GoZero%: Strategi Telkom Menjaga Planet di Tengah Ledakan Trafik Data

2 hours ago 1

ESG SUSTAINABILITY FORUM 2026

Elvan Widyatama,  CNBC Indonesia

11 February 2026 16:15

Jakarta, CNBC Indonesia - PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk melalui TelkomGroup berada di posisi yang unik dalam peta Environmental, Social, and Governance (ESG) Indonesia.

Di satu sisi, perusahaan menjadi penggerak utama ekonomi digital lewat jaringan dan layanan yang terus berkembang. Di sisi lain, sebagai tulang punggung konektivitas nasional, TelkomGroup juga menghadapi tuntutan baru agar pertumbuhan itu tidak beriringan dengan membengkaknya jejak emisi.

Komitmen itu antara lain dibingkai lewat GoZero%. Aksi keberlanjutan Telkom Indonesia yang menempatkan ESG sebagai agenda jangka panjang.

Melalui GoZero%, Telkom mengarahkan upaya keberlanjutan ke tiga pilar utama, yakni Save Our Planet, Empower Our People, dan Elevate Our Business, sebagai kerangka untuk memastikan pertumbuhan bisnis tetap selaras dengan tanggung jawab ESG.

Telkom GoZero%Foto: Telkom
Telkom GoZero%

Di industri telekomunikasi, pembahasan ESG cepat atau lambat akan bermuara pada satu kata kunci, listrik, karena jaringan dan pusat data harus menyala tanpa henti untuk menjaga layanan tetap stabil.

Karena itulah dekarbonisasi menjadi fokus utama strategi lingkungan TelkomGroup. Meski sektor ini sering dianggap bersih karena tidak memiliki cerobong, konsumsi energi yang besar membuat tantangan emisi tetap nyata, terlebih saat trafik data dan kebutuhan komputasi terus naik.

Karena itu, TelkomGroup menempatkan agenda penurunan emisi dalam target dan peta jalan yang terukur, dengan penekanan pada pengurangan emisi Gas Rumah Kaca Scope 1 dan Scope 2, disertai penguatan tata kelola iklim melalui verifikasi emisi, inisiasi perhitungan Scope 3, dan perluasan analisis risiko iklim.

Atas upaya Telkom dalam menerapkan dekarbonisasi sebagai bagian dari komitmen ESG dengan didukung oleh berbagai inisiatif nyata yang dilaporkan oleh perusahaan, CNBC Indonesia menganugerahkan ESG Award.

Acara penghargaan sudah digelar dalam ESG Sustainability Forum 2026 CNBC Indonesia di Jakarta, Selasa (3/2/2026).

PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)Foto: PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk meraih anugerah ESG 2026 dalam acara ESG Sutainability Forum 2026 di Jakarta, Selasa (3/2/2026). (CNBC Indonesia Tri Susilo)

Dekarbonisasi TelkomGroup

Telekomunikasi memang bukan industri manufaktur, tetapi operasionalnya ditopang perangkat yang selalu menyala. Jaringan bekerja dua puluh empat jam, titik perangkat tersebar luas, pusat data beroperasi stabil, dan kebutuhan pendinginan tidak pernah benar benar berhenti. Ketika ekonomi digital bertumbuh, trafik data naik, kebutuhan komputasi naik, dan konsumsi energi akan otomatis ikut terdorong.

Inilah konteks yang membuat dekarbonisasi TelkomGroup menjadi sangat penting. Selain sebagai agenda lingkungan, langkah ini juga menjadi agenda operasional yang menentukan efisiensi biaya, keandalan layanan, dan daya saing jangka panjang.

Dalam kerangka ESG, dekarbonisasi TelkomGroup merupakan upaya menyeimbangkan dua tuntutan yang sama kuat.

Di satu sisi, perusahaan harus memperluas jaringan dan kapasitas digital. Di sisi lain, tekanan publik, investor, dan regulator menuntut jejak emisi yang menurun dan lebih terukur.

TelkomGroup mampu menempatkan arah itu dalam target dan peta jalan, dengan fokus utama pada pengurangan emisi Gas Rumah Kaca Scope 1 dan Scope 2, serta penguatan tata kelola iklim termasuk verifikasi emisi, inisiasi perhitungan Scope 3, dan perluasan analisis risiko iklim.

