3 Mantan Kiper Timnas Indonesia Berdarah Campuran: Dari Bule Medan hingga Anak Kolong

14 hours ago 5

Bola.com, Jakarta - Kini Timnas Indonesia memiliki dua kiper naturalisasi yang punya ikatan kuat dengan Nusantara. Namun Maarten Paes dan Emil Audero Mulyadi bukan lah yang pertama.

Maarten Paes tak lahir di Indonesia. Tapi dia bisa menjadi warganegara Indonesia lewat jalur blijvers berdasar tempat lahir sang nenek di Pare, Kabupaten Kediri. Berdasar regulasi FIFA soal naturalisasi pemain, cara ini sah dan legal.

Sementara Emil Audero, jika diamati nama belakangnya masih kental dengan idiom Indonesia. Emil Audero lahir di Mataram, NTB, dari ayah berkebangsaan Indonesia, Edy Mulyadi, dan ibu berkebangsaan Italia, Antonella Audero.

Ia pindah bersama keluarganya ke kampung halaman ibunya di Cumiana, Italia pada tahun 1998. Pada 10 Maret 2025, Audero resmi memperoleh kewarganegaraan Indonesia.

Timnas Indonesia yang sedang berjuang di putaran ketiga Kualifikasi ke Piala Dunia 2026 Zona Asia menggantungkan masa depan di tangan dan pundak keduanya juga Nadeo Argawinata serta Ernando Ari untuk lolos ke AS, Kanada, dan Meksiko tahun depan.

Di era 1980-an Timnas Indonesia juga pernah diperkuat tiga kiper yang lahir di Indonesia dengan aliran darah Indo melekat dalam mereka. Berikut tiga mantan penjaga gawang Timnas Indonesia jaman dulu.

Yuk gabung channel whatsapp Bola.com untuk mendapatkan berita-berita terbaru tentang Timnas Indonesia, BRI Liga 1, Liga Champions, Liga Inggris, Liga Italia, Liga Spanyol, bola voli, MotoGP, hingga bulutangkis. Klik di sini (JOIN)

1. Hermansyah Berdarah China

Kisah Hermansyah berhasil menembus Timnas Indonesia penuh perjuangan dan butuh proses panjang. Pria berpostur tinggi dan kekar ini lahir di Sukabumi, 17 Agustus 1963, atau tepat pada HUT Kemerdekaan Republik Indonesia Ke-18.

Hermansyah adalah anak kedua dari pasangan Hermawan dan Erin Sriwati. Ayahnya WNI keturunan Tionghoa. Jadi tak heran bila dia bermata sipit. Tapi, dia bersyukur sejak kecil tak pernah mendapat perlakuan diskriminatif dari teman bermainnya.

Sejak kelas 3 SD Hermansyah memang tertarik main bola. Awalnya di sebagai kiper. Postur jangkungnya, pria yang kini telah berusia 62 tahun itu ganti peran sebagai kiper. Kesukaannya main bola basket, membuat tangannya fasih menangkap bola dengan lengket.

"Waktu saya sangat mengidolai kiper Timnas Indonesia, Ronny Pasla. Saya bertekad ingin seperti beliau. Sampai-sampai saya buat baju kiper yang mirip dengan baju kiper Ronny Pasla yang serba hitam dari atas sampai bawah," katanya.

Saking ingin tampil seperti idolanya, Hermansyah membuat kostum atasnya dari kaos oblong putih berlengan panjang dicelup wanter warna hitam. "Kemudian, celananya saya pesan di tukang jahit, dan saya gunakan sarung tangan untuk orang kerja di perkebunan," ungkapnya.

Karir Hermansyah terus meningkat di usia dini. Ketika masuk jenjang SMP, dia lolos masuk tim Pekan Olahraga Pelajar Seluruh Sukabumi (Popsitar). Berikutnya terpilih tim Popsi Sukabumi. Dia satu-satunya dan orang pertama dari Sukabumi yang lolos tim Popsi Jabar untuk kejuaraan level Nasional di GBK pada 1979.

"Tampil kali pertama di GBK sangat berkesan. Selama ini saya hanya lihat GBK dari TV hitam putih di rumah. Dari event itu saya terpilih masuk Diklat Salatiga. Kemudian 1980 saya bersama Diklat Salatiga mengikuti turnamen di Arab Saudi dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Arab Saudi," ucapnya.

