Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
15 April 2026 12:05
Jakarta, CNBC Indonesia - Bank Indonesia (BI) terus berupaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal yang masih tinggi. Ketidakpastian global yang belum mereda membuat BI perlu menjaga agar aset rupiah tetap menarik di mata pelaku pasar.
Tekanan itu datang dari memanasnya geopolitik Timur Tengah setelah perang AS-Israel melawan Iran meletus pada akhir Februari 2026.
Kondisi ini membuat pelaku pasar global cenderung menghindari risiko atau risk-off, sehingga dana banyak keluar dari emerging markets, termasuk Indonesia, dan kembali masuk ke aset safe haven seperti dolar AS.
Akibatnya, rupiah ikut tertekan di tengah meningkatnya permintaan terhadap dolar AS. Dalam situasi ini, BI mendorong Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) sebagai instrumen untuk menjaga daya tarik aset rupiah, sekaligus menarik aliran modal masuk agar tekanan terhadap nilai tukar tidak makin dalam.
Direktur Eksekutif Informasi BI Ramdan Denny Prakoso mengatakan SRBI telah dilakukan beberapa penyempurnaan agar dapat menopang masuknya dana asing ke pasar surat berharga Indonesia.
"SRBI dilakukan beberapa penyempurnaan, sehingga diharapkan ada juga capital inflow yang masuk di pasar surat berharga Indonesia. Terutama juga bisa disupport oleh SRBI," ujarnya saat ditemui di Gedung DPR RI, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Senada, Gubernur BI Perry Warjiyo menegaskan peningkatan SRBI pada tahun ini dilakukan untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan stabilisasi nilai tukar rupiah, intervensi pasar, dan penahanan tekanan arus keluar modal.
"Oleh karena itu, kenapa sekarang untuk 2026 ini untuk SRBI mulai akan naik, agar kami harus juga balance keperluan stabilkan nilai tukar rupiah, intervensi, dan bagaimana outflow tidak terlalu buruk," kata Perry dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR, Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Jika dibandingkan antara awal 2026 dengan lelang terakhir pada 10 April 2026, terlihat bahwa imbal hasil SRBI pada seluruh tenor mengalami kenaikan cukup signifikan.
Untuk tenor 6 bulan, rata-rata tertimbang pemenang naik dari 4,80% pada lelang 1 Januari 2026 menjadi 5,49% pada 10 April 2026. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 69,52 basis poin (bps).
Pada tenor 9 bulan, rata-rata tertimbang pemenang meningkat dari 4,85% menjadi 5,62%. Dengan demikian, imbal hasil tenor ini naik sekitar 77,17 bps.
Sementara itu, tenor 12 bulan mencatat kenaikan paling besar. Rata-rata tertimbang pemenang naik dari 4,87% pada awal Januari menjadi 5,76% pada lelang terakhir 10 April 2026. Artinya, terjadi kenaikan sekitar 88,95 bps.
Kenaikan imbal hasil tersebut menunjukkan bahwa SRBI menjadi semakin menarik di tengah tekanan pasar global yang meningkat.
Namun, BI memastikan instrumen itu tidak akan membuat likuiditas di pasar keuangan domestik justru kering. Bank sentral menegaskan kondisi tersebut tetap bisa dikelola dengan memastikan pertumbuhan uang primer tetap terjaga di level dua digit, yakni di atas 10%.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5325898/original/063636000_1756043082-mu.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/792768/original/038925300_1420803645-000_DV1560744.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5310711/original/006695700_1754754744-1000625439.jpg)




:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5429811/original/069766600_1764645013-000_32U79NY.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5450746/original/023400300_1766159119-national-773x380.png)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5307862/original/009171400_1754487646-WhatsApp_Image_2025-08-06_at_20.27.15-2.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5102047/original/017122200_1737427568-safee-sali_30ea701.jpg)