Target dan realisasi

Target jangka pendek atau Short termTelkomGroup adalah penurunan emisi GRK Scope 1 dan Scope 2 sebesar 20% pada 2030 dibanding base year 2023. Target ini penting karena Scope 1 dan Scope 2 adalah wilayah yang paling langsung dapat dikendalikan melalui perubahan operasi, perbaikan efisiensi, dan perubahan sumber energi listrik.

Namun capaian 2024 menunjukkan cerita yang lebih realistis. Emisi Scope 1 dan Scope 2 TelkomGroup tercatat naik 2,6% dibanding base year 2023. Angka ini bisa terlihat sebagai kemunduran bila dilihat sekilas, tetapi detailnya justru memperkaya narasi.

Scope 1 turun 2,0% yang dikaitkan dengan efisiensi penggunaan kendaraan operasional. Pada saat yang sama, Scope 2 naik 2,8% akibat aktivitas penambahan 3.531 BTS Telkomsel. Dengan kata lain, dekarbonisasi berjalan di medan yang terus berubah.

Ekspansi jaringan yang mendukung pertumbuhan layanan digital dapat mendorong konsumsi listrik dan emisi Scope 2 naik, bahkan ketika emisi langsung dari operasi mulai ditekan.

Masih pada 2024, ada sinyal yang membantu membaca arah perbaikan. Scope 3 tercatat turun 8,1% yang dikaitkan dengan efisiensi belanja modal perusahaan. Ini memberi gambaran bahwa dekarbonisasi bukan hanya urusan listrik dan bahan bakar, tetapi juga urusan rantai pasok, keputusan belanja aset, dan siklus hidup perangkat.

Mengapa Listrik Menjadi Jantung Dekarbonisasi

Di industri telekomunikasi, emisi terbesar biasanya terkonsentrasi pada konsumsi energi listrik yang menopang jaringan dan pusat data. Karena itu, strategi dekarbonisasi yang kredibel umumnya dimulai dari dua jalur yang saling melengkapi.

Jalur pertama menurunkan kebutuhan energinya melalui efisiensi dan modernisasi. Jalur kedua menurunkan faktor emisinya dengan meningkatkan porsi energi terbarukan, baik melalui pembangkit terpasang, penyimpanan energi, maupun instrumen berbasis pasar seperti REC (Renewable Energy Certificate) dan PPA (Power Purchase Agreement) untuk memastikan pemakaian energi terbarukan yang terverifikasi.

TelkomGroup merangkum strategi ini dalam enam tuas dekarbonisasi yang saling mengunci.

Penghematan energi, modernisasi peralatan, elektrifikasi, energi terbarukan dan penyimpanan energi, REC dan PPA, serta Carbon offset.

Jalur Transisi TelkomGroupFoto: Telkom
Jalur Transisi TelkomGroup

Upaya pemerintah yang memengaruhi bauran energi nasional, mandat biodiesel, serta pengurangan emisi dari refrigeran melalui kebijakan refrigeran rendah GWP. Hal ini memperlihatkan bahwa dekarbonisasi TelkomGroup bukan hanya mengandalkan satu teknologi, melainkan orkestrasi lintas aspek operasional.

Efisiensi energi dan modernisasi yang tidak terlihat tetapi menentukan

Langkah tercepat dalam dekarbonisasi sering datang dari penghematan. TelkomGroup memperkuat efisiensi melalui perbaikan penggunaan energi di kantor dan fasilitasnya, termasuk retrofit lampu LED, penguatan sistem pemantauan, serta optimalisasi pendinginan yang menjadi salah satu beban listrik terbesar pada fasilitas kritikal.

TelkomGroup juga mencatat alokasi Rp57 miliar untuk upaya efisiensi energi. Dalam kerangka ESG, ini adalah sinyal bahwa komitmen tidak hanya hadir sebagai target, tetapi juga sebagai belanja yang diarahkan untuk menekan konsumsi.

Pada jalur transisi 2023 sampai 2030, TelkomGroup menargetkan pengurangan konsumsi energi sekitar 10% melalui langkah seperti RAN AI, liquid cooling, modernisasi, dan outdoorization. inti pesannya sederhana. Ketika perangkat dan pengelolaan jaringan menjadi lebih efisien, energi per unit layanan dapat turun. Dengan begitu, pertumbuhan trafik tidak otomatis berarti pertumbuhan emisi yang sebanding.

