Elvan Widyatama, CNBC Indonesia
01 August 2026 18:15
Jakarta, CNBC Indonesia - Gempa kembali mengguncang Jepang dan memunculkan pertanyaan lama, apakah Negeri Matahari Tersebut tersebut semakin dekat dengan gempa besar yang selama ini diramalkan?
Gempa berkekuatan magnitudo 7,1 mengguncang Prefektur Kumamoto pada Selasa (28/7/2026). Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) mencatat kekuatannya sebesar 6,8, sedangkan Badan Meteorologi Jepang (JMA) melaporkan besaran gempanya di angka 7,1.
Jumlah korban meninggal pun telah mencapai sedikitnya 36 orang hingga Sabtu (1/8/2026). Sebagian korban ditemukan di pusat perbelanjaan Aeon Mall Kumamoto yang mengalami ledakan dan kerusakan, serta pabrik kertas di Yatsushiro setelah cerobongnya roboh. Sejumlah rumah dan bangunan lain juga runtuh.
Gempa terjadi pada kedalaman sekitar 10 kilometer sehingga guncangannya terasa sangat kuat di permukaan. Gelombang gempa susulan terus terjadi dan membuat proses pencarian semakin sulit, ditambah suhu udara yang melampaui 35 derajat Celsius.
Gempa tersebut kembali menghidupkan kecemasan masyarakat Jepang terhadap bencana yang jauh lebih besar.
Selama bertahun-tahun, Jepang telah bersiap menghadapi kemungkinan terjadinya gempa megathrust di Palung Nankai, meski tidak ada yang dapat memastikan kapan bencana itu akan datang.
Antara Ramalan dan Perhitungan Ilmiah
Di tengah ancaman nyata tersebut, batas antara ramalan dan perhitungan ilmiah sering menjadi perdebatan di tengah masyarakat Jepang.
Pada 2025, wisatawan dari sejumlah negara Asia membatalkan atau menunda perjalanan ke Jepang setelah beredar ramalan mengenai bencana besar pada Juli 2025. Ramalan itu dikaitkan dengan manga The Future I Saw, prediksi paranormal, hingga perhitungan ahli fengsui.
Badan Meteorologi Jepang pun membantah ramalan tersebut.
Kepala JMA saat itu menegaskan bahwa ilmu pengetahuan belum mampu memprediksi waktu, lokasi, dan kekuatan gempa secara tepat. Prediksi yang menyebut tanggal tertentu bahkan dinilai tidak memiliki dasar ilmiah.
Namun, tidak terbuktinya ramalan tersebut bukan berarti ancaman gempa besar di Jepang ikut mengecil.
Pemerintah Jepang memang memiliki perkiraan resmi mengenai gempa megathrust Palung Nankai. Perkiraan ini tidak menentukan tanggal kejadian, melainkan menghitung peluang berdasarkan riwayat gempa, pergerakan kerak bumi, dan tekanan yang terkumpul di pertemuan lempeng.
Pada September 2025, panel riset gempa Jepang memperbarui peluang terjadinya gempa besar Palung Nankai dalam 30 tahun ke depan menjadi sekitar 60%-90% atau lebih. Metode penghitungan lainnya menghasilkan kisaran 20%-50%.
Kedua kisaran tersebut menggunakan pendekatan yang berbeda dan sama-sama memiliki dasar ilmiah. Pemerintah memilih menekankan kisaran yang lebih tinggi untuk mendorong kesiapsiagaan masyarakat.
Perubahan angka itu juga tidak menunjukkan ancaman gempa tiba-tiba meningkat. Perbedaan tersebut memperlihatkan besarnya ketidakpastian dalam menghitung bencana yang waktu kejadiannya tidak dapat diketahui secara pasti.
Dalam skenario terburuk, pemerintah memperkirakan gempa Palung Nankai dapat menewaskan hampir 300.000 orang dan menimbulkan kerugian ekonomi sekitar 270,3 triliun yen.
Meski demikian, gempa Kumamoto belum dapat dianggap sebagai tanda bahwa gempa Palung Nankai akan segera terjadi. USGS menjelaskan gempa terbaru dipicu pergeseran mendatar pada patahan dangkal. Mekanismenya berbeda dengan megathrust Palung Nankai yang terbentuk ketika satu lempeng bergerak masuk ke bawah lempeng lainnya.
10 Tahun Terkahir: Lebih dari 1.000 Orang Tewas Akibat Gempa di Jepang
Seringnya gempa yang terjadi di Jepang membuat kekhawatiran terhadap bencana besar tidak pernah hilang.
Dalam satu dekade terakhir saja, berbagai gempa kuat telah mengguncang Jepang dan menelan banyak korban jiwa.
Data JMA yang dilansir dari Nippon.com menunjukkan Jepang mengalami 27 gempa dengan intensitas minimal 6 bawah (6-) sejak awal 2016 hingga Juli 2026. Jumlah tersebut mencakup gempa utama dan gempa susulan dalam satu rangkaian, termasuk gempa Kumamoto pada 2016.
