Jakarta, CNBC Indonesia — Nilai tukar rupiah kembali melanjutkan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan hari ini, Rabu (11/2/2026), seiring pelemahan dolar AS di pasar global.
Melansir data Refinitiv, rupiah ditutup menguat 0,09% ke posisi Rp16.775/US$. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif rupiah yang telah menguat dalam tiga hari perdagangan beruntun.
Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak di zona hijau. Rupiah dibuka menguat 0,15% di level Rp16.750/US$, namun penguatannya sempat menipis hingga menyentuh Rp16.788/US$ sebelum akhirnya kembali menguat dan ditutup di level penutupan tersebut.
Sementara itu, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB terpantau melemah 0,18% ke level 96,629.
Pelemahan dolar AS masih menjadi salah satu penopang penguatan rupiah hari ini. Pelaku pasar menanti rilis data ketenagakerjaan AS, dengan ekspektasi penambahan nonfarm payrolls sekitar 70.000 pekerjaan pada Januari dan tingkat pengangguran diproyeksikan bertahan di 4,4%. Data ini menjadi sorotan karena berpotensi memengaruhi arah kebijakan FOMC ke depan.
Tekanan pada dolar juga muncul setelah data penjualan ritel AS lebih lemah dari perkiraan, sementara laporan lain menunjukkan pertumbuhan biaya tenaga kerja melambat pada kuartal IV-2025.
Sejumlah pelaku pasar menilai rangkaian data yang berada di bawah ekspektasi dapat kembali menekan dolar. Pasar kini memproyeksikan pelonggaran kebijakan moneter oleh bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) hingga sekitar 60 basis poin sampai Desember 2026, meski beberapa pejabat bank sentral masih membuka peluang suku bunga bertahan untuk beberapa waktu.
Sementara itu, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmennya menjaga stabilitas rupiah melalui langkah intervensi yang terukur.
Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti menegaskan, BI akan konsisten berada di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah lewat strategi smart intervention.
"BI selalu sampaikan bahwa BI tetap di pasar menjaga stabilitas rupiah dan BI lakukan smart intevention di pasar spot, NDF, DNDF dan saat ada outflow BI lakukan intervensi agar menjaga kestabilan," tegas Destry dalam CNBC Indonesia Economic Outlook 2026, dikutip Rabu (11/2/2026).
Destry menambahkan, BI juga berupaya menjaga daya tarik aset rupiah agar tetap memberikan imbal hasil menarik ditopang fundamental yang kuat serta komunikasi kebijakan yang jelas.
"Jaminannya ekonomi tumbuh dan sustain," kata Destry, merujuk pada pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV-2025 yang mencapai 5,39% dan menjadi yang tertinggi dalam tiga tahun terakhir.
(evw/evw)
[Gambas:Video CNBC]































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)






