Jakarta, CNBC Indonesia - Sejumlah pejabat Gedung Putih dilaporkan terkejut saat membaca pemberitaan media Israel belakangan ini yang mengeklaim bahwa Presiden Donald Trump akan menjamu Perdana Menteri (PM) Benjamin Netanyahu pada hari Senin. Pasalnya, fakta yang terjadi di lapangan justru menunjukkan bahwa tidak ada agenda pertemuan yang pernah dijadwalkan di antara kedua pemimpin tersebut.
Mengutip laporan Axios, Jumat (17/7/2026), keretakan diplomatik ini mencuat setelah Netanyahu secara agresif mencoba mendapatkan jadwal pertemuan resmi selama lebih dari dua pekan terakhir. Padahal, Netanyahu sebelumnya tercatat telah mengunjungi Ruang Oval sebanyak enam kali sejak Trump kembali menjabat satu setengah tahun lalu-menjadikannya pemimpin dunia yang paling sering bertemu Trump, di mana setiap pertemuan sebelumnya selalu berhasil dijadwalkan hanya dalam hitungan jam atau hari.
Sikap dingin Trump yang enggan terburu-buru tampil di depan kamera bersama Netanyahu menjadi sinyal kuat adanya perbedaan kepentingan yang tajam di antara keduanya. Hal ini juga mencerminkan betapa kecewanya pihak Gedung Putih terhadap sang pemimpin Israel, tepat lima bulan setelah kedua negara tersebut bersama-sama meluncurkan operasi perang.
Awal bulan ini, Trump sempat menyatakan bahwa Netanyahu menelepon untuk mengucapkan selamat atas Hari Kemerdekaan ke-250 AS dan meminta izin untuk berkunjung ke Gedung Putih. Saat itu, Trump mengisyaratkan bahwa kunjungan bisa dilakukan tepat setelah dirinya kembali dari KTT NATO di Ankara, Turki, yang berlangsung pada tanggal 7-8 Juli lalu. Namun, seiring berjalannya waktu dan kembalinya Trump dari KTT tersebut, kepastian agenda pertemuan tidak kunjung terwujud.
Ketidakpastian ini diperparah setelah munculnya kabar duka atas meninggalnya mantan Senator Lindsey Graham pada hari Minggu. Kantor Netanyahu langsung mengumumkan kepada awak media bahwa sang Perdana Menteri ingin menghadiri pemakaman tersebut, sekaligus berencana terbang ke AS akhir pekan ini untuk menemui Trump pada hari Senin. Pihak infanteri udara bahkan telah diperintahkan untuk menyiapkan pesawat kepresidenan, lengkap dengan tim pendahulu protokol keamanan yang dikirim langsung ke Washington.
Namun, secara mendadak pada hari Kamis pagi, kantor Netanyahu mengumumkan pembatalan total rencana perjalanan tersebut dengan dalih prosesi pemakaman Lindsey Graham ditunda. Pejabat Gedung Putih membeberkan bahwa pembatalan ini terjadi lantaran konfirmasi pertemuan dari pihak Trump memang tidak pernah ada.
"Kesan kami adalah Bibi (Netanyahu) mencoba memaksakan agar pertemuan itu terjadi," kata salah satu pejabat Gedung Putih.
Di balik layar, beberapa pejabat Israel menilai keputusan Netanyahu untuk membatalkan perjalanannya juga dipicu oleh kalkulasi taktis militer. Ia menduga bahwa AS tengah bersiap untuk meningkatkan intensitas serangan ke Iran, sehingga Netanyahu memilih untuk tetap berada di dalam negeri guna mengantisipasi jika Iran melancarkan aksi balas dendam langsung terhadap Israel.
Ketegangan di antara kedua sekutu ini juga dipicu oleh langkah Netanyahu yang tampil di Fox News tepat sebelum Trump bertolak ke Ankara, di mana ia secara terbuka mengkritik niat Presiden AS untuk menjual jet tempur siluman F-35 kepada Turki. Wawancara tersebut dilaporkan membuat Trump sangat naik pitam dan merasa Netanyahu sama sekali tidak memiliki hak untuk mencampuri urusan kebijakan luar negeri AS.
Selama kunjungan Trump ke Turki, Israel sempat menyodorkan data intelijen yang mengeklaim bahwa pejabat senior Iran memerintahkan rekannya untuk membunuh Presiden AS saat berada di Ankara. Data tersebut sempat membuat Secret Service memperketat pengamanan dan mengganti pesawat Trump dengan Air Force One versi lama. Namun, sejumlah pejabat AS kemudian menyatakan bahwa informasi intelijen tersebut bersifat tunggal dan tidak terkoroborasi.
"Itu lebih bersifat aspirasional daripada operasional," tutur salah satu pejabat AS lainnya.
Badan keamanan Turki yang melakukan investigasi mendalam di lapangan akhirnya menyimpulkan bahwa tidak ada plot atau rencana pembunuhan spesifik yang diarahkan kepada Trump selama berada di Ankara. Insiden intelijen ini semakin memperburuk citra Netanyahu yang kini sangat tidak populer di Washington, baik di kalangan Demokrat maupun di lingkaran inti Trump dan basis pendukung MAGA.
Banyak pejabat tinggi AS, termasuk Wakil Presiden JD Vance, menuduh Netanyahu kerap membuat prediksi keliru yang terlalu optimistis mengenai jalannya perang Iran yang tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan. Bentuk penolakan politik yang nyata terlihat pada hari Rabu ketika 103 anggota faksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat AS secara mengejutkan memilih untuk memotong bantuan militer senilai atau US$ 3 miliar (Rp 54,4 triliun) kepada Israel.
Pemotongan anggaran ini menjadi sebuah teguran keras yang menunjukkan penolakan masif terhadap pemerintahan Netanyahu. Tekanan tidak hanya datang dari oposisi, karena pada hari yang sama, Wapres JD Vance saat berbicara di siniar (podcast) Joe Rogan secara terang-terangan menuduh anggota pemerintahan Netanyahu sengaja merongrong kebijakan Iran milik pemerintahan Trump demi memperpanjang durasi perang.
(tps/sef/tps)
Addsource on Google
























:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5461718/original/089739600_1767433302-WhatsApp_Image_2026-01-03_at_15.59.48.jpeg)

:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5174417/original/068290200_1742926263-Timnas_Indonesia_vs_Bahrain-13.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5536828/original/015894100_1774345041-20260324IQ_Latihan_Timnas_Indonesia_FIFA_Series-3.jpg.jpeg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5378168/original/023047200_1760212331-562537073_18529363246047097_5022954532577445981_n__1_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5541724/original/004752700_1774880357-20260330IQ_Timnas_Indonesia_vs_Bulgaria-07.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124725/original/012562100_1738900750-Snapinst.app_469631839_1277354356876290_8996091991068552124_n_1080.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392662/original/015477500_1761480498-570444906_17988467495902645_8612739450593707224_n.jpg)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5539719/original/000758000_1774614739-Kep._Solomon_vs_Bulgaria-22.jpg)