Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat pengawasan keamanan pangan dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Mulai pekan ini, setiap ompreng atau wadah makanan MBG diwajibkan mencantumkan batas waktu konsumsi.
Kepala BGN Sudaryono mengatakan, pencantuman batas waktu tersebut penting agar guru dan siswa mengetahui kapan makanan masih aman untuk dikonsumsi.
"Kami akan memberlakukan kewajiban untuk menuliskan di setiap omprengnya ada tanda atau ada peringatan untuk dikonsumsi 'harus dikonsumsi' atau 'harus dimakan sebelum jam berapa', gitu. Jadi ini peran bapak, ibu guru sangat penting sekali di sini," kata Sudaryono dalam keterangannya, dikutip Senin (10/8/2026).
Sudaryono menegaskan, makanan tidak boleh dikonsumsi setelah melewati batas waktu yang tertera pada ompreng. Aturan ini berlaku bagi siswa maupun guru.
"Kalau memang jamnya di dalam ompreng itu sudah melebihi jam yang tertera, kami minta tidak dikonsumsi. Bapak, ibu guru tidak boleh mengonsumsi, apalagi peserta didiknya atau anak didiknya, siswanya juga tidak boleh mengonsumsi manakala sudah melewati batas dari jam yang ditentukan," tegas dia.
Menurutnya, makanan MBG merupakan makanan segar yang tidak menggunakan bahan pengawet sehingga memiliki batas waktu aman untuk dikonsumsi. Secara umum, makanan maksimal dikonsumsi empat jam setelah matang.
"Karena sesuai dengan kenormalan dalam penyajian makanan itu, setelah matang itu maksimal 4 jam harus dimakan karena makanan ini tidak ada pengawetnya. Memang betul-betul dimasak dengan tidak ultra processed food, sehingga betul-betul ini barang fresh sehingga ada window-nya, ada jendelanya di mana dia aman untuk dikonsumsi," jelasnya.
MBG Jangan Dibawa Pulang
Sejalan dengan aturan tersebut, BGN juga meminta makanan MBG tidak dibawa pulang oleh siswa. Makanan yang sudah diterima di sekolah harus dikonsumsi di tempat sesuai waktu yang ditentukan.
"Kami mohon sesuai dengan petunjuk teknis, bapak, ibu semua, (MBG) sebaiknya tidak dibawa pulang. Pastikan makannya satu, dimakan di situ, dikonsumsi di kelas itu di jam yang memang diperbolehkan, dan sebaiknya tidak dibawa pulang," tegas Sudaryono.
Ia mengatakan, makanan yang dibawa pulang berisiko disimpan terlalu lama sebelum kembali dikonsumsi. Menurut dia, praktik tersebut bahkan menjadi salah satu faktor dalam sejumlah kasus keracunan MBG, termasuk yang dialami orang tua siswa setelah mengonsumsi makanan yang dibawa pulang.
"Memang ini saya paham sekali, saya juga kemarin di satu SD yang di Bogor yang saya datangi, itu kemudian dibelah dua, dia bilang dia teringat ibunya di rumah. Ini menjadi satu case keracunan di beberapa titik, Bahkan yang keracunan bukan hanya siswanya, tapi bapak, ibu orang tua di rumah ikut keracunan karena makanan yang dibawa pulang tadi," ucapnya.
Pengawasan Diperketat dari Dapur hingga Sekolah
Selain memperketat aturan konsumsi, BGN juga membenahi sistem pengawasan produksi makanan di seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Saat ini terdapat 27.489 SPPG yang beroperasi dan diwajibkan menggunakan sistem monitoring produksi.
Sistem tersebut mencatat seluruh proses, mulai dari persiapan bahan, memasak, makanan matang, pengemasan hingga pengiriman ke sekolah. Dengan begitu, waktu makanan diproduksi hingga disajikan kepada siswa dapat dipantau.
BGN juga menempatkan petugas penanggung jawab atau PIC di setiap sekolah. PIC berasal dari tenaga kependidikan, seperti tenaga administrasi atau tata usaha, dan bertugas menerima sekaligus memeriksa makanan sebelum diberikan kepada siswa.
Pemeriksaan dilakukan secara organoleptik dengan melihat, mencium dan mencicipi sampel makanan. Jika makanan dinilai tidak memenuhi standar, makanan tersebut wajib ditahan dan tidak diberikan kepada siswa.
"Namun di situ, tetap PIC juga melakukan satu mekanisme organoleptik, yaitu dibuka, diambil sampelnya, dibuka, kemudian dibau, dicium, dirasa, dilihat. Manakala tidak memenuhi standar, maka tidak harus atau wajib hukumnya tidak diberikan kepada siswa. Jadi PIC itu adalah layer terakhir kedua, yang memastikan bahwa menu makanan itu aman dan tidaknya," pungkas dia.
(dce)
[Gambas:Video CNBC]
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4936730/original/025851900_1725466519-1725444595272.JPG)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5554928/original/044276700_1776137094-u-17.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5553249/original/064585300_1775923206-SaveGram.App_669702704_18576308851056586_3953588179549821210_n.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5517047/original/078921900_1772384976-SaveGram.App_640266969_18393344611150856_335126654579775669_n.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541752/original/079844000_1774890887-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-19.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5193024/original/060543500_1745211082-dean_fc.jpg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5540760/original/058441900_1774811482-Gemini_Generated_Image_96c2f296c2f296c2.jpg)