnya bukan lagi sekadar membuat usia hidup lebih panjang, melainkan memperpanjang masa di mana seseorang tetap sehat dan bugar-dikenal sebagai memperpanjang rentang kesehatan atau healthspan.
"Bayangan seleksi yang memungkinkan proses penuaan terjadi kini justru memberi kerangka kerja untuk mengurangi dampak buruknya. Kita bisa mengembangkan intervensi yang menekan efek merugikan gen yang bermanfaat saat muda namun berbahaya saat tua," ujar Partridge dari University College London.
Studi lebih lanjut pada hewan yang berumur sangat panjang, seperti tikus tahi lalat, juga sedang dilakukan untuk mempelajari cara mereka mengatasi "bayangan seleksi" ini, agar bisa diterapkan pada manusia.
Di tengah tren meningkatnya usia harapan hidup di seluruh dunia, temuan ini menjadi pengingat penting. Berumur panjang memang dambaan, tetapi risiko penyakit di usia tua sudah tertanam dan ada dalam desain evolusi tubuh manusia. Dengan memahami mekanisme ini, dunia medis diharapkan tidak hanya mengobati gejala penyakit tua, tapi juga menyasar akar penyebabnya secara genetik, sehingga masa tua bisa dijalani dengan lebih sehat dan mandiri.
(dem/dem)
Addsource on Google































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522153/original/020711000_1772719961-Belum_waktunya_menyerah__penggawa______________DUBFC__BantenWarriors__BuiltForGlory__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5174269/original/058441100_1742913019-20250325BL_Timnas_Indonesia_Vs_Bahrain_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026-15.JPG)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5249375/original/065795600_1749635323-viet_3.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5519387/original/022712600_1772553400-20260303IQ_Persija_Jakarta_vs_Borneo_Fc-7.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5320148/original/037889300_1755588308-IDN_3825.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5449843/original/037142600_1766116592-teja_3.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5522156/original/054211700_1772720765-Half_Time________PERSIJAP_JEPARA_0_-_0_PERSIS_SOLO_persijapjepara__laskarkalinyamat__ukirsemangatbar.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5523027/original/000294000_1772785878-5.jpg)
