Jakarta, CNBC Indonesia - Paparan bahan kimia bisfenol A (BPA) dalam jumlah sangat rendah sebelum kelahiran ternyata bisa memicu perubahan permanen pada metabolisme, sistem kekebalan, dan risiko penyakit, dengan dampak berbeda pada laki-laki dan perempuan.
Penelitian berjudul "Paparan bisphenol A dosis rendah selama perkembangan menyebabkan maskulinisasi transkriptom perempuan yang luas dan feminisasi laki-laki di kemudian hari" itu menunjukkan bahwa paparan BPA, bahkan dalam dosis sangat kecil, mampu mengubah aktivitas gen dalam jangka panjang.
Sekedar informasi, BPA merupakan bahan kimia buatan yang memiliki efek menyerupai hormon estrogen dan banyak digunakan dalam kemasan makanan. Meski telah dilarang pada berbagai produk, zat ini masih ditemukan dalam beberapa jenis kemasan. Sejumlah pengukuran menunjukkan kadar BPA pada banyak orang melampaui batas yang dianggap aman, sementara penelitian sebelumnya telah mengaitkannya dengan berbagai gangguan kesehatan.
Temuan ini berasal dari studi terbaru terhadap tikus yang terpapar BPA sejak masa janin. Pada tikus betina, para peneliti menemukan pola ekspresi gen yang biasanya terkait dengan jantan. Sebaliknya, tikus jantan justru menunjukkan pola yang lebih umum ditemukan pada betina.
Perubahan tersebut dikaitkan dengan kondisi biologis yang berbeda pada tiap jenis kelamin. Tikus betina cenderung bergerak menuju kondisi yang menyerupai kanker, sedangkan tikus jantan menunjukkan tanda-tanda menuju sindrom metabolik, kondisi yang berkaitan dengan peningkatan risiko diabetes dan penyakit jantung.
Dalam studi tersebut, peneliti meneliti dampak BPA selama tahap janin dengan memberi air minum yang mengandung BPA pada tikus bunting. Dua tingkat paparan diuji, yakni dosis yang setara dengan paparan harian manusia pada umumnya sebesar 0,5 mikrogram per kilogram berat badan per hari, serta dosis lebih tinggi sebesar 50 mikrogram per kilogram berat badan per hari yang pada 2015 masih dianggap aman.
"Kami melihat efek yang bertahan hingga tikus dewasa," kata Thomas Lind, penulis utama penelitian tersebut, dikutip dari SciTechDaily, Jumat (13/2/2026).
"Bahkan dosis yang sangat rendah mengubah cara gen diekspresikan. Betina menjadi lebih maskulin, dan jantan menjadi lebih feminin. Kedua jenis kelamin mengalami perubahan metabolik, betina bergerak menuju kondisi menyerupai kanker, sementara jantan menunjukkan tanda-tanda menuju sindrom metabolik, yang dapat meningkatkan risiko diabetes dan penyakit jantung," imbuhnya.
Kaitan BPA dengan PCOS
Penelitian ini juga menemukan dampak pada sistem kekebalan tubuh. Aktivitas sel T meningkat pada tikus jantan, namun menurun pada tikus betina. Temuan tersebut menguatkan studi sebelumnya yang menunjukkan sel imun tersebut terlibat dalam perubahan akibat paparan BPA.
Analisis penanda darah juga mengungkap perubahan yang spesifik berdasarkan jenis kelamin. Pada tikus jantan, ditemukan gangguan profil lipid disertai tanda peningkatan metabolisme dan aktivitas berlebih terkait tiroid. Sementara pada tikus betina, terlihat penurunan kadar glukosa, peningkatan insulin, serta tanda aktivitas testosteron yang lebih tinggi, pola yang menyerupai sindrom ovarium polikistik (PCOS).
Penulis utama studi, Thomas Lind, menyatakan bahwa temuan ini memperkuat hasil penelitian pada manusia yang menunjukkan perempuan dengan PCOS memiliki kadar BPA lebih tinggi dalam darah. Kondisi tersebut berkorelasi dengan peningkatan pengaruh hormon seks laki-laki serta penurunan kesuburan.
Secara keseluruhan, hasil penelitian menunjukkan bahwa pengurangan penggunaan BPA dalam kemasan makanan berpotensi menekan risiko kesehatan di masa depan.
Temuan ini juga mendukung keputusan Otoritas Keamanan Pangan Eropa yang telah menurunkan secara drastis batas asupan harian BPA yang dapat ditoleransi, yakni menjadi 0,2 nanogram per kilogram berat badan per hari.
(dem/dem)
[Gambas:Video CNBC]
































:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5392922/original/058076400_1761535740-ATK_Bolanet_BRI_Super_League_2025_26_Persib_vs_Persis_Solo.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5395563/original/063153100_1761711808-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_BIG_MATCH__2_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5383180/original/082158500_1760632502-Azrul_Ananda___Robertino_Pugliara__dok_Persebaya_.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5317021/original/038490300_1755266531-SaveClip.App_533385198_17850905229531514_3419499828321647333_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5347461/original/084430700_1757672387-547847842_18531923638014746_4748068569041253567_n.jpg)

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5425495/original/012212500_1764228894-ATK_Bolanet_BRI_SUPER_LEAGUE_JADWAL__4_.jpg)









:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5341963/original/050096500_1757343075-Timnas_Indonesia_vs_Lebanon_-16.jpg)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,1125,20,0)/kly-media-production/medias/5048041/original/074776600_1734010897-20241212AA_Asean_Cup_2024_Indonesia_vs_Laos-17.JPG)
