Tetangga RI Siaga, Malaysia Prediksi Krisis BBM di Bulan Juni-Juli

2 hours ago 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Negara tetangga RI, Malaysia, memperkirakan akan mengalami momen kritis terkait pasokan bahan bakar minyak (BBM). Ini terjadi pada bulan Juni-Juli.

Hal tersebut dikatakan Menteri Perekonomian Akmal Nasrullah Mohd Nasir, sebagaimana dimuat laman lokal, The Star. Ia mengatakan pemerintah sedang menerapkan langkah-langkah untuk mengatasi kekurangan bahan bakar global di tengah konflik Timur Tengah, termasuk mengeksplorasi bahan baku alternatif.

"Juni dan Juli akan menjadi periode yang sangat kritis dalam memastikan ketersediaan pasokan bahan bakar," katanya, dikutip Senin (13/4/2026).

"Sama pentingnya untuk memastikan bahwa industri kita juga memiliki pasokan bahan baku lain yang cukup, termasuk yang dibuat menggunakan bahan bakar (minyak dan gas)," tambahnya.

"Kami sudah mulai menerima keluhan (dari perusahaan) tentang hanya menerima dua ton bahan untuk pesanan 10 ton."

Akmal Nasrullah juga menambahkan bahwa sangat penting untuk mengambil langkah-langkah segera untuk memastikan pasokan bahan, termasuk obat-obatan dan alat-alat medis, agar tetap stabil. Industri ini juga membutuhkan turunan minyak.

"Sebagai contoh, dalam pembuatan alat kesehatan yang sebelumnya hanya bergantung pada resin, kita dapat mengeksplorasi penggunaan polimer dengan menggunakan bahan lain sebagai dasarnya," katanya.

"Namun, ini membutuhkan tindakan tindak lanjut segera dari pemerintah, termasuk pengakuan dan sertifikasi bahan tersebut," katanya.

Ia menambahkan bahwa pemerintah mengakui bahwa sebagian besar barang, termasuk obat-obatan dan alat kesehatan, bergantung pada minyak dan gas sebagai input utama. Hal itu meningkatkan biaya ketika harga energi naik.

"Ketika bahan bakar menjadi elemen input, hal itu tentu akan memengaruhi biaya produksi dan selanjutnya harga barang-barang tersebut," katanya.

Pemerintah, kata dia, telah meminta lembaga terkait untuk memeriksa ketersediaan pasokan secara menyeluruh dan mengatur intervensi segera. Ini untuk memastikan rantai pasokan tetap stabil.

Sebelumnya, Menteri Kesehatan Malaysia Dzulkefly Ahmad mengatakan kementerian sedang memantau kenaikan harga obat-obatan dan alat kesehatan hingga 40%. Ini akibat krisis energi global dan gangguan rantai pasokan.

(sef/sef) [Gambas:Video CNBC]

Read Entire Article
| | | |