Decarbonization LeversFoto: Telkom
Decarbonization Levers

Energi terbarukan dan pergeseran pasokan listrik

Karena jaringan dan pusat data tidak bisa berhenti memakai listrik, transisi energi menjadi hal yang krusial. TelkomGroup menempatkan energi terbarukan dan penyimpanan energi sebagai pilar penting, dengan target pembangunan solar PV bertahap. Pada 2030, targetnya lebih dari 14 MWp solar PV terpasang. Pada 2040, target meningkat menjadi lebih dari 20 MWp. Pada 2050, target meningkat lagi menjadi lebih dari 30 MWp.

Strategi ini tidak berhenti pada pembangkit. TelkomGroup juga menargetkan porsi listrik data center dari energi terbarukan meningkat secara bertahap. Targetnya lebih dari 50% pada 2040 dan 60% pada 2050.

Di tengah kenaikan kebutuhan data, komitmen ini penting karena data center adalah beban listrik yang besar, sehingga perubahan sumber listriknya akan berdampak langsung pada jejak Scope 2.

Sebagai bukti implementasi energi terbarukan di lapangan, Telkom mencatat 275 BTS menggunakan panel surya dan microhydro. Ada pula 77 unit penerangan jalan umum tenaga surya di area The Telkom Hub. Detail seperti ini membantu memahami bahwa transisi energi hadir dalam bentuk yang beragam, dari jaringan hingga fasilitas.

Elektrifikasi yang menyasar emisi langsung operasi

Tuas berikutnya adalah elektrifikasi, yang relevan untuk menurunkan emisi langsung dari aktivitas operasional.

TelkomGroup mendorong peralihan pasokan energi dari genset diesel ke listrik PLN bila tersedia, serta transisi kendaraan operasional dari mesin pembakaran ke kendaraan listrik. Data yang tersedia menunjukkan kepemilikan 587 unit kendaraan listrik dan 33 titik pengisian daya. Peta jalan jangka menengah menargetkan seluruh armada beralih menjadi kendaraan listrik pada 2040.

Elektrifikasi penting dari sisi narasi karena membuat dekarbonisasi terasa dekat. Publik bisa melihat perubahan yang konkret, bukan hanya istilah teknis. Elektrifikasi juga memberi kontribusi terhadap penurunan Scope 1, yang pada 2024 tercatat turun 2,0% dikaitkan dengan efisiensi kendaraan operasional.

Menara di wilayah terpencil dan perang melawan genset diesel

Tantangan paling keras dalam dekarbonisasi di sektor telekomunikasi sering terjadi jauh dari pusat, di menara yang akses listriknya terbatas. Di banyak lokasi non Jawa, ketergantungan pada genset diesel masih menjadi realitas. Inilah titik yang menentukan, karena diesel bukan hanya mahal dan rumit secara logistik, tetapi juga menghasilkan emisi langsung.

Di sinilah studi kasus Mitratel relevan sebagai contoh. Transformasi operasional menara melalui pendekatan power as a service menggambarkan upaya mengintegrasikan sumber listrik PLN, genset, baterai, dan panel surya agar runtime genset dapat ditekan.

Pendekatan ini diperkuat oleh pemantauan real time dan optimasi berbasis data, sehingga konsumsi, beban, dan kondisi perangkat bisa dikendalikan lebih presisi. Dalam praktiknya, dekarbonisasi di menara adalah pekerjaan teknis harian, memastikan pasokan stabil sambil menekan ketergantungan diesel secara bertahap.

Digitalisasi operasional juga menjadi pengungkit penting. Pemanfaatan IoT dan AI membantu membuat penghematan lebih konsisten, bukan hanya insidental. Hal ini juga sejalan dengan dinamika industri saat adopsi AI dan layanan digital mendorong kebutuhan komputasi dan energi, sehingga efisiensi berbasis data menjadi kebutuhan strategis.

