Sabuk Elektronik Sumatra: Rekonstruksi Bisa Jadi Lompatan Teknologi RI

15 hours ago 3

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Bencana yang melanda sejumlah daerah di Pulau Sumatra beberapa waktu terakhir kembali menunjukkan satu kenyataan pahit: fondasi ekonomi kawasan barat Indonesia selama ini dibangun di atas struktur yang rapuh.

Ketergantungan pada kelapa sawit dan komoditas rendah nilai tambah tidak hanya membuat wilayah ini rentan secara ekonomi, tetapi juga gagal melindungi ekologi. Ketika hujan ekstrem datang, tanah tidak mampu menahan air, struktur perkebunan tidak memulihkan lanskap, dan seluruh ekonomi bisa lumpuh dalam hitungan jam. Yang hancur bukan hanya rumah dan jalan, tetapi model ekonomi lama.

Karena itu, rekonstruksi pascabencana tidak boleh lagi mengembalikan keadaan ke masa lalu. Rekonstruksi harus menciptakan ekonomi baru. Di sinilah konsep Sabuk Hutan Energi Sumatra menjadi titik balik.

Ratusan ribu hektare lahan kepala sawit yang rusak dapat diubah menjadi hutan energi berbasis kaliandra, gamal, lamtoro, gliricidia, dan bambu, vegetasi cepat tumbuh yang menahan air, mengikat karbon, memperbaiki tanah, dan sekaligus menghasilkan biomassa besar.

Dari enam wilayah banjir saja, potensi biomassa mencapai 7 juta ton hingga 9 juta ton per tahun, cukup untuk menciptakan fondasi energi murah yang belum pernah dimiliki Aceh-Sumatra dalam 50 tahun terakhir.

Energi murah adalah trigger utama industrialisasi. Dengan Waste-to-Steam (WtS), pasokan energi industri dapat hidup hanya dalam enam bulan, bahkan di wilayah yang baru terdampak banjir.

Modul DME biomassa dapat dipasang dalam enam hingga delapan bulan dan berproduksi dalam delapan hingga dua belas bulan. Jika hanya tujuh persen biomassa dikonversi menjadi DME, kapasitasnya mencapai 640.000 ton hingga 900.000 ton per tahun, setara lima persen hingga tujuh persen substitusi impor LPG nasional. Dalam satu tahun, Aceh-Sumatra tidak lagi menunggu bantuan tabung gas, mereka menjadi produsen energi bersih.

Namun energi hanyalah fondasi. Mesin berikutnya adalah industri Rare Earth Processing (REE) yang mengolah monasit, xenotim, dan laterit kompleks menjadi NdPr oxide, LaCe oxide, dan Sm oxide, bahan baku strategis global yang selama ini tidak pernah diproduksi Indonesia.

Refinery modular ini dapat beroperasi dalam delapan hingga dua belas bulan, jauh lebih cepat dari industri berat konvensional. Begitu REE oxide tersedia, pintu besar industri elektronik terbuka.

Di titik ini, langkah paling rasional adalah membangun ODM microelectronics: produksi modul WiFi 7, kontroler motor listrik, PLC industri, sensor agritech, sistem BMS baterai, perangkat FWA 5G, hingga smart display dan smart TV nasional. Dengan lisensi mandiri produk nasional, fasilitas ODM dapat berjalan dalam sembilan hingga sepuluh bulan begitu energi murah tersedia.

Industri ini tidak membutuhkan foundry miliaran dolar; yang dibutuhkan adalah supply chain logam tanah jarang, energi murah, dan desain elektronik berlisensi. Aceh-Sumatra dapat segera masuk ke pasar WiFi 7 domestik yang nilainya miliaran dolar per tahun.

Ketika industri WiFi 7 berjalan, transisi ke perangkat FWA 5G menjadi langkah alami. Indonesia membutuhkan ratusan ribu CPE FWA untuk internet pedesaan. Produksi lokal dapat memotong biaya 60 persen hingga 70 persen dan mempercepat konektivitas nasional.

Setelah itu, ekosistem smart display dan smart TV menjadi tahap berikutnya. Indonesia mengimpor lebih dari 11 juta unit TV per tahun; dengan energi murah, REE oxide, ODM elektronik, dan wafer silikon yang berdiri di tahun kedua, Aceh-Sumatra dapat menjadi pusat produksi panel 4K, TV pintar, dan perangkat interaktif untuk sekolah.

Ketika tiga mesin, energi murah, REE oxide, dan ODM elektronik, bergerak simultan, pertumbuhan ekonomi menjadi eksponensial. Tahun pertama menyumbang 120-180 triliun rupiah dari biomassa, energi, dan protein rakyat. Tahun kedua naik menjadi 350-500 triliun rupiah dari farmasi, baterai sodium-ion, activated carbon, dan elektronik dasar. Tahun ketiga, setelah WiFi 7, FWA 5G, dan smart display memasuki produksi massal, nilai tambahnya menembus 700-1.000 triliun rupiah.

Namun muncul pertanyaan strategis: apakah cukup membangun satu lokasi, atau harus enam lokasi sekaligus? Jawabannya jelas. Satu lokasi dapat mencapai 1.000 hingga 1.400 triliun rupiah PDRB pada 2030, kuat, tetapi tidak cukup untuk membangun ekosistem nasional.

Enam lokasi dapat menghasilkan 5.400 triliun rupiah hingga 6.600 triliun rupiah sebelum tahun 2030 karena ekonomi yang berjalan paralel, bukan linear: energi enam lokasi, REE enam lokasi, ODM enam lokasi, dan supply chain elektronik yang saling menguatkan.

Jika tujuannya adalah menciptakan pusat elektronik nasional, pilihan paling logis adalah memulai tiga lokasi dalam 90 hari, yaitu Aceh Timur, Sibolga, dan Padang Panjang, lalu memperluas menjadi enam lokasi pada 2026. Dengan cara ini, Sumatra bukan hanya bangkit pascabencana, tetapi bertransformasi menjadi pusat energi bersih dan manufaktur elektronik Indonesia.


(miq/miq)

Read Entire Article
| | | |