Serangan Iran Lumpuhkan LNG Qatar, Dunia Terancam Krisis Baru

7 hours ago 6

Gelson Kurniawan,  CNBC Indonesia

22 March 2026 19:00

Jakarta, CNBC Indonesia - Konflik yang terus bereskalasi di kawasan Timur Tengah kini memukul keras sektor energi global.

Kerusakan parah pada fasilitas milik QatarEnergy akibat serangan balasan Iran diproyeksikan akan melumpuhkan sebagian kapasitas ekspor gas alam cair (LNG) negara tersebut.

Insiden ini diperkirakan akan memberikan guncangan signifikan terhadap rantai pasokan energi untuk pasar Eropa dan Asia selama beberapa tahun ke depan.

Peringatan Awal dan Konteks Serangan

CEO QatarEnergy, Saad al-Kaabi, menyatakan bahwa ia sebelumnya telah secara rutin memperingatkan para eksekutif dari perusahaan mitra serta Menteri Energi Amerika Serikat mengenai risiko kerusakan pada fasilitas minyak dan gas apabila terjadi eskalasi konflik dengan Iran.

Menyusul serangan terhadap ladang gas South Pars milik Iran, serangan balasan telah mengenai berbagai infrastruktur energi di kawasan Teluk, dengan dampak terbesar dialami oleh kompleks Ras Laffan milik QatarEnergy yang bernilai pembagunan hingga US$ 26 miliar.

Pihak Gedung Putih merespons bahwa Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan tim energinya telah mengantisipasi adanya gangguan jangka pendek pada pasokan minyak dan gas selama operasi di Iran berlangsung.

Sementara itu, mitra QatarEnergy seperti ConocoPhillips menyatakan komitmennya untuk membantu proses pemulihan, sedangkan ExxonMobil menolak memberikan komentar. Kaabi sendiri mengakui tidak mendapat peringatan awal terkait serangan di ladang South Pars, yang merupakan bagian dari ladang gas raksasa yang membentang di wilayah perairan Iran dan Qatar.

Rincian Kerusakan Kapasitas Produksi

Serangan tersebut telah mengakibatkan sebagian kapasitas ekspor hidrokarbon dan produk sampingan Qatar menjadi nonaktif. Penurunan 17% pada kapasitas LNG secara spesifik disebabkan oleh hancurnya unit pendingin utama atau cold boxes secara total pada dua dari 14 train LNG di kompleks Ras Laffan.

Kerusakan struktural pada unit krusial ini diproyeksikan akan memengaruhi pengiriman LNG secara global hingga lima tahun ke depan. Pihak QatarEnergy saat ini masih belum melakukan asesmen mendalam mengenai apakah kerugian terkait perang ini akan ditanggung oleh asuransi. Berikut adalah rincian persentase kapasitas produksi energi Qatar yang saat ini berstatus nonaktif:

Eksposur ExxonMobil pada Fasilitas Terdampak

ExxonMobil, sebagai perusahaan minyak raksasa asal Amerika Serikat dan mitra utama QatarEnergy, memiliki porsi saham minoritas yang signifikan pada dua fasilitas train LNG bernilai miliaran dolar yang kini berstatus nonaktif akibat serangan.

Rincian kepemilikan saham pada dua fasilitas utama yang terdampak diuraikan pada tabel di bawah ini:

Dampak Operasional dan Krisis Ekonomi Regional

Tindakan evakuasi cepat terhadap 10.000 pekerja lepas pantai dalam waktu 24 jam berhasil mencegah timbulnya korban jiwa maupun cedera. Meskipun demikian, penghentian operasional ini membawa konsekuensi jangka panjang terhadap jadwal ekspansi perusahaan.

Proyek perluasan North Field, yang semula dirancang untuk mengukuhkan posisi Doha sebagai eksportir LNG utama dunia dengan meningkatkan kapasitas pencairan gas dari 77 juta menjadi 126 juta ton per tahun pada 2027, dipastikan tertunda.

Seluruh proses pengerjaan saat ini terhenti total karena kekosongan pekerja di lapangan, dan diperkirakan akan mundur selama beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.

Pemulihan tahap produksi baru dapat dimulai kembali setelah konflik mereda, dan akan membutuhkan waktu setidaknya tiga hingga empat bulan pasca-konflik untuk dapat mencapai kapasitas pemuatan secara penuh.

Kaabi memperingatkan bahwa gangguan operasional ini akan memberikan dampak berantai yang sangat luas, bahkan berpotensi memundurkan ekonomi kawasan Teluk hingga 10 sampai 20 tahun ke belakang.

Indikator ekonomi seperti sektor pariwisata, operasional maskapai penerbangan, aktivitas logistik di pelabuhan, hingga tingkat pengeluaran pemerintah dipastikan akan mengalami perlambatan drastis akibat hilangnya pendapatan dari sektor minyak dan gas.

-

CNBC INDONESIA RESEARCH

[email protected]

(gls/gls)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |