Siapa yang Diuntungkan dari Pariwisata Indonesia?

11 hours ago 2

Catatan: Artikel ini merupakan opini pribadi penulis dan tidak mencerminkan pandangan Redaksi CNBCIndonesia.com

Pariwisata Indonesia terus tumbuh. Kontribusi sektor pariwisata terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia mencapai 4,67% pada tahun 2023 menurut Tourism Satellite Account (TSA). Angka ini menegaskan bahwa pariwisata tetap menjadi salah satu penopang penting pertumbuhan ekonomi nasional. Pertanyaannya: siapa yang benar-benar menikmati pertumbuhan ini?

Untuk mendorong pertumbuhan sektor pariwisata, pemerintah melalui Kementerian Pariwisata telah menetapkan beberapa langkah strategis. Mulai dari pengembangan destinasi tematik unggulan dan desa wisata, penguatan ekosistem pariwisata berkelanjutan, peningkatan penyelenggaraan MICE (Meeting, Incentive, Convention, Exhibition), hingga kebijakan bebas visa bagi 13 negara.

Jika dicermati, dari keempat prioritas tersebut, tiga upaya pertama sangat bergantung pada sumber daya di lapangan. Pengembangan destinasi, penguatan ekosistem, hingga penyelenggaraan acara tidak akan berjalan optimal tanpa aktor yang memiliki kapasitas untuk mengelolanya. Pada akhirnya, keberhasilan strategi pariwisata Indonesia sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusianya.

Realitanya, banyak tenaga kerja lokal masih berada di posisi informal atau berupah rendah dan belum sepenuhnya mengisi peran strategis di industri ini. Jika kondisi ini terus berlanjut, pertumbuhan pariwisata berisiko menciptakan kesenjangan, di mana destinasi berkembang pesat, tetapi masyarakat lokal hanya menjadi penonton. Karena itu, penguatan sumber daya manusia seharusnya tidak diposisikan sebagai pelengkap, melainkan sebagai strategi inti dalam pembangunan pariwisata.

Penguatan Keterampilan sebagai Fondasi Utama
Penguatan sektor pariwisata perlu dimulai dari peningkatan keterampilan tenaga kerja. Upaya ini dapat dilakukan dengan membekali masyarakat dengan kapasitas yang relevan dan keahlian spesifik, seperti yang dijalankan Diageo melalui program Learning for Life, yang didukung oleh Kementerian Pariwisata.

Sejak 2022, lebih dari 6.000 pekerja sektor pariwisata di Indonesia dan lebih dari 1 juta secara global telah mengikuti pelatihan tersebut, dengan indikasi kesempatan untuk memperoleh pekerjaan yang meningkat.

Membangun Talent Pool Bersama Institusi Pendidikan
Selain peningkatan keterampilan tenaga kerja yang ada, tantangan berikutnya adalah memastikan ketersediaan talenta untuk masa depan. Oleh karena itu, penting bagi industri untuk bekerja sama dengan institusi pendidikan. Kolaborasi seperti Digital TourismAcademy oleh Agoda bersama Politeknik Pariwisata Bandung mencerminkan upaya untuk menjembatani dunia pendidikan dan industri.

Melalui pendekatan ini, kurikulum dan pelatihan dapat diselaraskan sejak awal dengan kebutuhan sektor, sehingga lulusan tidak hanya siap kerja, tetapi juga siap menghadapi dinamika industri. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa pertumbuhan industri tidak terhambat oleh kesenjangan antara kebutuhan dan ketersediaan talenta.

Memposisikan Masyarakat sebagai Aktor Utama
Peningkatan keterampilan tenaga kerja di sektor pariwisata juga sangat penting untuk membantu masyarakat, khususnya terkait UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah). Penguatan UMKM ini memungkinkan masyarakat beralih dari peran informal atau berupah rendah menjadi pelaku utama dalam rantai nilai pariwisata.

Peran ini dapat semakin diperkuat melalui program-program berbasis keberlanjutan yang memberdayakan masyarakat sekaligus memastikan penciptaan nilai jangka panjang. Salah satu contohnya adalah Sustainable Tourism Impact Fund oleh Agoda, yang memberdayakan komunitas lokal untuk mengembangkan usaha mereka.

Dukungan terhadap UMKM seperti Sejiva dan Livingseas tidak hanya memperkuat aspek operasional dan pemasaran, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan pusat-pusat pariwisata regeneratif di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa pertumbuhan pariwisata dapat berjalan seiring dengan pemberdayaan masyarakat. Pada saat yang sama, pariwisata yang berpusat pada masyarakat harus berjalan seiring dengan keberlanjutan lingkungan.

Tanpa hal tersebut, pertumbuhan pariwisata berisiko merusak fondasi yang menjadi tumpuannya. Di Indonesia, di mana keindahan alam merupakan daya tarik utama, upaya seperti restorasi hutan hujan dan konservasi laut menjadi sangat penting. Inisiatif yang didukung oleh program Eco Deals Agoda bekerja sama dengan WWF, misalnya, menunjukkan bagaimana pertumbuhan pariwisata dapat selaras dengan pelestarian lingkungan.

Pariwisata Indonesia tidak akan melambat dalam waktu dekat. Potensinya besar dan dukungan kebijakan terus menguat, seiring dengan hadirnya berbagai inisiatif yang menempatkan masyarakat sebagai aktor utama seperti beberapa inisiatif dari perusahaan-perusahaan asal Amerika Serikat di atas. Namun, siapa yang akan menjadi pelaku dan siapa yang akan menikmati kemajuannya tergantung pada usaha yang kita upayakan hari ini.

Pertanyaannya bukan lagi apakah pariwisata akan tumbuh, melainkan siapa yang akan menjadi pelaku utama dan siapa yang akan tertinggal. Arah pariwisata Indonesia pada akhirnya tidak hanya ditentukan oleh investasi, infrastruktur, atau kebijakan. Ia ditentukan oleh pilihan yang lebih mendasar: apakah kita menempatkan manusia, masyarakat kita sendiri, sebagai pusat dari pertumbuhan tersebut, atau sekadar menjadi angka pemanis dalam laporan capaian?


(miq/miq)

Add logo_svg as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |