Tanda Kiamat Makin Dekat Sudah Tampak Jelas di Wilayah RI

3 hours ago 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkap penyebab meningkatnya hujan ekstrem hingga munculnya siklon tropis di Indonesia, yang disebut sebagai dampak nyata "kiamat" perubahan iklim global.

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Eddy Hermawan, mengatakan peningkatan kejadian cuaca ekstrem seperti curah hujan berintensitas tinggi yang memicu bencana hidrometeorologi merupakan konsekuensi langsung dari pemanasan global.

Menurutnya, global warming bukan lagi teori, tetapi sudah menjadi aksi nyata di atmosfer.

"Hal itu ditandai dengan kenaikan muka laut, peningkatan cuaca ekstrem, hingga munculnya ancaman baru seperti siklon tropis, ada Seroja, Cempaka, Dahlia seperti yang terjadi di Indonesia, khususnya di wilayah Jakarta dan pantai utara Jawa saat ini," ungkap Eddy dalam keterangan tertulis, dikutip CNBC Indonesia, Jumat (6/2/2026).

Eddy menjelaskan, hujan ekstrem berdurasi pendek yang terjadi dalam hitungan jam dipicu gelombang atmosfer ekuatorial, seperti Kelvin wave. Sementara hujan ekstrem yang berlangsung harian hingga mingguan dipengaruhi fenomena skala besar seperti La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD).

"Kalau hujannya berhari-hari, itu bukan sekadar gelombang atmosfer, tapi karena La Niña dan Indian Ocean Dipole (IOD). Itu yang membuat hujan terus-menerus," ujarnya.

Ia juga memaparkan penyebab siklon tropis dapat terbentuk atau masuk ke wilayah Indonesia.

Menurutnya, posisi Indonesia berada di jalur Asian Monsoon, sehingga uap air dari Asia bergerak masuk ke wilayah seperti Jakarta. Kondisi geografis Jakarta yang berupa dataran aluvial, pantai landai, serta mengalami pemanasan lebih dari 12 jam per hari membuat wilayah tersebut berpotensi menjadi pusat tekanan rendah.

"Kondisi itu membuat Jakarta menjadi lokasi ideal terbentuknya pusaran atmosfer. Di lapisan sekitar 500 hektopascal, atau ketinggian 5,8 kilometer, terjadi pusaran angin yang sangat kuat," jelas Eddy.

Pusaran tersebut terbentuk dari pertemuan angin baratan dan timuran yang memutar atmosfer di atas Jakarta selama berjam-jam. Dampaknya, hujan tidak hanya turun deras, tetapi juga terkonsentrasi lama di satu wilayah.

Dalam upaya mitigasi bencana hidrometeorologi, Eddy menekankan pentingnya transformasi sistem peringatan dini. Menurutnya, prediksi cuaca ekstrem tidak lagi cukup menggunakan pendekatan konvensional.

"Kita harus masuk ke AI, big data, machine learning, deep learning, agar prediksi lebih presisi, tepat waktu, dan terlokalisasi," tegasnya.

Ia berharap hasil riset atmosfer BRIN dapat menjadi dasar mitigasi, pemetaan risiko, serta bahan pengambilan kebijakan agar pengelolaan bencana hidrometeorologi di Indonesia semakin berbasis sains.

Selain faktor atmosfer, Eddy juga menyoroti lemahnya daya tahan lingkungan, khususnya di wilayah perkotaan.

Perubahan tutupan lahan dari hutan menjadi kawasan terbangun membuat air kehilangan ruang resapan.

Menurutnya, banjir di Jakarta tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga karena ketidaksiapan lanskap perkotaan menghadapi beban hidrometeorologi ekstrem.

(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |