Wajah IHSG di Tengah Perang, Mengapa Kerap Jatuh Saat Iran Terlibat?

3 hours ago 1

Jakarta, CNBC Indonesia - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terjun dalam sejak serangan Amerika Serikat (AS)-Israel ke Iran, berbeda dibandingkan perang-perang sebelumnya.

Dari pola pergerakan pasar, terlihat bahwa IHSG cenderung mengalami tekanan yang lebih besar ketika konflik mulai melibatkan Iran. Hal ini tidak lepas dari posisi Iran yang sangat strategis dalam geopolitik energi global, khususnya terkait jalur distribusi minyak dunia.

Salah satu contohnya terjadi pada 13 Juni 2025, ketika terjadi eskalasi serangan yang melibatkan Iran di kawasan Timur Tengah. Pada periode tersebut, IHSG sempat terkoreksi sekitar 5,29% dalam waktu sepekan.

Penurunan ini mencerminkan meningkatnya kekhawatiran investor terhadap potensi gangguan pada pasokan energi global serta meningkatnya ketidakpastian di pasar keuangan internasional.

Tekanan yang lebih besar kembali terjadi pada 28 Februari 2026, ketika konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran semakin memanas. Dalam waktu sekitar satu minggu, IHSG terkoreksi sekitar 10%.

Koreksi ini menjadi salah satu penurunan mingguan paling dalam yang dipicu oleh sentimen geopolitik dalam beberapa tahun terakhir.

Alasan utama pasar bereaksi lebih keras kali ini bukan hanya karena konflik militer itu sendiri, tetapi karena lokasi konflik yang sangat dekat dengan Selat Hormuz.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur distribusi energi paling vital di dunia, di mana sekitar 20% pasokan minyak global melewati wilayah ini setiap harinya.

Ketika ketegangan meningkat di sekitar Selat Hormuz, pasar global langsung mengantisipasi kemungkinan gangguan terhadap distribusi minyak dunia. Kekhawatiran tersebut kemudian mendorong harga minyak melonjak tajam hingga menembus US$100 per barel.

Kenaikan harga energi ini berpotensi memicu tekanan inflasi global, meningkatkan biaya produksi di berbagai negara, serta memperbesar risiko perlambatan ekonomi dunia.

Dalam situasi seperti ini, investor global biasanya cenderung bersikap lebih hati-hati dan melakukan risk-off, yaitu mengurangi eksposur terhadap aset berisiko.

Salah satu dampaknya adalah keluarnya aliran dana dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, yang pada akhirnya memberikan tekanan tambahan terhadap IHSG.

Jika dibandingkan dengan konflik-konflik sebelumnya, dampak terhadap IHSG memang terlihat berbeda. Misalnya saat terjadi invasi Rusia ke Ukraina pada tahun 2022, IHSG hanya terkoreksi sekitar 1,5% dalam sepekan.

Bahkan ketika terjadi serangan Hamas ke Israel pada 7 Oktober 2023, IHSG justru masih mampu mencatatkan kenaikan tipis sekitar 0,74% dalam seminggu.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa pasar tidak selalu bereaksi sama terhadap setiap konflik geopolitik. Konflik yang dampaknya terbatas pada kawasan tertentu biasanya hanya memberikan tekanan sementara bagi pasar keuangan.

Namun ketika konflik tersebut menyentuh jalur distribusi energi global, seperti yang terjadi ketika Iran terlibat langsung, dampaknya bisa jauh lebih besar.

Dengan kata lain, eskalasi konflik yang terjadi saat ini dinilai lebih sensitif bagi pasar karena bukan hanya soal ketegangan geopolitik, tetapi juga menyangkut stabilitas pasokan energi dunia.

Selama risiko terhadap Selat Hormuz masih ada, volatilitas di pasar global, termasuk IHSG, berpotensi tetap tinggi.

(mae/mae)

Add as a preferred
source on Google
Read Entire Article
| | | |