Tak Ada yang Ngajak Perang, Diam-Diam Nuklir Korea Utara "Melesat"

4 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah mandeknya upaya diplomasi global, perkembangan program nuklir Korea Utara kembali memicu kekhawatiran internasional setelah laporan terbaru menunjukkan peningkatan aktivitas yang signifikan di fasilitas utama negara tersebut.

Dilansir The Guardian, Rabu (15/4/2026), Kepala Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi menyatakan bahwa Pyongyang telah membuat kemajuan yang "sangat serius" dalam kemampuannya memproduksi lebih banyak senjata nuklir. Pernyataan ini disampaikan saat kunjungannya ke Seoul pada Rabu.

Menurut Grossi, aktivitas di kompleks nuklir utama Korea Utara di Yongbyon meningkat pesat. Ia menyebut pekerjaan di reaktor 5 megawatt, fasilitas pemrosesan ulang, reaktor air ringan, serta instalasi lainnya mengalami intensifikasi.

Grossi juga mengonfirmasi bahwa Korea Utara diyakini telah memiliki beberapa puluh hulu ledak nuklir. Sejumlah perkiraan menyebut jumlahnya mencapai sekitar 50, meski sebagian pakar masih meragukan klaim Pyongyang terkait kemampuan miniaturisasi agar dapat dipasangkan pada rudal balistik jarak jauh.

Sejak melakukan uji coba nuklir pertamanya pada 2006, Korea Utara telah mengembangkan kemampuan nuklir yang dinilai cukup operasional, termasuk pengembangan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang berpotensi menjangkau wilayah daratan Amerika Serikat.

Di bawah kepemimpinan Kim Jong Un, yang mulai berkuasa sejak 2011, program nuklir negara tersebut terus dipercepat meski menghadapi sanksi dari PBB. Para pengamat menilai langkah ini merupakan upaya Pyongyang untuk memperkuat daya tangkal dan mencegah kemungkinan perubahan rezim oleh pihak luar, khususnya Amerika Serikat.

Perkembangan terbaru juga diperkuat oleh laporan lembaga pemikir berbasis di Washington, Center for Strategic and International Studies (CSIS), melalui proyek Beyond Parallel. Berdasarkan citra satelit, Korea Utara disebut telah menyelesaikan pembangunan fasilitas baru yang diduga untuk pengayaan uranium di Yongbyon.

Fasilitas tersebut dilaporkan hampir siap beroperasi. Selain itu, terdapat indikasi keberadaan fasilitas serupa di lokasi lain di Kangson, dekat Pyongyang, yang belum pernah diumumkan kepada otoritas nuklir internasional.

Menurut laporan tersebut, produksi uranium yang diperkaya "akan secara signifikan meningkatkan jumlah senjata nuklir yang dapat dimiliki Korea Utara".

Temuan ini sejalan dengan penilaian IAEA pada Juni tahun lalu yang menyebut Korea Utara tengah membangun fasilitas pengayaan uranium di Yongbyon yang dapat digunakan untuk menghasilkan material tingkat senjata.

Pada Maret lalu, Grossi menyatakan tidak ada bukti perubahan signifikan di lokasi uji coba nuklir utama Korea Utara di Punggye-ri, namun fasilitas tersebut tetap dinilai siap digunakan untuk uji coba nuklir kapan saja.

Ia menegaskan bahwa program nuklir Korea Utara merupakan pelanggaran serius terhadap resolusi Dewan Keamanan PBB. "Pelanggaran yang jelas," kata Grossi, seraya menambahkan bahwa IAEA akan terus menjaga kesiapan untuk menjalankan perannya dalam memverifikasi program nuklir negara tersebut.

Korea Utara sendiri belum melakukan uji coba nuklir sejak 2017, namun terus menunjukkan kemajuan dalam teknologi misil dan memperluas persenjataannya, sejalan dengan komitmen Kim Jong-un pada Agustus lalu untuk melakukan "ekspansi nuklir yang pesat".

Sementara itu, upaya diplomasi untuk menahan ambisi nuklir Pyongyang belum membuahkan hasil. Pertemuan antara Kim dan Presiden AS Donald Trump pada masa jabatan pertamanya berakhir tanpa kesepakatan, diikuti memburuknya hubungan antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Presiden Korea Selatan, Lee Jae Myung, sebelumnya memperingatkan bahwa Korea Utara kini mampu memproduksi material untuk 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun, sekaligus meningkatkan kemampuan rudal balistik jarak jauh.

"Pada suatu titik, Korea Utara akan mengamankan persenjataan nuklir yang diyakininya dibutuhkan untuk mempertahankan rezimnya, bersama dengan kemampuan rudal balistik antarbenua (ICBM) yang mampu mengancam tidak hanya Amerika Serikat tetapi juga dunia yang lebih luas," ujar Lee pada Januari lalu.

"Dan begitu terjadi kelebihan, itu akan menyebar ke luar negeri, melampaui batas negaranya. Bahaya global pun akan muncul," imbuhnya.

Namun, Korea Utara menolak upaya Seoul untuk membuka kembali dialog lintas perbatasan, menandakan bahwa ketegangan di Semenanjung Korea masih jauh dari mereda.

(luc/luc)

Add as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |