Serangan Diam-Diam Lumpuhkan Militer AS, Pentagon Buka Suara

5 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Serangan dari dalam secara diam-diam bisa perlahan melumpuhkan militer Amerika Serikat (AS). Menurut laporan terbaru dari Reuters, pasukan militer AS yang ditugaskan ke area perang telah menjadi target kejahatan siber menggunakan data lokasi yang tersedia secara komersial.

Hal ini diungkap laporan dari pejabat militer AS. Insiden ini juga menggambarkan bagaiaman ekonomi pengintaian global berperan penting dalam arena pertempuran.

Dalam surat yang dibagikan ke Reuters oleh Senator AS Ron Wyden dari Demokrat, Komando Pusat AS (Centcom) mengatakan pihaknya telah menerima banyak laporan ancaman mengenai eksploitasi data lokasi komersial oleh pihak musuh untuk menargetkan atau memata-matai pasukan AS di wilayah operasi.

Pesan yang dikirim pada 14 April 2026 itu tidak memberikan perincian lebih lanjut, tetapi wilayah tanggung jawab Centcom mencakup Timur Tengah, tempat pasukan AS berhadapan dengan militer Iran di Selat Hormuz.

Pengungkapan ini untuk pertama kalinya mengonfirmasi secara resmi bahwa pasukan militer AS di medan pertempuran secara aktif menjadi target serangan siber, menurut surat yang dikirim Wyden dan grup bipartisan kepada Pentagon.

"Data lokasi komersil bisa digunakan untuk mengidentifikasi di mana pasukan AS berkumpul dan pola kebiasaan mereka. Hal ini bisa dieksploitasi musuh untuk menargetkan serangan seperti rudal, drone, dan bom pinggir jalan, serta untuk tujuan kontra intelijen," demikian peringatan dalam surat tersebut.

Wyden mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa sudah saatnya untuk "mulai memperlakukan industri teknologi periklanan sebagai ancaman keamanan nasional."

Pentagon mengatakan dalam email bahwa pihaknya akan langsung berkoordinasi dengan pemangku kebijakan, tetapi tidak memberikan komentar lebih dalam. Pemangku kebijakan dalam suratnya mengataka bahwa upaya untuk mengumpulkan informasi tambahan dari pejabat militer tentang laporan penargetan tersebut sejauh ini belum berhasil.

Petaka Data Lokasi Komersial

Sebagai informasi, data lokasi secara luas digunakan dalam industri iklan digital. Data tersebut merupakan sumber kunci untuk meraup pendapatan bagi perusahaan-perusahaan teknologi.

Data semacam itu biasanya dikumpulkan dari HP atau perangkat lain oleh aplikasi atau penyedia layanan sebelum dijual kepada pialang data yang mengumpulkan dan menjual kembali data tersebut, terkadang melalui jaringan perantara yang kompleks.

Meskipun ancaman terhadap privasi yang melekat dalam menjual detail pergerakan sehari-hari orang di pasar terbuka telah lama menjadi bahan diskusi publik, potensinya sebagai risiko keamanan nasional baru-baru ini juga menimbulkan kekhawatiran.

Sejak 2016, sebuah kontraktor pertahanan AS mampu memanfaatkan data lokasi yang tersedia secara komersial untuk melacak pasukan operasi khusus dari pangkalan mereka di Amerika Serikat ke pos transit sensitif di Suriah, menurut sebuah laporan yang pertama kali diungkapkan oleh Wall Street Journal.

Baru-baru ini, jurnalis di Wired dan dua outlet berita Jerman menggunakan miliaran koordinat yang dikumpulkan oleh broker data untuk mengungkap pergerakan dan kedatangan orang-orang yang ditempatkan di sekitar 11 situs militer dan intelijen AS di Jerman.

Dua kelompok yang mewakili pengiklan digital, Interactive Advertising Bureau dan Association of National Advertisers, tidak membalas email yang meminta komentar.

Surat dari anggota parlemen AS kepada Pentagon mengatakan bahwa, mengingat apa yang diketahui para pejabat militer tentang perdagangan data lokasi, mereka seharusnya bertindak lebih cepat untuk melindungi personel mereka.

Misalnya dengan menonaktifkan ID iklan unik yang terlampir pada perangkat yang dikeluarkan militer, secara otomatis mematikan berbagi lokasi di HP personil, dan mengarahkan staf menjauh dari peramban web Chrome Google menuju alternatif yang lebih berfokus pada privasi.

Salah satu penandatangan surat itu adalah Perwakilan AS Pat Harrigan, seorang Republikan dari Carolina Utara yang sebelumnya adalah seorang perwira Pasukan Khusus Angkatan Darat AS.

Harrigan mengatakan bahwa peramban seperti Chrome "dibangun dari awal untuk mengumpulkan dan berbagi data pengguna". Menurutnya, setiap peramban tersebut tetap ada di perangkat yang dikeluarkan pemerintah, maka artinya "setiap hari kita menyerahkan senjata kepada musuh kita untuk melawan pasukan kita sendiri."

Dalam sebuah pernyataan, Google mengatakan bahwa Chrome memiliki "keamanan terdepan di industri." Perusahaan tersebut menambahkan bahwa mereka "telah lama menganjurkan aturan dan perlindungan yang lebih kuat terhadap pialang data."

(fab/fab)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |