Tak Terduga, China Tiba-tiba Jadi Penyelamat Tesla

2 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Kanada yang merupakan sekutu erat Amerika Serikat (AS) tiba-tiba merapat ke China. Keduanya meneken kesepakatan dagang yang memberikan solusi 'win-win', dimulai dengan memangkas tarif kendaraan listrik (EV) dan canola.

Kedua negara berjanji untuk menghapus hambatan perdagangan sambil menjalin hubungan strategis baru. Sebagai konteks, Carney merupakan PM Kanada pertama yang mengunjungi China sejak 2017. Ia tampaknya berupaya membangun kembali hubungan dengan mitra dagang terbesar kedua negaranya setelah AS.

Sebagai permulaan, Kanada awalnya mengizinkan masuk hingga 49.000 EV China dengan tarif 6,1%, kata Carney setelah pembicaraan dengan para pemimpin China, termasuk Presiden China Xi Jinping. Ia tidak menyebutkan jangka waktu tertentu untuk kesepakatan ini.

Angka itu turun drastis dibandingkan dengan tarif 100% untuk EV China yang diberlakukan mantan PM Justin Trudeau pada 2024 silam, setelah sanksi serupa dicanangkan AS. Pada 2023, China mengekspor 41.678 EV ke Kanada.

Secara tak terduga, kesepakatan ini justru paling menguntungkan raksasa mobil listrik Tesla milik Elon Musk. Meskipun banyak produsen EV China yang bisa mengambil kesempatan untuk mengekspansi ekspor ke Kanada, Tesla memiliki keunggulan karena pada 2023 lalu sudah melengkapi peralatan di fasilitasnya di Shanghai.

Pabrik Tesla di Shanghai merupakan yang terbesar dan yang paling efisien biaya secara global. Dari pabrik tersebut, Tesla mengembangkan dan mengekspor unit Model Y yang spesifik untuk Kanada.

Pada 2023, Tesla mulai mengirimkan mobilnya dari Shanghai ke Kanada dan mampu menggenjot pertumbuhan impor EV Kanada dari China ke pelabuhan terbesarnya, Vancouver, sebesar 460% secara tahun-ke-tahun atau 44.356 unit di 2023, dikutip dari Reuters, Selasa (20/1/2026).

Namun, skema itu terpaksa berhenti pada 2024. Tesla terpaksa mengapalkan EV ke Kanada melalui pabriknya di AS dan Berlin, setelah Ottawa menerapkan tarif 100% untuk impor EV dari China.

Saat ini, Tesla mengapalkan Model Y yang diproduksi di Berlin ke Kanada, tetapi varian-varian lebih murah lainnya seperti Model 3 kebanyakan dikembangkan di China.

"Perjanjian baru ini dapat memungkinkan dimulainya kembali ekspor tersebut dengan cukup cepat," kata Sam Fiorani, wakil presiden perusahaan riset AutoForecast Solutions.

Tesla memiliki jaringan 39 toko yang sudah ada di Kanada, sedangkan pesaing dari China seperti BYD belum memiliki kehadiran penjualan di sana, dan kemungkinan besar Tesla juga dapat bergerak lebih cepat dengan rencana pemasarannya karena hanya memiliki empat model inti, jauh lebih sedikit daripada pesaingnya dari China.

"Tesla memang memiliki keunggulan dengan menawarkan beberapa model, versi, dan jalur produksi yang sederhana sehingga dapat fleksibel untuk menjual mobil yang diproduksi di negara mana pun di pasar mana pun untuk mencapai efisiensi biaya terbaik," kata Yale Zhang, direktur pelaksana di perusahaan konsultan AutoForesight yang berbasis di Shanghai.

Tesla tidak langsung merespons permintaan komentar dari Reuters.

Merek lain yang mengekspor mobil buatan China ke Kanada sebelum pemberlakuan tarif termasuk Volvo dan Polestar, yang keduanya dimiliki oleh grup otomotif China, Geely. Volvo dan Polestar juga tidak segera menanggapi permintaan komentar.

Kendati demikian, dalam kesepakatan China-Kanada, ada satu klausul yang bisa menguntungkan produsen EV China. Setengah dari kuota impor EV China ke Kanada dialokasikan untuk kendaraan di bawah 35.000 CAD. Harga semua model Tesla berada di atas angka tersebut.

"Pihak yang diuntungkan kemungkinan besar adalah produsen mobil China dan pelanggan Kanada yang mencari kendaraan kelas bawah," kata Fiorani.

John Zeng, kepala peramalan pasar untuk China di perusahaan konsultan GlobalData yang berbasis di London, mengatakan bahwa kuota tersebut kemungkinan juga akan menawarkan peluang bagi produsen mobil China untuk menjajaki pasar di Kanada, di mana terdapat populasi besar warga Kanada keturunan Tionghoa.

Kanada ingin menjajaki usaha patungan dan investasi dengan perusahaan-perusahaan China dalam tiga tahun ke depan untuk membangun EV Kanada dengan memanfaatkan pengetahuan dari China, demikian dilaporkan oleh lembaga penyiaran publik CBC, mengutip seorang pejabat senior Kanada.

Produsen kendaraan listrik terkemuka China, BYD, saat ini memiliki pabrik perakitan bus listrik di Ontario, Kanada.

Para pejabat pemerintahan Trump telah mengkritik keputusan Kanada. Mantan pemerintahan Biden juga melipatgandakan tarif kendaraan listrik China menjadi 100% pada tahun 2024, yang hampir sepenuhnya memblokir ekspor tersebut ke AS.

(fab/fab)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |