Rupiah Makin Perkasa, Dolar Tertekan Saat Mata Uang Asia Kompak Naik

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Rupiah menguat dalam sepekan perdagangan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sejalan dengan itu, sejumlah mata uang Asia juga bergerak menguat yang didorong oleh melemahnya dolar AS serta meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga oleh The Federal Reserve (The Fed).

Merujuk data Refinitiv, rupiah ditutup di level Rp16.650/US$ pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (29/11/2025) atau melemah 0,09%. Namun secara kumulatif, rupiah berhasil menguat 0,24% sepanjang pekan dan menjadi pekan penguatan pertama setelah tertekan selama tujuh pekan beruntun.

Sepanjang pekan ini, rupiah bergerak dalam rentang level Rp16.610-Rp16.715/US$.

Meski mencatat kinerja positif, rupiah bukan menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di kawasan Asia. Penguatan rupiah tercatat berada di tengah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya di Asia.

Dolar Singapura tampil sebagai mata uang paling perkasa di Asia pekan ini. Nilainya melonjak 0,79% ke SGD 1,2957/US$, tepat di belakangnya baht Thailand yang juga mencatat reli kuat 0,77% ke THB 32,10/US$.

Mata uang lainny seperti yuan China juga menunjukkan performa yang cukup solid dengan terapresiasi 0,44% ke CNY 7,075/US$.

Sementara itu, mata uang tetangg kita, ringgit Malaysia berhasil menguat 0,39% ke MYR 4,130/US$. Tren positif turut terlihat pada rupee India yang naik 0,29%, serta peso Filipina yang menguat 0,25%.

Arah penguatan juga dirasakan oleh mata uang Asia lainnya seperti Yen Jepang yang terapresiasi 0,15% ke JPY 156,15/US$, diikuti won Korea yang bertambah 0,14% ke KRW 1.467,47/US$. Sementara itu, dong Vietnam bergerak stabil dengan kenaikan tipis 0,07%.

Di sisi lain, satu-satunya mata uang yang terseret ke zona merah adalah dolar Taiwan , yang terkoreksi 0,12% ke TWD 31,378/US$, menjadikannya underperformer Asia pekan ini.

Pergerakan mayoritas mata uang Asia, termasuk rupiah, tidak dapat dilepaskan dari dinamika dolar AS di pasar global. Sepanjang pekan ini, indeks dolar AS (DXY) turun 0,72% akibat meningkatnya keyakinan bahwa The Federal Reserve (The Fed) akan memangkas suku bunga pada pertemuan Desember mendatang.

Pada penutupan Jumat (29/11/2025), DXY kembali melemah 0,14%, menyentuh level terendah dalam satu setengah pekan.

Pasar kini memperkirakan 83% peluang pemangkasan suku bunga pada FOMC bulan depan, jauh lebih tinggi dibandingkan pekan lalu yang masih di kisaran 30%. Ekspektasi tersebut menekan imbal hasil obligasi AS dan membuat dolar kehilangan daya tariknya sebagai aset berimbal hasil.

Sentimen dolar juga tertekan oleh laporan bahwa Kevin Hassett masuk dalam daftar kandidat terkuat untuk menggantikan Jerome Powell sebagai Ketua The Fed. Hassett dinilai sebagai sosok dovish, yang berarti lebih mendukung kebijakan suku bunga rendah. Hal ini memicu spekulasi pasar atas kemungkinan perubahan besar dalam arah kebijakan moneter AS, sekaligus menimbulkan kekhawatiran tentang independensi The Fed, mengingat kedekatannya dengan pendekatan Presiden Donald Trump.

Di sisi lain, penguatan bursa saham AS menjelang akhir pekan turut menekan permintaan dolar sebagai aset likuiditas, sehingga mempercepat pelemahannya dan membuka ruang bagi mata uang Asia untuk menguat.

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(evw/evw)

Read Entire Article
| | | |