Jakarta, CNBC Indonesia - Erupsi ekslplosif Gunung Api Anak Krakatau pada Jumat (4/9) malam pukul 23.07 WIB memuntahkan kolom abu yang sangat tinggi. Bahkan, menurut analisis Profesor Riset di Pusat Penelitian Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, kolom letusannya diestimasikan mencapai 13 hingga 14 kilometer.
Ketinggian tersebut diduga sudah hampir menembus lapisan tropopause, yakni batas atas troposfer yang memungkinkan material vulkanik tersebar luas ke lapisan atmosfer yang lebih tinggi.
Masyarakat di sekitar Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, dan Jakarta, melaporkan abu vulkanik menyebar ke lingkungan tempat tinggal mereka. Banyak yang membagikan foto dan video mobil dan teras rumah penuh debu vulkanik.
Menurut Erma, sebaran abu vulkanik yang dihasilkan letusan utama Gunung Api Anak Krakatau umumnya akan memuntahkan material sulfur di atmosfer selama 5 hari. Namun, ada beberapa kondisi yang perlu diperhatikan.
"Secara umum, jika tidak ada hujan sama sekali sekitar 5 hari. Arah penyebaran tergantung arah angin pada setiap level ketinggian atmosfer," tulis Erma di akun X personalnya, dikutip Senin (7/9/2026).
Sementara itu, Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Daryono, mengatakan hujan abu tidak bisa ditentukan lewat tanggal di kalender. Ia menekankan bahwa letusan baru akan benar-benar berhenti jika pasokan magma segar dari perut bumi sudah habis dan tekanan di dalam dapur magma sudah tenang kembali.
"Selama kantong magma di bawah gunung masih terus mendapat kiriman magma baru dari kedalaman bumi, letusan susulan yg membawa abu akan terus terjadi secara naik-turun (kadang tenang, kadang membesar)," tulis Daryono dalam unggahan di akun X personalnya.
Lebih lanjut, Daryono mengatakan pasokan magma baru akan berhenti ketika dorongan alami dari dalam bumi kehilangan tenaganya. Tanpa dorongan kuat, cairan magma di dalam saluran gunung akan mendingin, mengeras, dan akhirnya tersumbat oleh batuan di sekitarnya.
"Saat itulah gunung api kembali ke kondisi stabil dan tidak lagi mampu menyemburkan material ke permukaan," ujarnya.
Faktor Penentu Arah Sebaran Abu Vulkanik
Banyak pihak kerap bertanya-tanya mengenai alasan sebaran material letusan tidak bergerak ke arah Sumatra, mengingat angin di permukaan umumnya terpantau bergerak menuju ke barat atau barat laut.
Menjawab hal tersebut, Erma menjelaskan dinamika pergerakan abu sangat dipengaruhi oleh perbedaan karakteristik angin di setiap level ketinggian atmosfer. Terdapat variasi arah angin di level atas, di mana sebagian di antaranya bergerak menuju ke timur dan ke selatan.
"Intinya, kalau kolom abunya tinggi, untuk luruh kembali bisa terdistribusi ke segala arah," kata Erma.
Seirama dengan itu, Daryono menyebut ada dua faktor yang menentukan arah dan jauhnya sebaran abu. Pertama, seberapa kuat letusan gunung. Ke dua, ke mana angin bertiup.
"Saat gunung meletus kuat, abu halus terlempar sangat tinggi hingga mencapai lapisan udara atas. Di sana, angin kencang akan membawa debu-debu ringan ini melayang jauh hingga puluhan bahkan ratusan km sebelum akhirnya jatuh ke tanah," ia menuturkan.
Terpisah, BMKG mendeteksi dua klaster sebaran abu vulkanik, berdasarkan informasi PVMBG, VAAC Darwin, dan analisis citra RGB Himawari-9 pada Senin (7/9/2026) pukul 07.00 WIB.
Klaster pertama dengan ketinggian hingga 15.000 kaki atau 4,5 kilometer, bergerak ke arah Tenggara-Barat Laut, mencakup wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, Bengkulu, Samudra Hindia sebelah barat Bengkulu, hingga perairan Banten.
Sementara itu, klaster kedua membumbung hingga ketinggian ekstrem 50.000 kaki (15,2 kilometer) dan bergerak ke arah Barat Daya-Barat, menjauhi wilayah Indonesia melewati Samudra Hindia.
Melihat luasnya sebaran material ikutan seperti sulfur dan abu vulkanik ini, masyarakat, khususnya yang beraktivitas di wilayah Jawa bagian Barat dan Lampung, diimbau untuk senantiasa menggunakan masker demi menjaga kesehatan pernapasan.
(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]




































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336164/original/038669600_1788142068-WhatsApp_Image_2026-08-30_at_22.34.27.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9334366/original/000168800_1787837074-1000131582.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5588928/original/089544700_1778143903-1000412385.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5669124/original/011292600_1778417837-Nonton_bersama_Persija_vs_Persib_di_Se_Indonesia_sambil_menikmati_se_i_sapi.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5405356/original/074050200_1762458033-1000096973.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5418556/original/081909100_1763622046-bojan.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/9336881/original/062566600_1788192972-1000510076.jpg)

