Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa saham Amerika Serikat (AS), Wall Street, dan pasar saham Eropa babak belur pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (27/3/2026).
Indeks jeblok seteah harga minyak Brent menembus US$110 karena insiden di Selat Hormuz memperparah kekhawatiran investor terhadap pasokan energi. Komentar terbaru Presiden AS Donald Trump juga gagal mendorong pelaku pasar untuk kembali membeli saham.
Indeks Dow Jones jatuh 793,47 poin, atau 1,73%, ditutup di level 45.166,64. Indeks S&P 500 ambruk 1,67% dan berakhir di level terendah dalam tujuh bulan di 6.368,85. Sementara itu, Nasdaq Composite ambes 2,15% ke 20.948,36.
Dalam sepekan terakhir, indeks S&P turun 2,1%. Nasdaq yang didominasi saham teknologi merosot 3,2% sementara Dow Jones melemah 0,9%.
Pergerakan Nasdaq kini masuk ke wilayah koreksi, hampir 13% di bawah rekor tertingginya yang dicapai pada Oktober 2025. Dow juga sempat masuk wilayah koreksi secara intraday dan ditutup turun 10% dari puncak penutupan sebelumnya. S&P 500 kini turun 8,7% dari rekor penutupan tertingginya.
Ambruknya Wall Street dipicu kembali meroketnya harga minyak.
Harga minyak mentah Brent internasional naik 4,22% menjadi $112,57 per barel. Sementara itu, minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) naik 5,46% ke $99,64 per barel. Ini merupakan penutupan tertinggi untuk kedua acuan sejak Juli 2022.
Presiden Donald Trump memperpanjang tenggat waktu untuk menyerang infrastruktur energi Iran hingga 6 April, sedikit lebih dari seminggu setelah target awal yang ditetapkan pada Jumat.
"Berdasarkan permintaan Pemerintah Iran, pernyataan ini menjadi penegasan bahwa saya menunda periode penghancuran fasilitas energi," tulis Trump di Truth Social.
"Pembicaraan masih berlangsung dan, meskipun ada pernyataan keliru dari media 'berita palsu' dan pihak lain, semuanya berjalan sangat baik."imbuhnya.
Pengumuman ini menjadi sinyal terbaru bahwa pemerintahan Trump sedang mengupayakan akhir dari perang AS-Iran. Perang telah mendorong lonjakan harga minyak, membebani konsumen, dan berpotensi merugikan Partai Republik dalam pemilu paruh waktu.
Namun, ketidakpastian masih membayangi investor. Menteri luar negeri Iran mengatakan Teheran tidak berniat mengadakan pembicaraan dengan AS, meskipun para pemimpinnya sedang meninjau proposal Amerika untuk mengakhiri perang.
Pentagon juga sedang mempertimbangkan pengiriman tambahan 10.000 pasukan ke Timur Tengah.
Selat Hormuz dinyatakan ditutup oleh Garda Revolusi Iran, dengan peringatan bahwa setiap pergerakan di jalur laut strategis tersebut akan mendapat respons keras. Dua kapal China ditolak melintas pada Jumat pagi, dan sebuah kapal kargo berbendera Thailand yang sebelumnya terkena serangan di jalur tersebut dilaporkan kandas.
Jay Hatfield, pendiri dan CEO Infrastructure Capital Advisors menjeaskan meski Trump memperpanjang tenggat waktu, investor kini ingin melihat resolusi konflik yang benar-benar terjadi, bukan sekadar kemungkinan.
Resolusi konflik akan menjadi katalis positif bagi pasar saham, yang jatuh sejak AS dan Israel menyerang infrastruktur energi Iran pada 28 Februari.
"Semakin lama Selat Hormuz ditutup, semakin buruk kondisi pasar minyak," kata Hatfield, kepada CNBC International.
"Harga mungkin akan turun cukup dalam, tetapi tetap akan ada masalah inventori ketika selat dibuka kembali. Jika butuh satu bulan lagi untuk membuka kembali, harga minyak bisa bertahan di sekitar $80 untuk sementara hingga stok pulih." Imbuhnya.