REC dan PPA serta carbon offset sebagai tahap lanjut

Di fase transisi, tidak semua perubahan bisa ditunggu sampai pembangkit terpasang berkembang. Karena itu TelkomGroup juga memanfaatkan instrumen pasar seperti REC dan PPA untuk mengurangi emisi terkait listrik atau Scope 2 melalui penggunaan energi terbarukan yang terverifikasi.

Instrumen ini dapat diposisikan sebagai akselerator dengan membantu perusahaan menghijaukan sebagian konsumsi listrik sembari pembangunan kapasitas energi terbarukan fisik berjalan.

Pada tahap akhir, carbon offset ditempatkan sebagai penutup, bukan sebagai jalan pintas. Dalam peta menuju 2060, offset digunakan untuk menyeimbangkan sisa emisi yang tidak dapat dihapus secara teknis. Penempatan ini penting untuk menjaga kredibilitas, karena fokus utama tetap pada pengurangan emisi nyata melalui efisiensi, modernisasi, transisi energi, dan elektrifikasi.

Ekonomi sirkular yang menekan emisi dari material dan limbah

Dekarbonisasi tidak hanya soal energi. Pada perusahaan infrastruktur seperti Telkom, emisi juga melekat pada material, perangkat, dan siklus hidup aset. Karena itu ekonomi sirkular menjadi pelengkap penting. TelkomGroup menargetkan minimal 70% limbah kabel fiber optik dialihkan dari pembuangan akhir pada 2030.

Hingga 2024, capaian yang tercatat adalah 80% atau 176.046 kg limbah kabel fiber optik yang telah dialihkan dari pembuangan akhir. Ada pula total pengurangan limbah kantor 6.387 ton pada 2023.

Dari sisi implementasi, contoh yang menarik datang dari PT Telkom Infrastruktur Indonesia Distrik Malang melalui bengkel reuse refurbish repair dan program leverage asset.

Intinya adalah mengubah material bongkaran jaringan yang masih layak menjadi solusi primer setelah melalui uji teknis, sehingga kebutuhan pembelian baru dapat ditekan dan limbah berkurang.

Dampaknya tidak hanya lingkungan, tetapi juga efisiensi biaya. Cost saving nasional pada 2024 tercatat Rp16,7 miliar dengan kontribusi Malang senilai Rp2,84 miliar, sementara hingga Juni 2025 kontribusi Malang mencapai Rp1,26 miliar dari total nasional Rp8,7 miliar. Ini memperkuat pesan bahwa keberlanjutan dan efisiensi bisnis dapat berjalan beriringan bila eksekusinya rapi.

Di sisi lain, ada bukti pengurangan limbah perangkat dan plastik yang membantu membuat narasi lebih membumi. Telkom mencatat 149.433 unit modem diperbaiki atau digunakan kembali.

Ada dua lokasi reverse vending machine yang mengolah 48,1 kg atau setara 2.572 botol plastik. Perusahaan juga mengalokasikan Rp11 miliar untuk menunjang program inisiatif lingkungan. Detail seperti ini membantu pembaca memahami bahwa ESG tidak berhenti pada target emisi, tetapi juga pada cara perusahaan mengelola sumber daya.

Budaya, inovasi, dan tata kelola iklim sebagai penguat strategi ESG

Satu tantangan besar dalam ESG adalah menjadikan program terasa hidup di level organisasi. Program GoZero% menampilkan sisi ini melalui aktivitas yang menggabungkan aksi lingkungan, keterlibatan karyawan, dan inovasi.

Contoh yang relevan adalah aktivitas di Makassar yang memadukan aksi bersih pantai, mobilisasi relawan, dan festival inovasi yang melahirkan ide berbasis ESG. Dalam konteks longform, bagian ini penting sebagai pengingat bahwa transisi rendah karbon membutuhkan budaya, bukan hanya perangkat dan kebijakan.

Narasi dekarbonisasi yang kuat perlu ditopang tata kelola. TelkomGroup memulai penilaian risiko iklim pada 2023, dengan memperluas cakupan analisis termasuk wilayah rawan bencana berdasarkan Indeks Risiko Bencana BNPB, melakukan verifikasi emisi GRK, serta menginisiasi perhitungan emisi Scope 3.

Ini memberi sinyal bahwa Telkom membangun fondasi pengukuran dan manajemen risiko, sehingga target tidak berdiri sendiri.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |