Selat Hormuz Ditutup, RI Jadi Salah Satu Negara yang Rentan!

5 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terhadap pasokan energi global, termasuk Indonesia. Pasalnya, jalur strategis tersebut selama ini menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak mentah dari Timur Tengah ke sejumlah negara di Asia.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai dampak penutupan Selat Hormuz berpotensi signifikan, terutama bagi negara-negara di kawasan Pasifik. Mengingat, 25-40% pasokan energi untuk kawasan Pasifik melewati Selat Hormuz.

"Hampir 25-40% yang lewat selat Hormuz utamanya untuk negara di kawasan pasifik ada China, India, Jepang dan Korea Selatan, itu empat yang besar termasuk juga untuk kita, Thailand, Singapura dan negara negara di Asia Tenggara. Karena kan itu yang paling dekat secara geografis dan cost yg paling kompetitif dibanding dengan jalur yang lain," ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia, Selasa (3/3/2026).

Menurut Komaidi, Indonesia saat ini berada dalam posisi yang cukup rentan. Mengingat, konsumsi minyak nasional saat ini mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari (bph) sementara produksi domestik hanya sekitar 600 ribu bph.

"Dari 600 ribu bph kita cuma dapat 60%, 480 ribu bph artinya ada satu 1,2 juta bph yang harua diimpor mix ya antara crude dan bbm dan itu sebagian besar berasal dari wilayah timur tengah kemudian juga ada di kawasan Asia Tenggara Singapura dan Malaysia untuk produk bbm nya," ujarnya.

Selain minyak, Komaidi menilai risiko yang tak kalah krusial adalah pasokan liquefied petroleum gas (LPG). Konsumsi LPG dalam negeri mencapai sekitar 9 juta metrik ton per tahun, sementara produksi domestik baru sekitar 1,8 juta metrik ton.

Dengan kondisi tersebut maka Indonesia harus mengimpor sekitar 7,2 juta metrik ton LPG per tahun. Adapun sekitar 52% impor LPG RI berasal dari Amerika Serikat dan 48% dari Timur Tengah.

"Kebetulan dua dua nya sedang terlibat konflik regional AS juga terlibat di sana dan wilayah timteng juga terlibat konflik dengan eskalasi Iran-Israel dan mungkin akan melibatkan proksi proksi yang lain begitu. Nah ini yang saya kira perlu diantisipasi karena ini berkaitan dengan kebutuhan energi yang paling mendasar," tambahnya.

Sebagaimana diketahui, Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz. Bahkan negeri itu kini mengancam semua kapal yang nekad lewat akan ditembak.

Hal ini menjadi eskalasi terbaru sejak serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke negara itu, Sabtu. Serangan yang dinamakan Trump Operasi Epic Furry itu sendiri menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Khamenei.

Akibatnya Iran membalas dendam dengan menembakkan rudal ke Israel dan negara Teluk yang menjadi basis pangkalan militer tentara Amerika, seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, UEA dan Arab Saudi. Hizbullah, kelompok militer faksi Iran di Lebanon, juga mengatakan akan membela Iran dan membalas kematian Khamenei.

Mengutip Reuters dan Al Jazeera, pernyataan diberikan melalui laman Iran, Senin waktu setempat. Penutupan Selat Hormuz dan ancaman tembakan dikatakan seorang komandan di Korps Garda Revolusi Iran (IRGC)

"Selat itu ditutup. Jika ada yang mencoba melewatinya, para pahlawan Garda Revolusi dan angkatan laut reguler akan membakar kapal-kapal itu," kata Ebrahim Jabari, penasihat senior untuk panglima tertinggi IRGC, dimuat Selasa (3/3/2026).

Ia juga mengancam akan menyerang jalur pipa minyak. Bahkan membuat harga minyak melambung tinggi hingga US$ 200 per barel, dari harga saat ini.

"Kami juga akan menyerang jalur pipa minyak dan tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari wilayah ini. Harga minyak akan mencapai US$200 dalam beberapa hari mendatang," kata Jabbari.

(pgr/pgr)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |