Jakarta, CNBC Indonesia - Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah sejumlah negara tetangga Iran melaporkan kerusakan fasilitas sipil akibat serangan drone dan rudal. Arab Saudi melaporkan ledakan di kilang minyak Ras Tanura, sementara Azerbaijan menyebut bandara Nakhchivan mengalami kerusakan. Kedua negara itu sempat menuding Iran sebagai pelaku serangan.
Namun Teheran membantah tuduhan tersebut. Mengutip laporan Middle East Monitor, pemerintah Iran justru menuding Israel berada di balik serangan itu melalui skenario false flag operation, yakni operasi rahasia yang dirancang agar tampak dilakukan pihak lain untuk memicu konflik.
Tuduhan semacam ini bukan hal baru dalam sejarah. Salah satu kasus yang kerap dikaitkan adalah Lavon Affair pada 1954 ketika skenario Israel untuk adu domba Mesir dan Amerika Serikat (AS) untuk saling serang terbongkar.
Skenario Adu Domba
Awalnya bermula pada Juli 1954 ketika dua kota besar di Alexandria dan Kairo, Mesir, diguncang serangkaian ledakan bom selama beberapa hari berturut-turut. Targetnya adalah lokasi-lokasi strategis seperti kantor pos, stasiun kereta api, terminal, hingga bioskop.
Tak hanya itu, sejumlah fasilitas milik AS juga menjadi sasaran, termasuk kantor konsulat dan berbagai bangunan lain.
Meski pemerintah menyatakan tidak ada korban jiwa, serangan tersebut tetap memicu kekacauan besar. Pemerintahan yang dipimpin Gamal Abdel Nasser saat itu menghadapi tekanan politik dan krisis kepercayaan. Nasser dianggap gagal menjaga keamanan, terlebih serangan juga menimpa fasilitas milik negara lain.
Kondisi ini membuat Washington meragukan kemampuan Mesir dalam menjaga stabilitas keamanan. Namun, titik terang muncul pada 27 Juli 1954. Otoritas Mesir berhasil menggagalkan rencana pengeboman lanjutan dan menangkap seorang pelaku bernama Philip Nathanson.
Setelah penyelidikan lebih lanjut, terungkap bahwa Nathanson merupakan agen intelijen Israel. Penangkapan ini kemudian membuka jaringan operasi yang lebih luas. Polisi Mesir akhirnya menangkap 13 agen Israel yang diduga terlibat dalam rangkaian aksi pengeboman tersebut.
Sebagaimana diceritakan dalam tulisan Leonard Weiss berjudul "The Lavon Affair: How a false-flag operation led to war and the Israeli bomb" (2016), dalam persidangan terungkap operasi itu bertujuan merusak hubungan antara Mesir dan AS. Saat itu, Nasser diketahui memiliki hubungan yang cukup dekat dengan Presiden AS Dwight D. Eisenhower, bahkan keduanya hampir mencapai kesepakatan kerja sama persenjataan.
Kedekatan ini dianggap berbahaya oleh Israel. Pemerintah Israel khawatir persenjataan dari AS akan digunakan Mesir untuk menyerang negara Yahudi tersebut, mengingat sikap Nasser yang dikenal sangat anti-Israel.
Atas dasar itulah, Israel disebut menjalankan operasi sabotase rahasia dengan sandi Operation Susannah. Tujuannya adalah menciptakan kekacauan di Mesir agar kekuasaan Nasser melemah, hubungan Mesir-AS rusak, dan memicu kemungkinan intervensi serangan Barat.
Dengan demikian, negara-negara Barat diharapkan kehilangan kepercayaan terhadap pemerintahan Mesir dan menghentikan bantuan ekonomi maupun militer.
"Jika sukses dan Mesir mengalami ketidakstabilan, maka Barat akan berpikir dua kali untuk memberikan dukungan lebih lanjut. Harapan Israel adalah bahwa Operasi Susannah akan memperkuat musuh-musuh Nasser dan melemahkan argumen dukungan Barat," tulis Leonard Weiss.
Pengadilan kemudian menjatuhkan berbagai hukuman. Mulai dari hukuman mati hingga penjara seumur hidup.
Di Israel, skandal ini memicu krisis politik besar karena para pejabat saling menyalahkan soal siapa yang memerintahkan operasi rahasia tersebut. Nama Menteri Pertahanan saat itu, Pinhas Lavon, sempat disebut sebagai pihak yang menyetujui sabotase. Lavon pun mundur dari jabatannnya.
Akibat skenario ini, Nasser marah. Setahun kemudian dia menasionalisasi Terusan Suez hingga memicu serangan militer oleh Israel bersama Inggris dan Prancis dalam Krisis Suez. Bertahun-tahun kemudian, pada 1975, seorang pejabat Israel mengakui operasi rahasia tersebut memang terjadi. Skandal ini kini dikenal sebagai Lavon Affair.
(mfa/sef)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425735/original/089258700_1764236014-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH_Borneo_FC_Samarinda_vs_Bali_United_FC__2_.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5414491/original/012054700_1763287155-530668458_18471777553074306_380593477510268437_n__1_.jpg)