Jepang mengukur kekuatan guncangan di suatu wilayah menggunakan skala intensitas seismik JMA dari 0 hingga 7. Skala ini berbeda dengan magnitudo yang mengukur energi dari pusat gempa. Satu gempa hanya memiliki satu nilai magnitudo, tetapi intensitas guncangannya dapat berbeda di setiap wilayah.
Pada intensitas 6-, seseorang akan kesulitan berdiri, sebagian besar perabot yang tidak terpasang dapat bergeser atau roboh, sementara pintu dan bangunan mulai mengalami kerusakan. Karena itu, batas 6- digunakan untuk menyaring gempa dengan guncangan yang sudah berpotensi menimbulkan kerusakan berat dan korban jiwa.
Dari rangkaian gempa tersebut, sejumlah kejadian paling mematikan telah merenggut sekitar 1.100 nyawa. Jumlah itu mencakup korban langsung serta korban yang meninggal akibat kondisi setelah bencana, seperti gangguan kesehatan dan buruknya situasi pengungsian.
Data tersebut juga memperlihatkan bahwa gempa paling mematikan tidak selalu menjadi gempa dengan magnitudo terbesar.
Gempa Hokkaido pada 2018 berkekuatan 6,7, tetapi menewaskan 44 orang. Sebanyak 36 korban meninggal akibat longsor dan runtuhan batu di Kota Atsuma.
Gempa Osaka pada tahun yang sama hanya berkekuatan 6,1. Namun, empat orang meninggal setelah tertimpa tembok dan benda berat, termasuk seorang anak yang tertimpa tembok sekolah.
Kondisi serupa terlihat dalam gempa Noto pada 2024. Sebagian besar korban langsung meninggal akibat tertimpa bangunan, sesak napas, hipotermia, kebakaran, longsor, dan tsunami. Ratusan korban lainnya meninggal setelah bencana akibat terputusnya listrik dan air, keterlambatan perawatan, tekanan psikologis, serta buruknya kondisi tempat pengungsian.
Mengapa Jepang Terus Diguncang Gempa?
Jepang berada di pertemuan empat lempeng tektonik dan menjadi bagian dari Cincin Api Pasifik, jalur sepanjang sekitar 40.000 kilometer yang menjadi lokasi sebagian besar gempa dan gunung api aktif dunia.
Lempeng-lempeng tersebut terus bergerak dan saling menekan. Gesekan menahan pergerakannya untuk sementara, tetapi tekanan terus terkumpul. Ketika batuan tidak lagi mampu menahan tekanan, energi dilepaskan dalam bentuk gempa.
Seperti melansir dari Reuters, Jepang dapat mengalami hingga 2.000 gempa yang dirasakan masyarakat disana setiap tahun. Gempa besar juga dapat berasal dari dua sumber berbeda, yakni pertemuan lempeng di dasar laut dan patahan aktif di daratan.
Risiko tersebut membuat Jepang telah menginvestasikan dana yang tidak sedikit untuk sistem peringatan dini, bangunan tahan gempa, jalur evakuasi, serta latihan kebencanaan sejak usia sekolah.
Aturan bangunan diperketat sejak dekade 1980-an dan kembali diperbaiki setelah Gempa Kobe pada 1995. Sebagian besar bangunan yang runtuh ketika itu dibangun sebelum aturan baru diterapkan.
Meski demikian, teknologi tidak dapat sepenuhnya menghapus korban. Gempa dangkal yang terjadi dekat permukiman masih dapat merobohkan bangunan tua, memicu longsor, merusak jaringan gas, dan memutus listrik serta air.
Di sinilah ramalan dan kondisi nyata perlu dipisahkan. Tidak ada ilmu yang dapat memastikan gempa akan terjadi pada hari tertentu. Namun, kondisi geologi dan pengalaman satu dekade terakhir menunjukkan bahwa ancamannya memang nyata.
Jepang tidak dapat mengetahui kapan gempa besar berikutnya datang. Namun hanya dapat memastikan masyarakat dan infrastrukturnya siap ketika tanah kembali berguncang.
CNBC INDONESIA RESEARCH
(evw/evw)



































:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5484120/original/030378900_1769413889-20260126AA_Konferensi_Pers_AFC_Futsal-06.JPG)




:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5515004/original/037978200_1772144090-IMG-20260226-WA0057.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5497017/original/075690000_1770613061-jay.jpg)


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/4846449/original/071327300_1716970316-083A1107.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/4936730/original/025851900_1725466519-1725444595272.JPG)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5393838/original/002135200_1761616295-SnapInsta.to_572361050_18431712469108400_6389749718744703427_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5184643/original/048516500_1744333162-488001811_993409769659603_1165058740409053021_n.jpg)