Kemudian dia pindah dari Diklat Diklat Salatiga ke Diklat Ragunan untuk memperkuat Timnas Pelajar di sejumlah kejuaraan Internasional. Salah satunya tampil di Kualifikasi Piala Dunia Junior (U-17) di Singapura. Selanjutnya pemain berbakat di ajang Kualifikasi Piala Dunia Junior ini digembleng di skuad PSSI Garuda 1 yang dilatih mendiang Drg. Endang Witarsa.

"Bersama PSSI Garuda 1, saya tampil di Turnamen Kings Cup di Thailand. Lawannya adalah Liverpool, Korsel, Australia, Thailand A dan B, Malaysia, Singapura, dan Filipina. Kami buat sejarah dengan mengalahkan Korea Selatan 1-0," ujarnya.

Sejak sukses di Thailand, Hermansyah menjadi kiper utama Timnas Indonesia di Piala Kemerdekaan, Piala Marah Halim, Merlion Cup, Piala Asia, hingga Kualifikasi Pra Piala Dunia 1986. "Saat itu saya paling muda dengan usia 20 tahun. Tahun 1986 adalah pencapaian tertinggi saya di Timnas Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia. Karena kami nyaris lolos ke putaran final di Meksiko jika tak dijegal Korsel," tuturnya.

Kehidupan keluarganya kental dengan budaya China dan Sunda. Hermansyah menyatakan kecil saya sering ke Klenteng. Tapi dia juga tinggal di lingkungan pesantren dan main dengan anak-anak beragama Islam. "Kelas 5 SD saya jadi mualaf. Saya kenal Islam karena saya sehari-hari main di rumah nenek saya yang muslim, rumahnya tidak jauh dari rumah orangtua," jelasnya.

2. Benny Van Breukelen Bule Medan

Darah Belanda sangat kental mengalir di tubuh pria bernama lengkap Benyamin Van Breukelen ini. Di usianya yang kini telah mencapai 61 tahun sisa garis wajah bule sangat tampak kuat.

Benny Van Breukelen lahir 4 Mei 1963 di Medan, Sumut. Dia adalah putra bungsu dari tujuh bersaudara keluarga Hainz Marinus Van Breukelen, keturunan Belanda.

Seperti Hermansyah, Benny pun mengawali karier sepak bolanya pada tahun 1976 atau ketika dia duduk di bangku Sekolah Dasar. Tetapi setelah bergabung dengan klub Perisai, ia akhirnya terpilih untuk bergabung dengan PSMS Medan pada kejuaraan Piala Suratin.

Pada saat itu pamornya kalah dari Eddy Harto yang kemudian menjadi kiper Arseto dan Timnas Indonesia. Namun ia tidak putus asa. Di bawah pelatih Halim Panggabean, Taufik Lubis, dan Eddy Simon, Benny bertambah matang.

Tahun 1983 ia hijrah ke Jakarta dan bergabung dengan klub PT Tempo. Pada saat itu dipilih oleh Sutan Harhara untuk mengawal gawang Tempo Utama. Dalam tahun itu juga, Agustus hingga Desember, ia bermain dengan PSSI Menjadi pelatih penjaga gawang di timnas u-19 dan u-23 sudah di rasakannya.

Hingga malang melintang di berbagai kesebelasan ternama di Indonesia seperti Arema, Persela, Persiba Bantul, Produta FC, PSPS Pekanbaru, Sragen United, PS Tira Persikabo hingga saat ini melatih Persebaya di Liga 1.

3. Erick Ibrahim Anak Kolong

Erick Ibrahim menjadi kiper keturunan termuda di bawah Hermansyah dan Benny Van Breukelen. Kini pria yang berusia 57 tahun itu jadi pelatih kiper di PSKC Cimahi pada kompetisi Liga 2.

Erick Ibrahim lahir di Bandung, 29 Mei 1967. Ayahnya bernama Johanes Pleket Ibrahim yang berasal dari Belanda. "Saya tak tahu riwayat papa bisa jadi TNI. Yang jelas sebagai anak kolong saya bangga punya orangtua pernah mengabdi untuk negara. Beliau yang menginspirasi saya menekuni sepakbola dengan misi juga mengabdi untuk negara di olahraga," katanya.

Garis wajah bule dan postur dari ayah ke Erick Ibrahim juga menetes ke anak-anaknya. Erick Ibrahim Junior yang punya postur tinggi saat ini jadi pebasket di klub Dewa United yang berkiprah di IBL.

Sementara Tristan Raissa Ibrahim mengikuti jejak sang ayah menjadi pesepakbola. Tristan Raissa juga tercatat sebagai pemain Dewa United FC. Tapi sayang dia batal membela Timnas Indonesia U-17 yang sedang berjuang di Piala Asia U-17 Arab Saudi yang ditangani Nova Arianto.

Di era 1990-an, Erick Ibrahim masuk deretan penjaga gawang tangguh. Kiper tangguh yang satu ini ikut mempersembahkan gelar juara bagi Timnas Merah Putih di SEA Games 1991 di Manila. Saat itu, ia masuk dalam skuat asuhan Anatoli Polosin yang berhasil mempersembahkan medali emas SEA Games terakhir sepak bola Indonesia hingga saat ini.

Erick Ibrahim yang saat itu termasuk penjaga gawang muda, berkolaborasi dengan kiper utama dan sarat pengalaman, Eddy harto. Erick sempat melakoni satu pertandingan, dan berkontribusi memberikan hasil memuaskan bagi Timnas Indonesia yang akhirnya pulang dengan medali emas.

"Saya mengawali karier di Persib Bandung pada 1983 hingga 1989. Kemudian saya mendapatkan kesempatan dipanggil Timnas Indonesia pada awal dekade 1990an. Saya langsung ikut SEA Games Manila dan meraih medali emas," ujarErick Ibrahim.

Selain Persib, Erick Ibrahim pernah bermain di BPD Jateng dan Gelora Dewata pada era kompetisi Galatama. Setelah penyatuan kompetisi eks Perserikatan dan Galatama, Erick Ibrahim pun melanglang antarklub seperti Persela, Persisam, hingga Persid Jember.

Erick Ibrahim tak akan melupakan laga persahabatan Internasional antara Persib kontra PSV Eindhoven pada Hari itu pada 11 Juni 1987. Persib sebagai jawara kompetisi PSSI level amatir Perserikatan menjadi salah satu lawan klub Eredivisie Belanda itu menjalani tur di Indonesia dan ke Bandung.

Semua bintang klub dengan julukan Boeren itu dibawa dan mereka adalah pilar PSV saat berjaya di Liga Belanda atau Eredivisie. Sebut saja kiper Hans van Breukelen, Ronald Koeman, Ruud Gullit, sampai pemain bintang asal Belgia, Eric Gerets. Eric Gerets itu adalah pilar PSV Eindhoven yang bermain di Piala Dunia 1990 bersama timnas Belgia.

Saat itu usia Erick Ibrahim belum genap 20 tahun dan baru naik ke tim senior Persib sebagai pemain magang. "Saya beruntung pada saat PSV datang lawan Persib. Saya jadi satu dari dua kiper Persib yang tersisa selain Wawan Hermawan," ujar Erick kepada Skor.id.

"Kala itu, kiper utama Persib adalah Sobur. Tetapi, Sobur tak boleh membela Persib melawan PSV karena dilarang PSSI. Timnas Indonesia butuh tenaga Sobur jadi dilarang pulang membela Persib. Saya pun ketiban sampur naik jadi kiper cadangan," tuturnya.

Pertandingan pun berlangsung di Stadion Siliwangi dan disaksikan banyak penonton serta tentunya PSV menguasai permainan. Babak pertama selesai, Persib sudah kebobolan tiga gol dan Wawan meminta diganti dengan alasan cedera.

"Saya pun mau tak mau harus main, sempat degdegan sih tetapi lama-lama tak lagi memikirkan hal lain kecuali tampil semaksimal mungkin. Alhamdulillah, saya seperti Wawan di babak pertama kebobolan tiga kali," tuturnya.

Namun terlepas dari semua itu, mantan pelatih kiper Dewa United ini bangga karena berhadapan langsung dengan Ruud Gullit. Pemain dengan gaya rambut gimbal itu salah satu bintang tenar di dunia kala itu lalu setelah dari Bandung bawa Belanda juara dan kemudian gabung AC Milan untuk menguasai Eropa.

Read Entire Article
| | | |