Menteri Luar Negeri Marco Rubio mengatakan AS dapat mencapai tujuannya di Iran tanpa penggunaan pasukan darat dan memperkirakan operasi akan selesai dalam hitungan minggu, meskipun ada penambahan pasukan ke kawasan tersebut.
"Jelas, sentimen pasar secara keseluruhan telah berubah sangat negatif dan kini kita telah masuk ke wilayah koreksi," kata Ken Polcari, partner dan kepala strategi pasar di SlateStone Wealth, dikutip dari Reuters.
"Pada akhirnya, saya melihat ini sebagai peluang besar, tetapi tidak akan terkejut jika kita melihat penurunan lebih dalam sekitar 15% hingga 20% sebelum semuanya berakhir." Imbuhnya.
Indeks volatilitas CBOE Volatility Index (VIX), yang sering disebut sebagai indikator ketakutan di Wall Street, menyentuh level tertinggi sejak 9 Maret.
Saham-saham megacap menjadi penekan utama indeks S&P 500, dengan Nvidia turun sekitar 2% sebagai kontributor terbesar, sementara Amazon merosot sekitar 4%.
Saham sektor perangkat lunak juga kembali berada di bawah tekanan jual, dengan indeks software dan services S&P 500 turun ke level terendah sejak 7 April.
Lonjakan harga minyak serta komoditas lain seperti pupuk akibat perang Iran memicu kembali kekhawatiran inflasi dan mengurangi ekspektasi bahwa The Federal Reserve dan bank sentral lainnya memiliki ruang untuk menurunkan suku bunga.
Pelaku pasar uang kini tidak lagi memperkirakan adanya penurunan suku bunga oleh The Fed tahun ini, dibandingkan sebelumnya yang mengantisipasi dua kali pemangkasan sebelum konflik pecah.
CME FedWatch Tool bahkan kini memperkirakan sekitar 25% peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan The Fed pada Oktober.
Presiden The Fed Philadelphia, Anna Paulson, mengakui adanya risiko terhadap ekonomi akibat perang, namun tidak merinci implikasinya terhadap kebijakan moneter dalam jangka pendek.
Data terbaru juga menunjukan sentimen konsumen AS turun ke level terendah dalam tiga bulan pada Maret, meningkatkan kekhawatiran terhadap kondisi ekonomi akibat perang di Timur Tengah.
Eropa Ikut Ambruk
Aksi jual di pasar saham Eropa berlanjut pada Jumat setelah Trump memperpanjang penundaan serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Indeks pan-Eropa Stoxx 600 ditutup sementara turun 0,9%, dengan hampir seluruh sektor berada di zona merah. Indeks FTSE 100 ditutup mendekati stagnan, sementara CAC 40 turun 0,9% dan DAX melemah 1,3%.
Bursa Eropa melanjutkan penurunan dari sesi sebelumnya setelah ditutup melemah pada Kamis. Investor kesulitan membaca sinyal yang saling bertentangan terkait status pembicaraan damai di Timur Tengah.
Pada Kamis malam, Presiden Trump mengatakan akan memperpanjang penundaan serangan terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari hingga 6 April, guna memberi lebih banyak waktu untuk negosiasi.
Foto: CNBC
Bursa Eropa
Trump juga mengklaim bahwa Iran telah mengizinkan 10 kapal tanker minyak melintas di selat tersebut minggu ini sebagai "hadiah" untuk AS, meskipun Teheran belum memberikan komentar resmi.
Di sisi lain, pertemuan menteri luar negeri G7 di Prancis memasuki hari kedua pada Jumat. Perang di Iran dan Ukraina menjadi agenda utama, sementara Afrika Selatan yang awalnya dijadwalkan hadir sebagai pengamat menyatakan bahwa Prancis menarik undangannya setelah AS mengancam akan memboikot.
(mae/mae)
Addsource on Google
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)



:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5277129/original/053973300_1751984892-persib.jpeg)



:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5416895/original/041798400_1763475083-20251118BL_Timnas_Indonesia_Vs_Mali-1.JPG)



