Jakarta, CNBC Indonesia- 2026 disebut Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah sebagai tahun yang cukup berat bagi industri nikel Tanah Air.
Saat ini sektor nikel baik penambang maupun pengolahan/smelter nikel dihadapkan pada tantangan berlapis yang terkait pembiayaan, lonjakan biaya produksi hingga tekanan di Indonesia.
Dimana gejolak geopolitik global telah mengubah struktur biaya terkait lonjakan harga energi. Selain itu Smelter nikel HPAL (High Pressure Acid Leaching) yang membutuhkan bahan baku pendukung sulfur yang harganya melonjak tinggi.
Dari dalam negeri tantangan terkait kenaikan tarif royalti dan pemangkasan produksi nikel lewat kebijakan RKAB.
Seperti apa tantangan dan perkembangan industri nikel RI di tengah gejolak geopolitik global? Selengkapnya simak dialog Serliana Salsabila dengan Ketua Forum Industri Nikel Indonesia (FINI), Arif Perdana Kusumah dalam Closing Bell, CNBC Indonesia, (Jum'at, 29 Mei 2026)
Add
source on Google
































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4326913/original/079333100_1676563078-20231602IQ_Kongres_PSSI_39.jpg)


:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4780552/original/013117000_1711071915-20240321BL_Kualifikasi_Piala_Dunia_2026_Timnas_Indonesia_Vs_Vietnam_Stok_49.JPG)














