- Pasar keuangan Indonesia ditutup melemah, baik saham dan nilai tukar rupiah jatuh
- Wall Street melemah, saham AI melandai
- Data ekonomi dalam negeri dan AS menjadi penggerak pasar hari ini
Jakarta, CNBC Indonesia- Pasar keuangan Indonesia berakhir di zona merah. Bursa saham dan rupiah sama-sama melemah.
Pasar keuangan Indonesia diperkirakan masih menghadapi tekanan pada hari ini. Selengkapnya mengenai proyeksi sentimen hari ini bisa dibaca pada halaman 3 artikel ini.
Pasar keuangan dalam negeri kompak ditutup melemah pada perdagangan Kamis (8/1/2025) meski IHSG sempat menyentuh rekor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berbalik arah dan berakhir di zona merah Kamis (8/1/2026).
Indeks tercatat turun 19,34 poin atau 0,22% ke level 8.925,47. Indeks pada sesi 1 sempat menguat dan menyentuh level 9.000.
Akan tetapi memasuki sesi 2 indeks mulai koreksi dan sempat menyentuh level terendah di 8.918,41.
Sebanyak 380 saham turun, 328 saham naik, dan 250 tidak bergerak. Nilai transaksi mencapai Rp 28,78 triliun, melibatkan 51,58 miliar saham dalam 3,71 juta kali transaksi.
Mengutip Refinitiv, sektor bahan baku anjlok paling dalam, yakni 1,88%. Hal ini seiring dengan saham-saham seperti Aneka Tambah (ANTM), Merdeka Copper Gold (MDKA), Bumi Resources Minerals (BRMS), hingga Amman Mineral International (AMMN) menjadi pemberat utama indeks.
Kendati demikian, perdagangan kemarin menjadi bersejarah karena untuk pertama kalinya IHSG menyentuh titik 9.000. Sebelumnya Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sempat memperkirakan bahwa IHSG akan menyentuh level 9.000.
"To the moon," kata Purbaya menanggapi IHSG yang berhasil menyentuh level 9.000.
Beralih ke pasar valas, nilai tukar rupiah kembali melanjutkan pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), seiring dengan adanya sentimen dari dalam maupun luar negeri.
Merujuk data Refinitiv, pada penutupan perdagangan Kamis (8/1/2026) rupiah bertengger di posisi Rp16.785/US$ atau melemah 0,09%. Hal ini sekaligus melanjutkan tren penurunan dalam lima hari perdagangan beruntun atau sejak awal 2026.
Pelemahan rupiah pada perdagangan terjadi seiring pelaksanaan konferensi pers APBN KiTa Edisi Januari 2026 yang memaparkan realisasi penuh Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tahun anggaran 2025. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengumumkan defisit APBN per Desember 2025 mencapai Rp695,1 triliun atau setara 2,92% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan defisit tahun 2024 yang tercatat sebesar 2,3% dari PDB, sekaligus melampaui target awal defisit APBN 2025 sebesar 2,53% dari PDB. Dari sisi eksternal, pergerakan rupiah juga masih dibayangi oleh dinamika dolar Amerika Serikat (AS) yang relatif stabil terhadap mayoritas mata uang utama dunia. Pasar global saat ini mencermati rangkaian data ketenagakerjaan Amerika Serikat yang dirilis sepanjang pekan ini.
Dari pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun menguat menjadi 6,15% dari 6,09%. Kenaikan imbal hasil ini mencerminkan harga SBN yang tengah jatuh karena dijual investor.






























:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5339674/original/047240900_1757081733-20250904AA_Timnas_Indonesia_vs_China_Taipei-08.JPG)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310777/original/099498800_1754792417-527569707_18517708213000398_2665174359766286643_n.jpg)











